KETIK, JAKARTA – Jawa Timur menunjukkan kiprahnya dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional. Sebanyak 22 tim asal Jatim berhasil melaju ke babak final.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, 22 tim tersebut terdiri dari 9 tim jenjang SMA/MA dan 13 tim dari SMP/MTs.
"Capaian ini tidak lepas dari proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap sejak seleksi awal. Tahun ini, lebih dari 4.000 siswa di Jawa Timur mengikuti proses seleksi untuk menjadi bagian dari kontingen OPSI," katanya.
"Namun, yang lolos dan melakukan penelitian adalah 1.154," lanjutnya.
Ia mengatakan, jumlah ini, kata Aries, termasuk terbanyak di Indonesia. Walaupun antusiasme cukup tinggi, namun hanya 22 tim yang dinyatakan lolos final OPSI.
Baca Juga:
Fakultas Syariah UIN Maliki Malang Gelar Ekspos dan Evaluasi Hasil Tracer StudyPada kesempatan tersebut, tim dan kontingen Jawa Timur didampingi oleh Dr. Eko Redjo Sunariyanto yang juga Kacabdin Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang, kemudian Erwan Tjahjono selaku Kacabdin Pendidikan Wilayah Pasuruan serta Dian Pemilu Sari selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Tulungagung.
Oleh karena itu, dirinya mengaku rajin melakukan pendampingan kepada mereka. Mulai dari bagaimana cara menerapkan jenis penelitian hingga cara presentasi.
"Anak-anak ini tidak hanya kita siapkan untuk mengikuti lomba, tetapi juga kita dorong agar mampu menghasilkan penelitian yang menjawab persoalan di lingkungan sekitar," ujar Aries.
"Berbagai inovasi pun dibawa para siswa Jatim ke tingkat nasional. Salah satunya berasal dari siswa SMA Negeri 5 Surabaya yang memanfaatkan eceng gondok untuk membantu mengolah air tercemar di Kota Pahlawan," kata Aries.
Baca Juga:
Sambut Mahasiswa Baru, Unisma Kenalkan 17 SDGs dan Pengabdian MasyarakatEceng gondok tersebut diekstrak dan diolah menjadi serbuk penyaring. Inovasi ini sekaligus mencoba menjawab dua persoalan, yakni keberadaan eceng gondok sebagai gulma dan kebutuhan terhadap air yang lebih bersih.
Inovasi lainnya dikembangkan siswa SMP Al Falah Darussalam Sidoarjo. Mereka menciptakan alat penjejak atau pendeteksi korban bencana, yang masih bernafas dengan memanfaatkan sensor seismik.
"Siswa ini terinspirasi dari bencana gedung ambruk Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo beberapa waktu lalu," ucap dia.
Kadindik Jatim berharap para siswa yang sudah mendapatkan pengalaman di OPSI ini bisa menularkan semangat penelitian dan inovasi kepada adik-adik kelasnya.
Sebagai informasi, OPSI ini merupakan salah satu ajang strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dalam pembinaan dan pengembangan talenta murid.
Pada tahun 2026 ini, peserta OPSI diikuti oleh 39.300 murid di Indonesia. Jumlah ini meningkat dibandingkan dari tahun 2025 lalu yang hanya 26.723 murid. (*)