Upacara Baritan Pacitan, Tradisi Warga Wati dengan Tumbal Kepala Kambing

Jurnalis: Al Ahmadi
Editor: Mustopa

28 Jul 2024 11:30

Thumbnail Upacara Baritan Pacitan, Tradisi Warga Wati dengan Tumbal Kepala Kambing
Upacara Baritan warga Wati, Pacitan. Prosesi pembacaan japamantra oleh para sesepuh sebelum dilakukan penyembelihan seekor kambing. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

KETIK, PACITAN – Warga yang menetap di Dusun Wati, Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu pelestari tradisi para leluhur dengan menggelar Upacara Baritan.

Upacara ini dilakukan warga Wati sebagai wujud keharmonisan hubungan antarmanusia dengan alam sekitar.

Cukup unik, karena ini melibatkan proses penumbalan seekor hewan. Dalam kepercayaannya, warga Wati meyakini bahwa asal-usul tradisi ini erat kaitannya dengan pengusiran wabah.

Keberlanjutan seluruh penduduk asli setempat kala itu, berkat upacara pembersihan roh jahat pembawa penyakit oleh para leluhur ahli spiritual.

Baca Juga:
Pacitan Catat 8 Kasus Kekerasan Anak, Usia 11-13 Tahun Jadi Korban Terbanyak

"Dulu itu ada pagebluk yang mengerikan, para masyarakat ketakutan, gejalanya pagi demam sorenya sudah mati," ungkap juru kunci baritan, Wijen menurut para leluhur, Minggu (28/7/2024).

Disebutnya adalah upacara "Baritan", atau barisan wiridan. Ritual intinya adalah hajatan yang diselenggarakan secara massal di tengah lapangan setempat. 

Berikut penjelasan mengenai proses pelaksanaannya upacara Baritan oleh tim Ketik.co.id, sebagai berikut:

1. Persiapan Upacara

Baca Juga:
Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

Para sesepuh desa akan mengadakan pertemuan untuk membentuk susunan kepengurusan. Ketua pelaksana atau sinoman bersama para warga memiliki peran masing-masing.

Seluruh keperluan upacara dipusatkan di balai dusun, termasuk kegiatan memasak dan pembuatan sesaji.

Setidaknya persiapan ini dilaksanakan selama kurang lebih seminggu atas arahan dan petunjuk sesepuh serta pemerintah desa.

Persiapan upacara melibatkan seluruh masyarakat dalam penggalangan syarat wajib. Diantaranya, seperti kambing kendit, ayam tolak, mori atau kain kafan dan berbagai hasil bumi.

"Semua persyaratan ini diperoleh dari sumbangan sukarela masyarakat," terangnya.

2. Melekan, Arak-arakan dan Nyekar 

Pada malam sebelum ritual, warga melaksanakan tirakat semalaman atau melekan dengan wiridan dan sholawatan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri.

Keesokan harinya, prosesi dimulai dengan penabuhan kentongan serentak oleh warga saat pagi hari, menandakan persiapan dan komando untuk perjalanan menuju Makam Leluhur di Dusun Wati.

Itu warga berarak-arakan membawa persyaratan upacara sambil melantunkan bacaan wirid.

Setibanya di gerbang makam, beberapa tokoh naik untuk melakukan tabur bunga dan kirim doa, mengenang leluhur yang telah meninggal. 

3. Pengusiran Roh Jahat

Barisan wirid atau arak-arakan kemudian melanjutkan perjalanan menuju tengah lapangan. Tempat perhelatan utama.

Di lokasi tersebut, juru kunci atau tokoh melakukan adegan pencambukan kepada seorang mediator. Sambil diiringi gending jawa yang saling bersahutan.

Biasanya, yang menjadi media pencambukan adalah tokoh silat pencak jowo yang telah dibekali ilmu kesaktian kebal oleh juru kunci.

Ini perlambang pengusiran roh jahat. 

"Insyaallah tidak akan menimbulkan rasa sakit," ucapnya.

Foto Penyembelihan kambing kendit oleh juru kunci, disaksikan oleh para penonton. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)Penyembelihan kambing kendit oleh juru kunci, disaksikan oleh para penonton. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.co.id)

4. Penyembelihan Kurban

Penyembelihan hewan kurban menjadi syarat utama dalam pelaksanaan tradisi Baritan yang dilakukan pada puncak acaranya.

Hewan yang dikurbankan adalah seekor kambing kendit, kambing yang punya corak garis warna putih melingkar perut. Disusul satu ayam kampung.

Penyembelihan ini dilakukan oleh juru kunci dengan posisi kepala binatang menghadap ke barat, laiknya proses sembelih umat Islam.

Penjagal akan mengucapkan doa sambil memegang parang, sebelum akhirnya binatang kurban tersebut disembelih.

Setelah binatang tersebut mati, lehernya disayat hingga ke tulang, lalu di potong untuk di benamkan di tengah lapangan.

Sedangkan, bagian kaki dipendam di empat lokasi yang merupakan titik gerbang masuk ke Dusun Wati seperti perbatasan, Dusun Salam Rejo Desa Kebonagung, Desa Gembuk, Desa Banjarjo dan Gawang Selatan.

5. Kembul Bujono

Sesi ini, berbagai kesenian khas daerah di tampilkan di hadapan penonton, seperti drama, tarian hingga atraksi.

Daging kurban, selanjutnya akan dimasak untuk jamuan di akhir upacara.

Daging (ulam sari) dan nasi (sekul suci) yang telah matang, selanjutnya dibagikan ke semua penonton dan peserta Baritan.

Hadirin akan diminta makan makanan yang telah dihidangkan. Mengawali makan, para sesepuh akan bersiap memimpin upacara.

"Ini disebutnya kembul bujono atau makan bersama," terangnya.

Kembul bujono menandakan berakhirnya seluruh rangkaian upacara Baritan, dan akan dilaksanakan kembali satu tahun mendatang setiap memasuki bulan Suro/Muhharam.

Dengan harapan, masyarakat desa setempat dapat menjalankan kehidupan dengan tenang, seperti membangun tempat tinggal, mengadakan upacara pernikahan, jauh dari penyakit dan sebagainya. 

"Maksud di dalamnya adalah meminta pertolongan kepada Allah SWT, tolak bala atau mohon dijauhkan dari bencana alam maupun penyakit," tandasnya.

Pada malam harinya, masyarakat akan menggelar tayuban sebagai pungkasan acara Baritan. (*)

Baca Sebelumnya

Sah! Mochammad Afifudin Jadi Ketua KPU Gantikan Hasyim Asy'ari

Baca Selanjutnya

PT Wanatiara Persada Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Posyandu di 3 Desa Lingkar Tambang Halsel

Tags:

pacitan Baritan di Pacitan

Berita lainnya oleh Al Ahmadi

Korban Dugaan Keracunan Dipastikan Tertangani, Satgas MBG Pacitan: Dinas Gerak Cepat

15 April 2026 18:37

Korban Dugaan Keracunan Dipastikan Tertangani, Satgas MBG Pacitan: Dinas Gerak Cepat

Ini Update Satgas MBG Pacitan soal Siapa yang Bertanggungjawab Dugaan Keracunan

15 April 2026 17:47

Ini Update Satgas MBG Pacitan soal Siapa yang Bertanggungjawab Dugaan Keracunan

Pacitan Catat 8 Kasus Kekerasan Anak, Usia 11-13 Tahun Jadi Korban Terbanyak

15 April 2026 16:20

Pacitan Catat 8 Kasus Kekerasan Anak, Usia 11-13 Tahun Jadi Korban Terbanyak

Paket Sinkronisasi dan Monitoring Tata Ruang Pacitan Telan Anggaran Ratusan Juta

14 April 2026 11:18

Paket Sinkronisasi dan Monitoring Tata Ruang Pacitan Telan Anggaran Ratusan Juta

Luas Lahan Sawah Kurang 11 Persen, RDTR Tiga Kecamatan di Pacitan Mandek di Pusat

14 April 2026 10:18

Luas Lahan Sawah Kurang 11 Persen, RDTR Tiga Kecamatan di Pacitan Mandek di Pusat

Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

13 April 2026 19:55

Anak Dianiaya di Rumah Nenek, Ibu di Pacitan Tempuh Jalur Hukum-Lapor Polda Jatim

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar