KETIK, SURABAYA – Surabaya adalah kota yang seolah tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan saat malam semakin larut, aktivitas masyarakat tetap berlangsung dan berbagai pilihan kuliner masih mudah ditemukan. Mulai dari jajanan kaki lima hingga hidangan legendaris yang sudah dikenal lintas generasi, kuliner malam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga Kota Pahlawan.

Salah satu makanan yang hampir selalu muncul dalam daftar kuliner khas Surabaya adalah tahu tek. Hidangan sederhana ini terdiri atas tahu, lontong, kentang, tauge, serta siraman bumbu petis yang menjadi ciri khasnya. Meski terlihat biasa, perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan rasa gurih, manis, dan khas yang membuat banyak orang ketagihan.

Nama "tahu tek" sendiri dipercaya berasal dari suara gunting yang digunakan para pedagang saat memotong tahu, lontong, dan kentang. Bunyi "tek, tek, tek" yang terdengar berulang kali kemudian melekat dan menjadi nama makanan ini. Ada pula cerita lain yang menyebutkan bahwa bunyi tersebut berasal dari pedagang keliling yang mengetukkan spatula ke wajan untuk menarik perhatian calon pembeli.

 

Tampak depan warung Tahu Tek Ndublek di Jalan Rungkut Madya No. 171, Surabaya Timur. (Foto: Tamtatsila Dwi Ardiansyah/ketik.com)

Baca Juga:
Ingin Nikmati Bakso Kuah Soto? Begini Rasanya Makan di Warung Cak Wandi di Karangpilang

 

Seiring berjalannya waktu, tahu tek hadir dalam berbagai variasi. Banyak pedagang menambahkan telur sebagai pelengkap, sementara porsi dan komposisinya dapat disesuaikan dengan selera pembeli. Dari porsi sederhana hingga ukuran jumbo, semua bisa ditemukan dengan mudah.

Di kawasan sekitar Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur, terdapat satu nama yang cukup dikenal di kalangan pencinta tahu tek, yaitu Tahu Tek Ndublek. Warung yang telah berdiri sejak tahun 2010 ini dikelola oleh Minto dan dikenal berkat porsinya yang sangat besar dengan harga yang masih ramah di kantong.

Tahu Tek Ndublek memiliki dua cabang di Surabaya. Cabang utama berada di Jalan Rungkut Madya Nomor 171, Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut. Sementara cabang kedua berlokasi di Gunung Anyar dan dikelola oleh istri Minto. Jika cabang Rungkut berfokus pada menu tahu tek, cabang Gunung Anyar menawarkan pilihan yang lebih beragam, termasuk berbagai menu penyetan.

Baca Juga:
Nasi Goreng Jadi Incaran Anak Kos dan Pekerja di Surabaya, PKL Bisa Jual 100 Porsi Semalam

Jam operasional kedua cabang juga berbeda. Cabang Rungkut buka mulai pukul 18.30 WIB hingga 02.00 WIB, sedangkan cabang Gunung Anyar melayani pelanggan dari pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB. Waktu operasional yang panjang membuat cabang Rungkut menjadi pilihan banyak orang yang mencari makanan saat malam hingga dini hari.

Lokasi cabang utama cukup mudah ditemukan. Warung ini berada di area yang sama dengan Pasti Jaya Service, tempat yang pada siang hari digunakan untuk servis dan cuci mobil. Ketika malam tiba, area tersebut berubah menjadi pusat kuliner dengan beberapa tenant makanan, termasuk Tahu Tek Ndublek. Letaknya berada tepat di samping gerbang masuk Jalan Rungkut Asri Timur XVI.

 

Meski baru buka, suasana warung sudah terlihat ramai. Dalam waktu kurang dari setengah jam setelah mulai beroperasi, pelanggan berdatangan silih berganti. Ada yang memilih makan di tempat, ada pula yang memesan melalui aplikasi layanan antar makanan. Akibatnya, proses memasak hampir tidak pernah berhenti. Tahu dan telur terus digoreng untuk memenuhi pesanan yang terus masuk.

Untuk soal harga, Tahu Tek Ndublek dibanderol mulai dari Rp14.000 hingga Rp30.000. Pembeli bisa memilih berbagai varian, mulai dari tahu tek tanpa lontong, tanpa telur, hingga porsi jumbo. Fleksibilitas ini memberi kebebasan bagi pelanggan untuk menyesuaikan pesanan dengan kebutuhan dan selera masing-masing.

 

Dua pelanggan Tahu Tek Ndublek, Sari dan temannya, menikmati seporsi tahu tek telur standar. (Foto: Tamtatsila Dwi Ardiansyah/ketik.com)

 

Namun, daya tarik utama Tahu Tek Ndublek bukan hanya variasi menunya, melainkan ukuran porsinya yang terkenal besar. Menurut Minto, owner Tahu Tek Ndublek, dalam sehari penjualannya bisa mencapai lebih dari 100 porsi. Menariknya, meskipun tersedia pilihan jumbo, porsi standar justru paling banyak diminati karena ukurannya sudah sangat mengenyangkan, bahkan cukup untuk dinikmati dua orang sekaligus.

 

"Kami memang lebih mengandalkan bumbu yang melimpah dan porsi yang besar supaya rasanya lebih terasa," ujar Minto.

Dalam satu porsi, pembeli akan mendapatkan lontong, kentang, tahu, telur, dan tauge yang disiram bumbu petis dalam jumlah cukup banyak. Penggunaan petis Madura juga memberikan karakter rasa yang kuat dan khas.

Pelanggan pun bisa memilih apakah tahu dan telur digoreng bersama atau dipisah. Pilihan sederhana ini membuat pengalaman makan terasa lebih personal sesuai preferensi masing-masing.

Meski begitu, ukuran porsi yang besar ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi setiap pelanggan. Kukuh, salah satu pelanggan setia, menilai bahwa dari segi rasa, Tahu Tek Ndublek tidak jauh berbeda dengan tahu tek pada umumnya. Namun, ukuran porsinya menjadi nilai jual yang paling menonjol.

"Tahu Tek Ndublek sih standar tahu tek pada umumnya, tapi yang membedakan itu porsinya. Jadi saya sering makan di situ. Rasanya lumayan, cuma kalau sudah suapan terakhir kadang mulai bosan," ujar Kukuh.

Pendapat serupa juga disampaikan Ishna, salah satu mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur. Ia mengaku menyukai rasa tahu tek tersebut, tetapi sering kali kesulitan menghabiskan satu porsi seorang diri.

"Jujur enak, cuma memang porsinya besar banget. Aku kadang ngajak teman sekamar buat bantu ngabisin, padahal pesannya cuma porsi standar," kata Ishna.

Bumbu yang dominan manis memang menjadi salah satu ciri khas hidangan ini. Bagi penikmat rasa manis dan gurih, kombinasi tersebut tentu memuaskan. Namun, karena porsinya yang besar, sebagian pelanggan mengaku mulai merasa jenuh ketika menyantapnya hingga habis seorang diri.

Di balik keberlangsungan usahanya selama lebih dari satu dekade, Minto mengaku memilih menjual tahu tek karena bahan-bahannya relatif lebih awet dan masih dapat diolah kembali jika belum habis digunakan. Pertimbangan tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya yakin menekuni usaha kuliner ini.

Hingga kini, pesanan terus berdatangan, baik dari pelanggan yang makan langsung di lokasi maupun dari aplikasi pemesanan online. Tingginya permintaan terlihat dari aktivitas memasak yang nyaris tanpa henti sejak warung mulai buka. Keberadaan dua cabang juga memudahkan pelanggan di kawasan Rungkut dan Gunung Anyar untuk menikmati hidangan ini.

Di tengah banyaknya pilihan kuliner malam di Surabaya, Tahu Tek Ndublek menawarkan sesuatu yang sederhana namun menarik: porsi besar, bumbu petis yang melimpah, dan harga yang masih terjangkau. Bagi yang sedang mencari makanan mengenyangkan untuk makan malam atau bahkan dini hari, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan. Meski demikian, melihat ukurannya yang tidak main-main, berbagi satu porsi dengan teman mungkin justru menjadi cara terbaik untuk menikmati Tahu Tek Ndublek hingga suapan terakhir. (*)