KETIK, PACITAN – Kemeriahan Festival Rontek Pacitan 2026 menyisakan pekerjaan tambahan bagi petugas kebersihan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pacitan mencatat sekitar satu ton sampah diangkut dari kawasan jalan protokol ke TPA Dadapan setiap malam usai pelaksanaan festival.
Sampah yang ditinggalkan penonton didominasi botol air mineral, bungkus makanan, tusuk pentol, hingga tikar plastik yang tersebar di sejumlah titik, mulai kawasan Alun-Alun Pacitan, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan Agung Suprapto.
Sebanyak 50 petugas kebersihan diterjunkan untuk membersihkan area festival setelah seluruh rangkaian acara selesai.
Proses pembersihan dimulai sekitar pukul 23.00 WIB dan berlangsung hingga dini hari.
Baca Juga:
Diduga Terlibat Narkotika, Guru PPPK di Pacitan Diciduk Polisi: Status Masih DidalamiSalah seorang petugas kebersihan DLH Pacitan, Eko Budi mengatakan, jenis sampah yang paling banyak ditemukan setiap pelaksanaan acara besar relatif sama.
Ia mengaku, petugas kerap mendapati sampah berserakan meski tempat sampah telah disediakan di berbagai titik lokasi acara.
"Perasaannya ya miris. Karena masih banyak yang kurang sadar tentang isu lingkungan," katanya, Sabtu, 18 Juli 2026 malam.
Baca Juga:
Pilkades Pacitan 2026 Sepi, DPMD Sebut Calon Kades Tunda Daftar Gegara Masih Bulan SuroHal senada disampaikan petugas kebersihan lainnya, Nanang Herman.
Menurutnya, penumpukan sampah paling banyak ditemukan di lokasi yang menjadi titik favorit penonton untuk menyaksikan penampilan peserta Festival Rontek.
"Kesadaran masyarakat masih kurang. Tahunya nanti bakal dibersihkan oleh petugas dan relawan. Apa ya nggak mikir," ujarnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kabupaten Pacitan, Cicik Rudhlotul Jannah, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung selama festival berlangsung, mulai tong sampah pilah hingga dropbox khusus botol bekas.
Meski demikian, pemanfaatan fasilitas tersebut dinilai belum optimal sehingga masih ditemukan banyak sampah yang ditinggalkan penonton.
"Budaya yang kita lestarikan akan semakin bermakna apabila disertai kepedulian terhadap lingkungan," kata Cicik.
Menurutnya, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari kemeriahan dan jumlah pengunjung, tetapi juga dari tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
DLH Pacitan berharap pelaksanaan Festival Rontek di tahun-tahun mendatang dapat diiringi dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, sehingga perayaan budaya dapat berlangsung tanpa meninggalkan persoalan lingkungan.(*)