KETIK, ACEH SINGKIL – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Aceh Singkil, salah satu tokoh pemekaran Provinsi ALA (Aceh Leuser Antara), Ramli Manik, mendorong Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon untuk memimpin Partai Golkar.
Ramli Manik, tokoh dan orator pemekaran Provinsi ALA pada 2012, menilai perlu adanya peremajaan kepemimpinan di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut.
Ramli mendorong DPP Partai Golkar mempertimbangkan figur di luar struktur kader partai untuk memimpin Golkar Aceh Singkil. Salah satu nama yang dinilainya layak adalah Bupati Aceh Singkil Safriadi Oyon, S.H.
Menurutnya, Oyon memiliki pengalaman di pemerintahan sekaligus basis politik yang dapat menjadi modal untuk memperkuat Partai Golkar di Aceh Singkil.
"Saya meyakini Oyon mampu membawa perubahan dan memperbesar kekuatan partai menghadapi Pemilu 2029," sebut Ramli.
Baca Juga:
GAMIES Aceh Dukung Digitalisasi UMKM lewat Safinvoice, Bikin Invoice Cepat dalam Hitungan Menit"Saya meminta DPP Partai Golkar memberikan kepercayaan kepada figur yang mampu membesarkan partai, termasuk dari nonpartai. Pak Safriadi Oyon menurut saya layak menakhodai Golkar Aceh Singkil," kata Ramli, Kamis, 20 Agustus 2026.
Ia sangat optimistis kepemimpinan baru dapat berdampak terhadap perolehan kursi Golkar di parlemen. Ramli meyakini Golkar tidak hanya mempertahankan hasil Pemilu 2024, tetapi juga mampu menambah kursi pada Pemilu 2029.
"Saya yakin Oyon mampu membesarkan Partai Golkar dan menambah kursi pada Pemilu 2029," ujarnya.
Pernyataan Ramli muncul ketika dinamika Musda Golkar Aceh Singkil semakin menghangat. Sebelumnya, sejumlah pengurus DPD II Golkar disebut kompak mendorong Dulmusrid sebagai calon ketua. Di internal partai juga muncul suara yang menolak figur dari luar kader untuk memimpin Golkar.
Baca Juga:
Tak Ingin Anak Putus Sekolah, Bupati Aceh Singkil Bidik SNT 20 Hektare hingga Sekolah RakyatDorongan terhadap Oyon otomatis menambah warna dalam bursa Musda. Jika sebelumnya pertarungan lebih banyak berkutat pada figur internal, kini muncul gagasan agar Golkar membuka ruang bagi figur eksternal yang dianggap memiliki kekuatan elektoral.
Ramli menilai Musda harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar pergantian kepengurusan. Golkar saat ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kader, memperluas basis dukungan masyarakat, dan bekerja untuk meningkatkan perolehan suara pada Pemilu 2029.
"Musda harus menjadi momentum peremajaan. Jangan hanya berpikir soal siapa yang duduk sebagai ketua, tetapi bagaimana Golkar ke depan semakin besar dan mampu menambah kursi di parlemen."
Di sisi lain, usulan tersebut berpotensi berhadapan dengan aspirasi sebagian pengurus Golkar Aceh Singkil yang sebelumnya menyuarakan agar ketua berasal dari kader internal. Perbedaan pandangan inilah yang membuat bursa Musda kali ini semakin menarik.
Apakah Golkar Aceh Singkil akan mempertahankan tradisi kepemimpinan dari kader sendiri atau membuka pintu bagi figur nonkader seperti Safriadi Oyon?
Hal ini akan ditentukan melalui mekanisme organisasi Partai Golkar dalam Musda mendatang, ungkap Ramli. (*)