KETIK, GRESIK – Di rumah sederhana di Dusun Gupit, Desa Slempit, lampu kecil tetap menyala hingga malam larut. Di dalamnya, seorang wanita berusia belum terlalu lanjut, pelan-pelan menyiapkan jajanan wingko dan ketan.
Rupanya, makanan tradisional yang masih hangat itu diperuntukkan 11 prajurit TNI AD dari Yonif 500/Sikatan yang tinggal sementara di rumahnya selama menjalankan tugas pengabdian TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 128 di Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik.
Tak ada hidangan mewah di meja milik Ibu Ani, nama wanita si empunya rumah. Hanya makanan sederhana yang dibungkus ketulusan. Namun, bagi para prajurit yang seharian bergelut dengan lumpur, debu, dan peluh pekerjaan, suguhan kecil itu terasa lebih dari cukup.
Di sela tawa yang terdengar pelan, tersimpan rindu tak pernah padam kepada istri anak dan orang tua di rumah, yang untuk sementara harus ditinggalkan demi tugas negara.
Ibu Ani memahami itu tanpa perlu banyak kata. Setiap kali melihat para prajurit makan bersama, hatinya seperti sedang menerima anak-anaknya sendiri pulang ke rumah.
Baca Juga:
Budaya atau Mitos? Hiii.. "Penampakan" Pemuda Berseragam SD Ikut Pengecoran Jalan Malam Hari"Saya sudah anggap mereka sebagai anak-anak saya," kata Ibu Ani sambil duduk dengan mata berkaca-kaca, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia memastikan mereka tak tidur dalam keadaan lapar, meski terkadang dirinya sendiri harus bangun lebih awal dan beristirahat paling akhir.
Malam-malam di rumah itu akhirnya bukan hanya tentang tempat singgah. Prajurit-prajurit TNI ini, terlihat sesekali menghibur Ibu Ani dengan cara bermain gitar sambil bernyanyi.
Baca Juga:
Belajar dari Tangan Sang Jenderal! Jadi Contoh Nyata Membangun Desa itu Kerja BersamaAda kasih yang tumbuh dalam diam. Di kekosongan malam, kadang Ibu Ani duduk sendiri meratapi hidup. Kadang, kata Ibu Ani, anak-anak TNI membantu dirinya di dapur.
"Ada rasa bangga sebagai seorang ibu. Karena mereka rajin sekali, bersihkan rumah dulu, menyapu halaman, mencuci piring dan lainnya, " ujar perempuan paruh baya itu.
Dalam rumah sederhana itu yang selalu sepi, kini terasa ramai. Dirinya juga merasa seperti dijaga belasan anak-anak yang menyayangimya.
"Kami sudah anggap Ibu Ani adalah keluarga dan orang tua kami. Ibu Ani menerima kami dengan penuh kasih sayang," kata Sertu Rudi sambil membantu mengaduk adonan kue wingko.
Suasana kekeluargaan ini menjadi obat dari lelahnya Ibu Ani seharian bekerja di pematang sawah miliknya. Hal yang sama juga dirasakan prajurit-prajurit itu.
Di rumah kecil itulah, tercermin indahnya menemukan sesuatu yang tak tertulis dalam tugas negara, yakni rasa pulang. (*)