KETIK, LOMBOK TENGAH – Gelaran MotoGP Mandalika 2026 tak hanya menjadi ajang persaingan para pembalap kelas dunia, tetapi juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi hampir Rp 5 triliun.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, penyelenggaraan MotoGP selama lima tahun terakhir turut mendorong perkembangan pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dampaknya terlihat dari pertumbuhan sektor akomodasi, restoran, penerbangan, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya.
MotoGP Mandalika 2026 akan berlangsung pada 9–11 Oktober. Ajang ini juga melibatkan sekitar 3.000 tenaga kerja lokal dan 600 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Setelah lima tahun, kami melihat MotoGP memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan pariwisata di NTB. Trafik menuju Mandalika terus berkembang, diikuti pertumbuhan hotel, restoran, penerbangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya," kata Dony, Kamis, 8 Oktober 2026.
"Ini menunjukkan bahwa sebuah event internasional dapat menjadi katalis yang mendorong pertumbuhan ekosistem secara lebih luas,” sambungnya.
Baca Juga:
Jelang MotoGP Mandalika, Menkomdigi Meutya Hafid Cek Kesiapan Jaringan TelekomunikasiPeningkatan aktivitas selama MotoGP Mandalika 2026 juga terlihat dari kebutuhan konektivitas menuju Lombok. InJourney Airports mencatat terdapat 66 penerbangan tambahan di Bandara Internasional Lombok selama periode penyelenggaraan ajang tersebut.
Jumlah itu terdiri atas 48 penerbangan tambahan, 11 penerbangan sewa atau charter, empat penerbangan yang menggunakan pesawat berukuran lebih besar, serta tiga positioning flight.
Sementara itu, tingkat hunian akomodasi di sekitar Mandalika telah mendekati 100 persen menjelang penyelenggaraan MotoGP 2026.
Direktur Utama InJourney Maya Watono mengatakan, penyelenggaraan MotoGP di Mandalika harus menghasilkan manfaat jangka panjang, bukan hanya selama tiga hari balapan.
Baca Juga:
MotoGP Mandalika 2026: Merchandise Veda Laris Manis Diserbu Penggemar“MotoGP Mandalika bukan sekadar tiga hari balapan, namun lebih dari itu, yang kita bangun adalah legacy untuk Indonesia. Event ini menjadi katalis untuk mengembangkan destinasi, memperkuat konektivitas, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus membawa Indonesia dan Mandalika ke panggung global,” ujar Maya.
Menurut dia, keberlanjutan MotoGP membutuhkan dukungan lintas kementerian, lembaga, badan usaha milik negara (BUMN), pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan.
Selain mendorong pariwisata dan aktivitas ekonomi, penyelenggaraan MotoGP Mandalika juga diarahkan untuk mengembangkan talenta lokal. Sebanyak 380 marshal asal NTB telah mendapatkan pelatihan sesuai standar Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM).
Sejumlah marshal bahkan memperoleh kesempatan bertugas dalam ajang balap internasional di luar negeri, termasuk di Sepang, Malaysia. Indonesia juga memiliki pembalap yang berkompetisi di kejuaraan dunia, seperti Mario Suryo Aji di Moto2 dan Veda Ega Pratama di Moto3.
Maya menegaskan, keberhasilan MotoGP tidak cukup diukur dari hasil balapan, tetapi juga dari pertumbuhan ekonomi, pengenalan Indonesia di tingkat global, dan lahirnya talenta baru dari ekosistem balap yang dibangun.
“Pada akhirnya ukuran keberhasilan MotoGP bukan hanya siapa yang menjadi juara di lintasan, namun keberhasilannya juga harus terlihat dari seberapa besar ekonomi yang tumbuh, seberapa kuat Indonesia dikenal dunia, dan berapa banyak talenta Indonesia yang lahir dari ekosistem yang dibangun. Itulah legacy yang ingin kita jaga bersama,” tutup Maya.
Sementara itu, Deputy CEO MotoGP Sports Entertainment Group Carlos Ezpeleta mengatakan, Indonesia memiliki posisi penting bagi perkembangan MotoGP di kawasan Asia. Antusiasme masyarakat dan tingginya penjualan tiket menunjukkan besarnya basis penggemar MotoGP di Indonesia.
“Indonesia merupakan pasar yang sangat penting bagi MotoGP. Besarnya antusiasme penggemar, termasuk tingginya penjualan tiket, menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis penggemar yang kuat. Kami melihat potensi yang besar untuk terus mengembangkan MotoGP di Indonesia, tidak hanya dari sisi olahraga, tetapi juga dari sisi ekonomi dan pariwisata,” ujar Carlos.
MotoGP Mandalika 2026 menjadi tahun kelima penyelenggaraan ajang tersebut di Indonesia sejak 2022. Jumlah penonton tercatat meningkat dari 102.929 orang pada 2023 menjadi 121.252 orang pada 2024, kemudian mencapai 140.324 orang pada 2025.
Dengan lebih dari 632 juta penggemar di seluruh dunia dan jangkauan siaran hampir 200 negara, MotoGP juga menjadi sarana untuk memperkenalkan destinasi wisata serta potensi ekonomi Indonesia ke pasar internasional.