KETIK, TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek bergerak cepat untuk menyiapkan program ketahanan pangan dan gizi. Salah satunya dengan menyiapkan potensi sumber daya lokal.
Untuk memuluskan langkah tersebut, Pemkab meluncurkan Program Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) bersama Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), GAIN, dan Garda Pangan, di Aula Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat, Senin 22 September 2026.
Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin usai meluncurkan program tersebut menjelaskan, jika ketahanan pangan itu tidak boleh mengejar produksi sebanyak-banyaknya. Tapi harus memperhatikan atau mempertimbangkan lingkungan serta ancaman perubahan iklim dan bencana.
"Produksi pangan sebanyak-banyaknya itu sah-sah saja, namun tetap harus mempertahankan lingkungan untuk masa yang akan datang," kata Mas Ipin sapaan dia.
Mas Ipin menyebut, potensi pangan di Trenggalek cukup besar tanpa harus merusak lingkungan. Misalnya dengan mangrove aquaculture, di mana masyarakat masih bisa mendapatkan ikan dan kepiting dengan menjaga ekosistem mangrove.
Baca Juga:
Permintaan Tirtha Pure Trenggalek Meningkat, Sinyal Positif Dongkrak PADKemudian, pengembangan pangan di sekitar hutan tanpa membuka tutupan hutan. Komunitas seperti ubi jalar dan porang bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras.
Pemkab telah menetapkan lebih dari 10.000 hektare sawah sebagai sawah abadi. Hal ini dipertegas dengan lahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Tak terkecuali lahan LP2B tidak boleh dialihfungsikan.
"Tentu ini selaras dengan program kita net zero carbon 2045. Berpendapat tinggi tapi tetap memiliki daya saing," ujarnya.
Orang nomor satu PDIP Trenggalek itu, menyampaikan, selain produksi pangan, RAD-PGBPSDL juga juga menyangkut soal kualitas gizi masyarakat yang ditargetkan hingga 2030.
Baca Juga:
DLH Trenggalek Ajarkan Pengolahan Popok Bayi Bekas Jadi Media TanamTermasuk tentang kebutuhan konsumsi pangan yang belum maksimal dan ditargetkan turun dari angka 12,07 menjadi 9,92 persen, sedangkan daerah yang dianggap rentan pangan dari 10,19 persen menjadi 7,01 persen.
Ia menuturkan, di sektor lingkungan, pihaknya membidik pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 1,1 juta ton CO2 ekuivalen secara komulatif. Pengolahan sisa bahan organik juga ditargetkan mencapai 1.149 ton untuk menekan food waste.
Sementara itu, Kepala Sekretariat KSPL, Gina Marina, menegaskan, target tersebut akan dilakukan melalui sejumlah aksi. Contohnya pengembangan sentra produksi pangan dan kawasan minapolitan, perlindungan petani, peternak, dan nelayan, serta kampanye pangan beragram, bergizi seimbang dan aman (B2SA).
Tak hanya itu, lanjutnya, program juga diarahkan untuk memperkuat Germas serta pengendalian sisa pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Jadi target tersebut akan kita lakukan dengan berbagai aksi kunci yang telah disusun oleh pemangku kebijakan," tegasnya.
RAD-PGPBSDL juga dilengkapi dengan SOP integrasi yang menghubungkan program, indikator, pembiayaan dan peran masing-masing perangkat daerah. Integrasi tersebut menyangkut empat sektor, yakni sektor lingkungan hidup, kesehatan, dan perlindungan sosial serta air.
"Pendeknya, melalui RAD-PGBPSDL, Pemkab menargetkan terbentuknya sistem pangan lokal yang tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga sehat, beragam, terjangkau, ramah lingkungan, dan tahan terhadap perubahan iklim," tutupnya. (*)