KETIK, BANGKALAN – Sebanyak delapan mahasiswa Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan mendapat kesempatan mengikuti program KKN Internasional di Selangor, Malaysia.
Delapan mahasiswa tersebut terdiri dari enam mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, satu mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, dan satu mahasiswa Program Studi Hukum.
Program yang berlangsung selama satu bulan itu menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan sekaligus mendapatkan pengalaman akademik dan sosial di lingkungan internasional. Mereka tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan lembaga pendidikan di Malaysia.
Salah satu peserta program tersebut adalah Ifadatur Raudloh, putri pertama pasangan Lora Hasan Iroqi dan Nyai Halimatus Sakdiyah.
Sebelum KKN di Malaysia, Ifadatur turut terlibat dalam kegiatan pembelajaran di sejumlah lembaga pendidikan. Di antaranya membantu proses belajar mengajar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kramat dan MI Awwaliyah Madrasah Thoriqul Muhtadin, Kramat, Ujungpiring Bangkalan.
Keikutsertaan putrinya dalam program tersebut mendapat sambutan positif dari keluarga. Hasan Iroqi mengaku bersyukur sekaligus bangga karena Ifadatur memperoleh kesempatan untuk menimba pengalaman di luar negeri.
Menurut Hasan, pengalaman internasional tidak hanya memberikan manfaat dari sisi akademik. Mahasiswa juga dapat belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami kehidupan sosial masyarakat yang berbeda, serta mengembangkan kemampuan komunikasi dan kemandirian.
“Sebagai seorang ayah, saya sangat bersyukur dan bangga. Semoga program ini terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi mahasiswa serta dunia pendidikan,” ungkapnya.
Hasan Iroqi berharap program KKN Internasional tersebut dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, semakin banyak mahasiswa memperoleh kesempatan mendapatkan pengalaman di luar negeri, semakin luas pula ruang bagi mereka untuk mengembangkan kompetensi dan wawasan.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman perjalanan ke luar negeri, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa yang lebih mandiri, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia pendidikan serta masyarakat yang semakin terbuka.
Dosen pembimbing KKN Internasional INSYA Bangkalan, Lora Musawwir, menjelaskan bahwa program tersebut telah berjalan selama tiga tahun dan kini memasuki angkatan ketiga.
Menurutnya, mahasiswa yang diberangkatkan merupakan peserta yang telah melalui proses seleksi. Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam seleksi adalah kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Selain kemampuan bahasa, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai kondisi sosial dan budaya kedua negara. Hal itu dinilai penting agar peserta mampu beradaptasi dan menjalankan kegiatan pengabdian secara baik selama berada di Malaysia.
Penempatan mahasiswa disesuaikan dengan lokasi yang telah ditentukan melalui koordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, dalam hal ini melalui Atase Pendidikan. Peserta umumnya ditempatkan di Sanggar Belajar (SB) yang tersebar di Kuala Lumpur dan wilayah sekitarnya.
Selain kegiatan pengabdian di lembaga pendidikan Malaysia. Delapan mahasiswa KKN Insya ini juga menjalankan pengabdian di Surau Syaichona Cholil yang dikelola oleh Aschol, komunitas alumni Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil Demangan yang ada di Malaysia.
Di lokasi tersebut, peserta terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari belajar mengajar hingga pengajian.
Mereka juga dijadwalkan berkunjung ke Ribath Al-Musawa sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan dan kerja sama yang telah terjalin melalui nota kesepahaman atau MoU.
Musawwir juga menjelaskan pada rangkaian penutupan dan penjemputan peserta, jajaran pimpinan INSYA Bangkalan juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Malaysia. Kegiatan tersebut sekaligus direncanakan menjadi momentum penandatanganan MoU kerja sama dengan Lincoln University Malaysia.
"Kunjungan itu akan dihadiri Ketua Senat R. KH. Nasich Aschal bersama Rektor INSYA Bangkalan Dr. Fera Andriani Jakfar, Lc., M.Pd.I., serta jajaran pimpinan lainnya," jelasnya Kamis 1 Oktober 2026.
Hal senada disampaikan Rektor INSYA Bangkalan, Dr. Fera Andriani Djakfar Musthafa, Lc., M.Pd.I., bahwa KKN Internasional merupakan salah satu bentuk internasionalisasi Tridharma Perguruan Tinggi.
Menurutnya, program tersebut dirancang untuk mematangkan kesiapan mahasiswa sebelum nantinya terjun langsung dalam pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mengimplementasikan visi dan misi institusi, tetapi juga diharapkan memiliki kepedulian terhadap persoalan global serta mampu memberikan kontribusi positif di tempat mereka menjalankan pengabdian.
Fera juga mengingatkan mahasiswa agar memahami karakter masyarakat Malaysia yang memiliki keragaman etnis dan budaya. Keragaman tersebut antara lain tercermin dari komunitas Melayu, Tionghoa, dan India.
Karena itu, mahasiswa diminta memperhatikan sejumlah kebiasaan sosial yang berlaku di Malaysia, termasuk kedisiplinan, ketertiban saat mengantre, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, serta penghargaan terhadap waktu.
Pemahaman terhadap lingkungan sosial tersebut menjadi penting karena mahasiswa tidak hanya berinteraksi dengan masyarakat setempat, tetapi juga akan bertemu dengan komunitas warga Indonesia yang tinggal di Malaysia.
“Mahasiswa diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun komunikasi yang baik, serta menjalankan pengabdian masyarakat dengan membawa nama baik INSYA Bangkalan,” ujar Fera. (*)
