KETIK, MALANG – Puluhan jam siaran tanpa henti menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan aspirasi, gagasan, serta karya kreatif. Melalui ajang bertajuk 28 Jam Pemuda Bicara: Indonesian Youth Talkathon, kegiatan tersebut digelar dua hari pada 27 hingga 28 Oktober 2026 di CW Coffee dan Eatery, Jalan Raya Tlogomas Kota Malang.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh kolaborasi antara PT Inspirasi Teknologi Media (Intime), Yayasan Pengembangan Pendidikan Insan Pancasilais (YPPIP), dan program penyiaran NgehPod dengan mengusung tema "Merajut Ekosistem Kreatif di Era Digital". Rangkaian acara dikemas secara dinamis dan dipadukan dengan berbagai kegiatan seperti pertunjukan musik, pembuatan mural, serta drama teatrikal yang disiarkan secara langsung selama 28 jam non stop.
Sejumlah narasumber dan artis turut memeriahkan kegiatan diantaranya Juneka Subaihul Mufid, Yunida Paramita, perwakilan komunitas mahasiswa, pegiat lingkungan, serta para pelaku usaha kreatif. Penyanyi Ninaya yang juga finalis Indonesian Idol XIV, juga turut tampil bersama para musisi dan pegiat seni Malang Raya.
Direktur YPPIP Andreas Sudibjo menuturkan, kegiatan ini lahir dari keresahan atas peringatan Sumpah Pemuda yang kerap berhenti pada aksi seremoni tahunan. Menurutnya, anak muda membutuhkan ruang nyata untuk menyampaikan persoalan, pengalaman, dan potensi yang mereka miliki.
"Tujuan utamanya adalah mengangkat tema Sumpah Pemuda. Kami melihat selama beberapa tahun terakhir, gaungnya terkadang hanya sebatas upacara seremonial. Padahal, anak-anak muda perlu diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi dan berbicara tentang siapa mereka," jelasnya.
Baca Juga:
Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Videotron Balai Kota Malang Malah Tayangkan Capaian KabinetMeski media sosial telah menjadi sarana berekspresi, ruang digital tersebut harus diimbangi dengan wadah yang mendorong penyampaian gagasan secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat. Terlebih, kontribusi anak muda tidak sebatas pada isu politik, melainkan juga merambah bidang lingkungan hingga pengembangan ekonomi kreatif.
"Kami ingin memberikan panggung kepada anak-anak muda, yang mungkin selama ini belum memiliki wadah untuk berbicara. Mereka punya gaya dan cara berekspresi masing-masing, tetapi kami ingin aspirasi yang disampaikan juga memiliki isi dan manfaat," ungkapnya.
Sementara itu, Project Director Intime Media, Yos Setiawan, mengapresiasi sambutan hangat dan keterbukaan komunitas lokal di Kota Malang. Keberagaman latar belakang mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah yang sedang menempuh pendidikan di Malang, dinilai menjadi peluang emas untuk mempertemukan beragam gagasan.
"Kami memiliki misi memberikan panggung, agar para pemuda terutama di Malang mempunyai wadah untuk berbicara lebih dalam. Harapannya, konsep 28 Jam Pemuda Bicara ini ke depannya dapat dikembangkan di kota-kota lain, sehingga makin banyak generasi muda memperoleh kesempatan untuk bersuara dan berkarya," pungkasnya.