KETIK, MALANG – Setiap peringatan Hari Kartini, publik Indonesia diajak kembali merefleksikan perjuangan perempuan dalam melawan ketidakadilan dan membangun kesetaraan. Refleksi tersebut tak hanya relevan pada sosok Raden Ajeng Kartini, melainkan juga pada bagaimana sejarah perempuan lain diceritakan.

Salah satu upaya reflektif tersebut datang dari Direktur Center for Culture & Frontier Studies (CCFS) Universitas Brawijaya, Desi Dwi Prianti, yang menginisiasi pembacaan ulang sosok Ken Dedes dalam perspektif yang lebih emansipatif.

Selama ini, Ken Dedes kerap hadir dalam narasi sejarah populer sebagai perempuan yang dikenal karena kecantikannya. Bahkan, dalam sejumlah cerita, ia tidak lepas dari unsur objektifikasi yang menempatkan perempuan semata sebagai objek pandang.

Desi menilai, cara pandang tersebut bertentangan dengan semangat emansipasi yang juga diperjuangkan Kartini.

Baca Juga:
Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unmer Malang Gelar Pengabdian untuk Anak TKI di Malaysia

“Selama ini Ken Dedes dikenal karena kecantikannya, bahkan dari cerita-cerita yang sangat objektifikatif. Ini tentu menjadi persoalan karena bisa mereproduksi pandangan yang tidak adil terhadap perempuan,” ujarnya.

Melalui CCFS UB, Desi dan tim mencoba membongkar pola lama itu dengan menghadirkan ulang kisah Ken Dedes dalam bentuk buku cerita anak. Pendekatan storytelling dipilih sebagai strategi untuk menanamkan nilai sejak dini—sejalan dengan semangat Kartini yang menekankan pentingnya pendidikan dalam membebaskan perempuan.

Dalam versi baru ini, Ken Dedes tidak lagi didefinisikan oleh fisiknya, melainkan oleh kapasitas dan karakternya sebagai individu yang berdaya. Ia digambarkan aktif, tangguh, bahkan memiliki keterampilan seperti memanah, simbol bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk berperan dan bertindak.

“Kami sama sekali tidak membicarakan soal kecantikan. Ken Dedes digambarkan melalui kepribadiannya, kemampuannya, dan bagaimana ia bertindak,” jelas Desi.

Baca Juga:
Kehilangan Pablo Oliveira dan Luis Gustavo, Arema FC Soroti Lapangan Latihan

Pendekatan ini sekaligus menegaskan bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang statis. Berbeda dengan tradisi historiografi Barat yang cenderung terdokumentasi rinci, banyak sejarah di Indonesia berkembang melalui tradisi lisan, yang membuka ruang interpretasi lebih luas.

Dalam konteks ini, Desi menekankan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan arah narasi—apakah akan melanggengkan bias atau justru membangun cerita yang membebaskan.

“Sejarah kita tidak sepenuhnya tertulis detail, sehingga sangat terbuka untuk ditafsirkan. Kita bisa memilih, apakah narasi itu memerdekakan atau malah memojokkan,” katanya.

Upaya rekonstruksi ini juga telah masuk ke ranah akademik. Salah satu mahasiswa Cultural Studies bahkan telah menyelesaikan riset mengenai model buku cerita anak berbasis narasi emansipatif tersebut.

Di momentum Hari Kartini, langkah ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan tidak hanya hadir dalam aksi nyata, tetapi juga dalam cara kita bercerita. Sebab, seperti yang diyakini Kartini, perubahan besar sering kali dimulai dari gagasan—dan dari cerita yang terus diwariskan lintas generasi.

“Budaya itu diturunkan, termasuk melalui cerita. Karena itu penting memastikan narasi yang kita bangun tidak lagi bias, tetapi justru memberdayakan,” pungkas Desi.