Waspadai Informasi Kesehatan di Media Sosial, Testimoni Pribadi Bukan Bukti Ilmiah

Editor: Muhammad Faizin

17 Jan 2026 13:40

Thumbnail Waspadai Informasi Kesehatan di Media Sosial, Testimoni Pribadi Bukan Bukti Ilmiah
Ilustrasi media sosial. (Foto; dok ketik.co.id)

KETIK, YOGYAKARTA – Media sosial kini menjadi rujukan utama masyarakat untuk mencari informasi kesehatan. Beragam konten mudah ditemukan, mulai dari tips pola makan, klaim khasiat obat dan herbal, hingga saran pengobatan penyakit kronis. Namun, kemudahan tersebut menyimpan risiko serius karena tidak semua informasi kesehatan di media sosial sejalan dengan pedoman klinis dan bukti ilmiah.

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. apt. Zullies Ikawati, menegaskan bahwa banjir informasi kesehatan di ruang digital kerap menyesatkan dan berpotensi membahayakan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia bahkan sejak pandemi Covid-19 memperkenalkan istilah infodemic untuk menggambarkan kondisi ketika informasi fakta bercampur dengan opini dan hoaks.

“Hal ini tentu bisa menimbulkan kebingungan, mendorong perilaku berisiko, dan menurunkan kepercayaan pada otoritas kesehatan. Fenomena ini tidak berhenti setelah pandemi mereda, justru terus berlanjut dalam berbagai isu kesehatan sehari-hari,” ujar Zullies dikutip dari laman UGM, Sabtu, 17 Januari 2026. 

Zullies mengungkapkan proporsi misinformasi kesehatan di media sosial tergolong tinggi, terutama pada topik obat, vaksin, dan penyakit kronis. Sejumlah studi menunjukkan misinformasi pada isu rokok dan produk sejenis bisa mencapai 87 persen, vaksin sekitar 43 persen, penyakit sekitar 40 persen, dan tindakan medis sekitar 30 persen.

Baca Juga:
WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

“Pada isu vaksin, hampir separuh konten di beberapa platform mengandung misinformasi atau narasi yang tidak seimbang. Ini diperparah algoritma media sosial yang mengangkat konten sensasional dan menjanjikan hasil instan,” jelasnya.

Masalah tersebut juga tercermin dari data penanganan hoaks pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat hingga akhir 2023 telah menangani 12.547 isu hoaks, dengan tema kesehatan menempati posisi menonjol sebanyak 2.357 isu. Isu kesehatan kerap dimanfaatkan karena mudah memicu ketakutan dan emosi masyarakat.

Dari sisi produk kesehatan, tantangan semakin kompleks karena informasi sering bercampur dengan promosi. Zullies menyebut Badan Pengawas Obat dan Makanan secara rutin menemukan produk obat tradisional dan suplemen yang tidak memenuhi standar keamanan dan mutu. Sepanjang semester pertama 2025, BPOM menemukan lebih dari 79 ribu konten obat dan makanan ilegal di platform e-commerce.

“Fakta ini menegaskan bahwa informasi kesehatan di ruang digital tidak netral dan sering beririsan dengan kepentingan komersial,” katanya.

Baca Juga:
Waspada Hoaks! Arumi Bachsin Ingatkan Peran Ibu Jadi Garda Terdepan Awasi Gadget Anak

Zullies menekankan literasi kesehatan dan literasi digital sebagai kunci utama bagi masyarakat. Informasi kesehatan yang kredibel umumnya memiliki sumber jelas, disampaikan oleh pihak kompeten, menggunakan bahasa proporsional, serta menjelaskan manfaat dan risiko secara seimbang. Sebaliknya, klaim yang menjanjikan kesembuhan instan, aman untuk semua orang, atau tanpa efek samping patut dicurigai.

“Dalam dunia kesehatan, hampir tidak ada intervensi yang sepenuhnya bebas risiko,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk selalu memeriksa sumber informasi, identitas pembuat konten, dan konteks pesan sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Testimoni pribadi, menurutnya, bukan bukti ilmiah dan tidak bisa digeneralisasi untuk semua orang.

Zullies menambahkan bahwa regulasi sebenarnya sudah tersedia, baik melalui BPOM untuk promosi produk kesehatan maupun kebijakan komunikasi publik Kementerian Kesehatan. Namun, regulasi perlu diimbangi kesadaran publik dan tanggung jawab pembuat konten.

Dalam situasi ini, tenaga kesehatan dinilai memiliki peran strategis. Dokter, apoteker, dan akademisi perlu hadir aktif di media sosial untuk mengisi ruang informasi dengan edukasi yang akurat, mudah dipahami, dan empatik.

“Perannya bukan hanya membantah, tetapi mengisi ruang kosong informasi dengan penjelasan yang benar. Media sosial bukan untuk dimusuhi, tetapi juga tidak bisa dijadikan satu-satunya rujukan kebenaran,” pungkasnya. (*)

Baca Sebelumnya

INKAI Gelar Kejurprov 2026, Jadi Ajang Cari Atlet Berbakat Karate Taraf Internasional

Baca Selanjutnya

Musim Durian, Lapak di Selatan TMP Pacitan Laris Manis hingga 300 Buah per Hari

Tags:

infodemi infodemic media sosial informasi kesehatan di media sosial Hoaks misinformasi UGM

Berita lainnya oleh Muhammad Faizin

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

12 April 2026 11:40

WFH ASN Berpotensi Disalahgunakan dan Belum Tentu Hemat Anggaran

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

12 April 2026 11:00

WFH ASN Tidak Efektif Jika Tak Didukung Budaya Kerja Mandiri dan Sistem Pengawasan

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

12 April 2026 09:40

Mahasiswa UNEJ Ciptakan Insinerator Pengolah Sampah Jadi Listrik, Solusi Limbah dan Energi Terbarukan

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

12 April 2026 08:21

Adik Bupati Tulungagung Ikut Terjaring OTT KPK, Lolos Status Tersangka

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

11 April 2026 07:30

Sosok Ahmad Baharudin, Wabup yang Pernah Konflik Terbuka dengan Bupati Tulungagung

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

10 April 2026 06:40

BRIN Ungkap Objek Langit di Lampung-Banten Bekas Roket China, Pakar: Pengawasan Sampah Antariksa Harus Diperkuat

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar