KETIK, PROBOLINGGO – Ancaman paham ekstrem yang kian masif menyusup melalui media sosial mendorong Lakpesdam Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Paiton turun langsung ke sekolah, Selasa, 14 Juli 2026.
Melalui program Go to School, lembaga ini menggelar edukasi keagamaan di MAN 1 Probolinggo Putri dengan sasaran utama membentengi pelajar dari pengaruh radikalisme dan pemikiran yang menyimpang dari ajaran Islam moderat.
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton sekaligus sebagai pemateri, Ponirin Mika, menyatakan bahwa program mendatangi sekolah dan madrasah telah menjadi agenda tetap lembaganya.
"MWCNU Paiton melalui lembaga Lakpesdam memiliki program mendatangi sekolah dan madrasah untuk memberikan edukasi berkaitan dengan paham Aswaja an-Nahdliyah. Kita ingin pelajar selamat dari pemikiran ekstrem," tegasnya.
Pembina kegiatan, Masruroh, menambahkan bahwa pemahaman Aswaja an-Nahdliyah saat ini tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Baca Juga:
Top 5 Wilayah Terdingin di Jawa Timur, Bromo Sentuh 3,8 Derajat Celsius pada 14 Juli 2026"Pemahaman Aswaja an-Nahdliyah kepada pelajar sangat dibutuhkan, apalagi saat ini banyak paham-paham yang menyimpang dari ajaran Rasulullah saw," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswi mendapatkan pembekalan tentang ancaman nyata radikalisme di era digital.
Seperti konten provokatif yang mengkafirkan tradisi NU seperti tahlilan dan ziarah yang beredar di WhatsApp dan YouTube, rekrutmen anggota oleh kelompok radikal melalui grup Telegram dan Discord, hingga maraknya pengisi kajian tanpa latar belakang pesantren yang menyebarkan tafsir keliru dengan kemasan konten yang menarik.
Sebagai bekal menghadapi berbagai ancaman tersebut, para pelajar diperkenalkan secara mendalam dengan ajaran Aswaja an-Nahdliyah yang berlandaskan empat pilar utama: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i'tidal (tegak lurus dan adil), serta tasamuh (toleran).
Baca Juga:
Lapak Kue Pagi Bu Enggal di Taman Merjosari Sukses Rangkul Ratusan UMKM, Dagangan Selalu LudesMateri juga mencakup perbandingan antara ajaran NU dengan paham-paham lain seperti Wahabi ekstrem dan Hizbut Tahrir (HTI) agar pelajar mampu membedakan dan tidak mudah tersesat.
Para siswi didorong untuk aktif bergabung di organisasi IPNU dan IPPNU, menerapkan prinsip saring sebelum sharing dalam bermedia sosial, serta berani melaporkan konten radikalisasi kepada guru atau pihak berwenang jika menemukannya.(*)