Viral Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Serius bagi Ekosistem Sungai dan Kesehatan Lingkungan

Jurnalis: Fariha Al Jihan
Editor: Fisca Tanjung

20 Apr 2026 16:37

Thumbnail Viral Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Serius bagi Ekosistem Sungai dan Kesehatan Lingkungan
Gambar ikan sapu-sapu yang kini banyak ditemukan di perairan sungai di Jakarta. (Foto: Pinterest)

KETIK, SURABAYA – Viralnya kemunculan ikan sapu-sapu yang kian merajalela di Jakarta belakangan ini ramai diperbincangkan. Fenomena ini menarik perhatian masyarakat dan pemerintah karena dampaknya yang semakin meluas dan merugikan lingkungan.

Ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang berkembang pesat di perairan tercemar. Kondisi ini terjadi akibat minimnya predator alami serta kebiasaan manusia yang melepas ikan hias ke sungai.

Ikan sapu-sapu berasal bukan dari Indonesia, melainkan dari wilayah Amerika Selatan, khususnya dari Sungai Amazon. Awalnya, ikan ini populer sebagai ikan hias karena kemampuannya membersihkan akuarium. Namun, ketika dilepas ke alam bebas, ikan ini justru berkembang biak secara tidak terkendali dan menjadi ancaman bagi ekosistem lokal.

Keberadaan ikan sapu-sapu membawa dampak serius bagi ekosistem perairan. Kemampuannya bertahan di udara kotor dan rendahnya oksigen menjadikannya mendominasi habitat, sehingga bergeser dan mengancam keberlangsungan ikan-ikan lokal. Kondisi ini menyebabkan terganggunya rantai makanan serta menurunnya keanekaragaman hayati di sungai.

Baca Juga:
Bank Jatim Situbondo Serahkan CSR Mobil Ambulans dan Bibit Pohon Mahoni

Tak hanya mendominasi, ikan sapu-sapu juga merusak siklus kehidupan biota lain. Telur-telur ikan lokal kerap mengganggu bahkan dimakan, sehingga menghambat proses regenerasi dan mempercepat penurunan populasi spesies asli. Dampak ini memperparah ketidakseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.

Dari sisi lingkungan fisik, ikan sapu-sapu dikenal aktif menggali dasar sungai untuk berkembang biak. Aktivitas ini memicu erosi, merusak struktur bantaran, serta mengaduk sedimen yang dapat mempercepat pendangkalan sungai.

Dalam kondisi tertentu, hal ini meningkatkan risiko longsor di sekitar aliran sungai, terutama saat debit air meningkat.

Dampak ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Nelayan sungai kerap dirugikan karena ikan sapu-sapu tertangkap dalam jumlah besar namun tidak memiliki nilai jual tinggi. Selain itu, tubuhnya yang keras dan berduri sering merusak jaring serta alat tangkap tradisional, sehingga menambah biaya perawatan.

Baca Juga:
Dinas Pariwisata Banten Sabet Penghargaan Produsen Data Terbaik dalam Forum Satu Data Indonesia

Sementara itu, dari sisi kesehatan, ikan sapu-sapu tidak disarankan untuk dikonsumsi secara rutin. Lingkungan hidupnya yang tercemar membuat ikan ini berpotensi mengandung zat berbahaya seperti logam berat dan limbah kimia, yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Melihat berbagai dampak tersebut, upaya pengendalian terus dilakukan melalui penangkapan massal serta edukasi kepada masyarakat. Kesadaran untuk tidak melepaskan ikan hias ke perairan umum menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran lebih luas.

Tanpa penanganan yang serius, keberadaan ikan sapu-sapu berpotensi menjadi ancaman jangka panjang bagi kelestarian ekosistem sungai di Indonesia. (*)

Baca Sebelumnya

Meriah! Festival PAUD 2026 Solokuro Jadi Ajang Asah Kreativitas dan Keberanian Anak Usia Dini

Baca Selanjutnya

Cegah Kanker Serviks, 1.800 Perempuan Kota Malang Ikuti Pemeriksaan HPV DNA dan IVA Gratis

Tags:

##fenomenaViral ##ikanSapu-sapu ##merusakEkosistem ##kesehatanLingkungan ##ekosistemPerairan

Berita lainnya oleh Fariha Al Jihan

Viral Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Serius bagi Ekosistem Sungai dan Kesehatan Lingkungan

20 April 2026 16:37

Viral Ikan Sapu-Sapu, Ancaman Serius bagi Ekosistem Sungai dan Kesehatan Lingkungan

UPT PTKK Jatim Borong Dua Penghargaan Nasional! Gubernur Khofifah: Bukti Vokasi Jatim Siap Bersaing Global

20 April 2026 09:54

UPT PTKK Jatim Borong Dua Penghargaan Nasional! Gubernur Khofifah: Bukti Vokasi Jatim Siap Bersaing Global

50 Ribu Muslimat NU Jabar Gaungkan Perdamaian Dunia, Gubernur Khofifah Pimpin Seruan damai ke PBB

19 April 2026 11:44

50 Ribu Muslimat NU Jabar Gaungkan Perdamaian Dunia, Gubernur Khofifah Pimpin Seruan damai ke PBB

Plt Kadis ESDM Jatim Ditunjuk,  Gubernur Khofifah Tegaskan Hormati Proses Hukum dan Jamin Layanan Publik Tetap Optimal

18 April 2026 14:12

Plt Kadis ESDM Jatim Ditunjuk, Gubernur Khofifah Tegaskan Hormati Proses Hukum dan Jamin Layanan Publik Tetap Optimal

Soft & Chic: Tren Rambut Bondol ala Korean Look 2026

18 April 2026 02:15

Soft & Chic: Tren Rambut Bondol ala Korean Look 2026

Ozora Bongkar Luka Kekuasaan: Kisah Nyata Penganiayaan Brutal Kini Trending No.2 di Netflix

17 April 2026 12:30

Ozora Bongkar Luka Kekuasaan: Kisah Nyata Penganiayaan Brutal Kini Trending No.2 di Netflix

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Resmi! Pesona Gondanglegi 2026 di Kabupaten Malang Ditiadakan

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Penyegelan Pabrik Ayam di Jombang, Aktivis: Penindakan Harus Berlaku Sama, Jangan Ada Kepentingan Bisnis

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend

Begini Nasib Relawan SPPG Kebondalem Pacitan Usai Program MBG Disuspend