KETIK, BANDUNG – Film Ibadah dan Cinta menjadi ruang refleksi bagi kader Fatayat NU se-Bandung Raya. Sekitar 40 kader dari Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat mengikuti nonton bareng (nobar) film tersebut, yang tidak hanya menghadirkan kisah percintaan, tetapi juga mengangkat persoalan keluarga, kehilangan, keikhlasan dan perjalanan spiritual.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Bandung Susanti mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum silaturahmi antarkader Fatayat NU di kawasan Bandung Raya. Namun, cerita yang disajikan Ibadah dan Cinta membuat kegiatan nobar memiliki makna lebih dari sekadar hiburan.
“Alhamdulillah pada hari ini kami bisa bersilaturahmi dengan PC Fatayat se-Bandung Raya. Ada sekitar 40 kader Fatayat dari Kabupaten Bandung, Cimahi dan KBB,” kata Susanti.
Film garapan sutradara Jastis Arimba tersebut resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Ceritanya mempertemukan Rico, pemuda yang hidup di Melbourne, dengan Santun, perempuan yang tumbuh di lingkungan pesantren dan merupakan putri seorang kiai. Pertemuan keduanya kemudian berkembang menjadi perjalanan tentang cinta, keluarga dan pencarian kembali makna iman.
Bagi Susanti, salah satu kekuatan film tersebut justru terletak pada penggambaran hubungan keluarga, terutama sosok ayah dan putrinya. Pesan tentang bagaimana seorang ayah mendidik anak perempuan agar memiliki prinsip dan mampu menjaga martabat menjadi bagian yang menurutnya relevan dengan kehidupan kader Fatayat.
“Yang banyak di-shot itu peran seorang ayah yang bisa mengikhlaskan dan mendidik putrinya menjadi seorang perempuan yang bisa menjaga marwahnya,” ujarnya.
Menurut Susanti, pesan tersebut menjadi semakin kuat karena film tidak hanya berbicara mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Di dalamnya terdapat persoalan bagaimana keluarga memberikan pendidikan nilai kepada anak, bagaimana seseorang menghadapi kehilangan dan bagaimana keikhlasan menjadi bagian dari perjalanan kehidupan.
Film Ibadah dan Cinta sendiri memang dibangun dengan latar kehidupan pesantren. Salah satu lokasi pengambilan gambar adalah Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, Bogor, Jawa Barat. NU Online mencatat film tersebut membawa pesan mengenai kehidupan pesantren, keteladanan, kehilangan, keikhlasan dan perjalanan menemukan kembali iman.
Kisah tersebut juga memiliki keterkaitan khusus dengan Fatayat NU. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum PP Fatayat NU periode 2022–2026, turut tampil dalam film sebagai istri Kiai Usman. Sementara Anggia Erma Rini, Dewan Pembina Fatayat NU, berperan sebagai dokter.
Bagi kader Fatayat yang mengikuti nobar, kehadiran Margaret menjadi bagian yang emosional. Susanti menyebut terdapat sosok-sosok yang memiliki kedekatan dengan perjalanan Fatayat NU dalam film tersebut.
“Alhamdulillah selain mengharukan karena ada orang-orang terkasih bagi kami di Fatayat NU, ceritanya pun tak kalah mengharukan dan banyak pesan moral dan pesan spiritual,” kata Susanti.
Keterlibatan Margaret juga menjadi salah satu penghubung antara film dengan pesan yang hendak dibangun. Dalam salah satu dialog film, karakter yang diperankan Margaret menyampaikan pesan kepada Rico mengenai bagaimana cinta semestinya diarahkan menjadi ibadah. NU Online mencatat pesan tersebut menjadi salah satu penguat gagasan utama film.
Di sisi lain, cerita film juga menempatkan persoalan kehilangan dan keikhlasan sebagai bagian penting perjalanan tokohnya. Sutradara Jastis Arimba sebelumnya menjelaskan bahwa kehilangan, baik karena seseorang pergi merantau maupun meninggal dunia, menjadi bagian dari proses manusia untuk belajar mengikhlaskan.
Bagi Susanti, pesan semacam itu membuat film relevan untuk ditonton bersama kader. Nilai yang dibawa tidak berhenti pada hubungan romantis, tetapi menyentuh relasi orang tua dan anak, pendidikan karakter perempuan serta bagaimana nilai agama diterapkan dalam kehidupan.
Nobar tersebut sekaligus mempertemukan kader Fatayat dari sejumlah daerah di Bandung Raya dalam suasana yang lebih cair. Silaturahmi berlangsung bersamaan dengan ruang refleksi melalui cerita yang ditampilkan di layar.
Susanti mengatakan, film tersebut meninggalkan pesan bahwa pendidikan seorang perempuan tidak hanya menyangkut kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter, keteguhan prinsip dan kemampuan menjaga martabat diri.
“Banyak pesan moral dan pesan spiritual yang bisa diambil dari film ini,” ujarnya.
Ibadah dan Cinta berdurasi sekitar 116 menit dan bergenre drama-romansa. Film produksi Sinemata Buana Kreasindo itu dibintangi antara lain Achmad Megantara, Indah Permatasari, Mathias Muchus, Elma Theana dan Adhin Abdul Hakim.
Bagi Fatayat NU Kabupaten Bandung, nobar tersebut akhirnya menjadi lebih dari agenda menonton film. Layar bioskop menjadi ruang untuk membaca kembali tentang keluarga, pendidikan perempuan, keikhlasan dan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.(*)
