KETIK, BOJONEGORO – Dalam upaya memperkuat posisi Geopark Bojonegoro di kancah internasional, Vice President of UNESCO Global Geopark (UGGp) Prof. Ibrahim Komo, yang juga ahli geologi terkemuka asal Malaysia, bersama timnya, mengunjungi objek wisata geologi Kayangan Api Bojonegoro, Sabtu malam, 17 Januari 2026.
Kunjungan ini dilakukan bersama Bappeda Provinsi Jawa Timur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Forum Geopark Jatim yang didampingi langsung oleh Bappeda Bojonegoro dan Disbudpar Bojonegoro.
Kunjungan UGGp ini memberikan pengalaman visual maksimal terhadap fenomena api abadi Kayangan Api yang keluar dari perut bumi.
Prof. Ibrahim Komo mengamati secara langsung fakta geologi dan kestabilan aliran gas alam yang menjadi sumber api Kayangan Api. Objek wisata ini merupakan salah satu geosite unggulan dalam warisan geologi (geoheritage) Jawa Timur berbasis minyak dan gas.
Baca Juga:
Prakiraan BMKG 24 Maret 2026: Pasuruan dan Mojokerto Hujan Ringan, Bojonegoro dan Ngawi Berawan“Mendengar keterangan bahwa gas dapat habis itu tidak menjadi hambatan menuju UNESCO karena dalam menilai warisan geologi berkepentingan untuk bangsa. Daripada itu juga yang penting evolusi geologi yang mempunyai kepentingan antara bangsa,” ungkap Prof. Ibrahim.
Ia juga mengucapkan terima.kasih karena telah diundang untuk diperkenalkan dengan geosite lainnya di Kabupaten Bojonegoro.
Sementara itu, General Manager Geopark Bojonegoro Kusnandaka Tjatur Prasetijo menjelaskan bahwa Geopark Bojonegoro yang dimulai sejak tahun 2017 hingga saat ini telah banyak perkembangan. Meskipun harus melalui rintangan seperti wabah Covid-19.
Geopark Bojonegoro, kata dia, memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan geopark nasional lainnya, yaitu berbasis migas. Hal ini merupakan suatu tantangan karena sumber daya migas tidak seterusnya akan tersedia.
Baca Juga:
Uji Beton Mandiri Oknum LSM di Bojonegoro Dinilai Tak Berwewenang“Harapan kami terdapat masukan, evaluasi atau peguatan guna menuju persiapan UNESCO,” kata Kusnandaka. Acara dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama diiringi alunan musik gamelan jawa. (*)