KETIK, HALMAHERA SELATAN – Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin mendorong UMKM dan ekonomi kreatif daerah bergerak menuju knowledge-based economy dengan mengandalkan pengetahuan, inovasi, teknologi serta kekuatan agromaritim sebagai sumber penciptaan nilai baru.
Perubahan itu dinilai penting karena daya saing produk tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi dan menjual barang. Identitas, desain, mutu, teknologi hingga kekayaan intelektual kini menjadi bagian yang ikut menentukan posisi sebuah produk di pasar.
Helmi menyampaikan pandangan tersebut dalam sambutannya pada pengukuhan Dewan Pengurus Cabang Perkumpulan Srikandi Ekonomi Kreatif Indonesia (DPC Persikindo) Kabupaten Halmahera Selatan yang digelar di UMKM Bacan Selatan Senin, 2 November 2026. Dalam konsep ekonomi berbasis pengetahuan, kreativitas dan kemampuan mengolah informasi ditempatkan sebagai modal produktif yang dapat mengangkat komoditas lokal dari sekadar barang dagangan menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Arah tersebut, menurut Helmi, sejalan dengan agenda Asta Cita Presiden, khususnya poin ketiga dan keempat, serta visi pembangunan Halmahera Selatan yang menjadikan sektor agromaritim sebagai salah satu basis pertumbuhan daerah.
Ekonomi kreatif Halmahera Selatan, kata Helmi, tidak semestinya hanya berputar pada kuliner, fesyen dan kriya. Subsektor lain seperti seni pertunjukan, film, desain, produk berbasis budaya hingga konten digital juga mempunyai peluang untuk dikembangkan dan dipertemukan dengan pasar yang lebih luas.
Baca Juga:
Pendapatan Halmahera Selatan 2027 Naik 9,01 Persen, Transfer Berkontribusi 82,93 PersenKekayaan tradisi lokal dapat menjadi salah satu pintunya. Soya-Soya, Cakalele dan Bobango tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi dapat dikemas menjadi pertunjukan, film pendek, karya audiovisual maupun materi digital yang terhubung dengan industri pariwisata.
Dinas Pariwisata dan Dinas Perindagkop dinilai memiliki ruang untuk membangun kerja bersama dalam pengembangan tersebut. Nilai historis, filosofi dan identitas budaya dapat dipertemukan dengan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan akar tradisinya.
Dengan pola itu, kebudayaan tidak berhenti sebagai warisan yang dipertahankan secara simbolik. Tradisi juga dapat berkembang menjadi sumber aktivitas ekonomi dan membuka ruang penghidupan baru bagi masyarakat.
Batu Bacan hingga kekayaan gastronomi seperti Dabo-Dabo Lano pun mempunyai peluang serupa. Produk khas tersebut dapat diperkuat melalui identitas, standardisasi dan perlindungan agar memperoleh nilai tambah ketika memasuki pasar yang lebih luas.
Baca Juga:
Wabup Helmi Umar Muchsin Petakan Jalan Terjal Ekraf Halmahera SelatanHelmi menilai kemampuan membaca perubahan menjadi faktor penting dalam mengelola seluruh potensi tersebut. Sumber daya alam yang tersedia harus dipertemukan dengan pengetahuan dan perilaku pasar agar memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Halmahera Selatan.
Pesan itu ditegaskannya ketika menjelaskan hubungan antara perkembangan zaman, karakter masyarakat dan kekayaan agromaritim daerah.
"Sepanjang kita memahami perkembangan zaman, perilaku masyarakat, dan potensi sumber daya alam agromaritim yang kita miliki, kita akan mampu mengelolanya demi kemajuan ekonomi masyarakat Halmahera Selatan," pungkas Helmi.