KETIK, JAKARTA – Nama Tiyo Ardianto belakangan menjadi sorotan publik setelah sejumlah kritik yang disampaikannya terhadap pemerintah viral di media sosial.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) periode 2025–2026 itu kerap tampil dalam berbagai forum diskusi, podcast, hingga program televisi nasional untuk menyuarakan berbagai isu yang dinilainya meresahkan masyarakat.
Di balik kiprahnya sebagai pemimpin mahasiswa yang vokal, terdapat perjalanan pendidikan yang tidak banyak diketahui publik.
Ternyata, Tiyo merupakan lulusan program pendidikan kesetaraan Paket C sebelum akhirnya berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.
Pemuda asal Kudus, Jawa Tengah, itu menempuh pendidikan menengah melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah.
Baca Juga:
Lindungi UMKM dan Kelas Menengah Akibat Tekanan Suku Bunga Tinggi, Pemerintah Disarankan Restrukturisasi KreditLembaga pendidikan nonformal tersebut mengembangkan metode pembelajaran berbasis dongeng untuk membantu peserta didik memahami materi pelajaran sekaligus mengasah kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.
Latar belakang pendidikan itulah yang kerap menjadi bahan perbincangan di media sosial, terutama setelah Tiyo aktif menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Namun, ia justru secara terbuka mengakui dirinya merupakan lulusan Paket C dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bukti bahwa jalur pendidikan nonformal juga mampu melahirkan generasi berprestasi.
Perjalanan menuju kampus UGM pun tidak dilaluinya dengan mudah.
Baca Juga:
Polda Metro Jaya Klaim Ada Kelompok yang Hendak Tunggangi Demo Mahasiswa di Jakarta Hari IniDalam sejumlah kesempatan, Tiyo mengungkapkan dirinya pernah gagal masuk UGM dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.
Namun kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah.
Pada 2021, ia berhasil lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan diterima di Program Studi Filsafat UGM yang menjadi pilihan utamanya.
Sejak saat itu, Tiyo aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan hingga akhirnya dipercaya memimpin BEM KM UGM.
Punya Segudang Prestasi Sastra Nasional
Selain aktif berorganisasi, Tiyo juga memiliki rekam jejak prestasi di bidang sastra.
Ia pernah menjadi peserta Pertemuan Penyair Nusantara tingkat internasional, meraih Juara II Nasional Monolog Bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang (Unnes), serta Juara I Nasional Lomba Baca Puisi Inspiratif Penegak Kelangga.
Karya tulisnya juga pernah diterbitkan dalam antologi Sesapa Mesra Selinting Cinta bersama sejumlah sastrawan nasional, termasuk D.
Zawawi Imron dan KH Ahmad Musthofa Bisri.
Nama Tiyo semakin dikenal publik setelah beberapa kali melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Salah satu yang menyita perhatian adalah saat ia menyoroti kasus seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang diduga mengakhiri hidup karena kesulitan membeli perlengkapan sekolah.
Menurut Tiyo, peristiwa tersebut menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam pemenuhan hak dasar anak, khususnya akses terhadap pendidikan.
Ia bahkan mengirim surat kepada UNICEF agar lembaga internasional tersebut memberikan perhatian terhadap kondisi hak anak di Indonesia.
Selain itu, Tiyo juga mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penggunaan anggaran pada Badan Gizi Nasional yang menurutnya perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.
Sikap kritis tersebut membuatnya mendapat dukungan dari sebagian masyarakat.
Namun di sisi lain, Tiyo mengaku menghadapi berbagai bentuk intimidasi digital, mulai dari peretasan akun hingga ancaman setelah aktif menyuarakan kritik.
Meski demikian, mahasiswa Filsafat UGM itu tetap konsisten menjalankan perannya sebagai pemimpin mahasiswa.
Baginya, kampus harus menjadi ruang kritis yang mampu mengawal kebijakan publik dan menyuarakan kepentingan masyarakat.(*)