KETIK, MALUKU UTARA – Sebanyak 57 warga Desa Peleri, Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, berinisiatif membuka akses jalan menuju kawasan perkebunan di Kilometer 17 secara swadaya.
Bersama kelompok tani, masyarakat mengumpulkan dana secara mandiri. Dana tersebut digunakan untuk menyewa ekskavator guna membuka jalur yang selama ini dibutuhkan petani untuk mengakses lahan perkebunan.
Langkah tersebut dilakukan karena akses menuju kawasan pertanian memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas warga, mulai dari membawa kebutuhan produksi hingga mengangkut komoditas setelah panen.
Ketua Kelompok Tani Desa Peleri, Isnen Tomagola, mengatakan inisiatif mandiri itu diambil karena kebutuhan terhadap jalur produksi pertanian belum terpenuhi. Upaya kolektif tersebut sekaligus menjadi bentuk permohonan dukungan kepada pemerintah provinsi.
“Sekarang kami sudah patungan menyewa alat berat ekskavator untuk membuka akses jalan. Kami berharap ada perhatian dari Ibu Gubernur Sherly Tjoanda dan Bapak Wakil Gubernur Sarbin Sehe,” ujar Isnen dalam keterangan tertulis, Rabu 2 September 2026.
Baca Juga:
PN Soasio Tutup Jalan Praperadilan Dua Pengacara Maluku UtaraBagi masyarakat Peleri, keberadaan jalan tani berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari di kawasan perkebunan. Jalur tersebut digunakan petani untuk menuju lahan, sekaligus mengangkut air, pupuk, bibit, dan berbagai perlengkapan pertanian.
Saat musim panen, jalur yang sama menjadi akses utama untuk membawa komoditas dari kawasan perkebunan ke permukiman.
Isnen menyebut jalur tersebut sebagai urat nadi aktivitas pertanian masyarakat Peleri. Kondisi jalan yang buruk menyebabkan distribusi komoditas dari lahan produksi ke kampung terhambat.
“Jalan menjadi penghubung antara kebun dan permukiman. Tanpa akses yang memadai, pengangkutan hasil kebun menjadi lebih sulit, terutama ketika warga harus membawa hasil panen dalam jumlah besar,” ujarnya.
Baca Juga:
Belanja Pegawai Halmahera Selatan Naik Rp45,4 Miliar, Ini yang Jadi PemicunyaKelompok tani di Desa Peleri baru terbentuk sekitar dua bulan lalu. Dalam waktu relatif singkat, kelompok tersebut mulai menghimpun kekuatan masyarakat melalui kegiatan gotong royong dan kontribusi bersama.
Dari hasil swadaya, kas kelompok kini mencapai sekitar Rp20 juta. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung pembukaan dan pelebaran jalur bagi petani.
Sebagian dana lainnya disimpan sebagai tabungan kelompok untuk mendukung kegiatan sosial serta menjaga keberlanjutan semangat gotong royong masyarakat.
Namun, kemampuan warga tetap terbatas. Pengoperasian ekskavator, pembukaan jalur, hingga pembangunan ruas jalan yang lebih layak membutuhkan biaya yang lebih besar.
Karena itu, masyarakat meminta pemerintah daerah turut berperan dalam meningkatkan kualitas jalan tani di Kilometer 17.
Selain mendukung kegiatan pertanian, jalur tersebut juga dinilai penting dalam menghadapi situasi darurat. Isnen mengatakan kelompok tani bersama masyarakat pernah terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau.
Jalur yang terbuka memudahkan mobilitas warga menuju lokasi kebakaran, termasuk untuk membawa air dan perlengkapan yang diperlukan. Akses yang lebih baik juga dinilai dapat mempercepat pergerakan masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat.
Atas kondisi tersebut, masyarakat Peleri berharap Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dapat meninjau langsung kebutuhan pembangunan jalan tani di Kilometer 17.
Permintaan tersebut secara khusus ditujukan kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Wakil Gubernur Sarbin Sehe, serta Bupati Halmahera Utara.
Warga telah memulai pekerjaan dengan kemampuan sendiri melalui pengumpulan dana, penyewaan alat berat, dan kegiatan gotong royong untuk membuka jalur.
Mereka berharap upaya swadaya tersebut dapat dilanjutkan melalui dukungan pemerintah sehingga Kilometer 17 memiliki jalan tani yang lebih layak dan aman untuk menunjang kegiatan pertanian dalam jangka panjang.