KETIK, JAKARTA – Lagu kebangsaan Iran disambut cemoohan dari sebagian penonton di Stadion SoFi, Los Angeles dalam pertandingan perdana mereka kontra Selandia Baru di grup G Piala Dunia 2026, 16 Juni 2026.
Seperti diketahui, persiapan timnas Iran bergejolak menuju Piala Dunia 2026 ini. Iran bahkan nyaris gagal berpartisipasi dalam putaran final ini.
Pasalnya, host Piala Dunia kali ini Amerika Serikat tidak lain adalah negara yang memulai pengeboman ke Iran bersama Israel pada Februari lalu dan menewaskan pimpinan tertinggi Iran Ali Khamenei.
Kesepakatan damai akhirnya memang tercapai, namun, persiapan Iran menjelang tampil di ajang empat tahunan ini begitu kompleks.
Pada hari H, lagu kebangsaan Iran disambut cemoohan di dalam stadion. Namun, beberapa saat sebelumnya, sorak sorai dukungan yang keras juga bergema ketika cuplikan video skuad Iran di terowongan ditampilkan di layar raksasa.
Baca Juga:
Mengenal Luca Zidane, Anak Legenda Prancis Zinedine Zidane yang Bela Aljazair di Piala Dunia 2026Suporter Iran yang sebagian besar merupakan warga keturunan Iran yang kini tinggal di AS terbelah. Ada cemoohan, tapi Timnas Iran juga menerima dukungan vokal sepanjang pertandingan.
Komunitas Iran di Los Angeles sebagian besar terdiri dari mereka yang melarikan diri dari negara itu sekitar waktu revolusi Islam tahun 1979, atau keturunan mereka. Artinya, wajar jika sentimen anti-rezim republik Islam yang menguasai Iran saat ini sangat kuat di Los Angeles.
FIFA melarang bendera yang menampilkan lambang 'Singa dan Matahari', bendera negara Iran versi pra-revolusi berkibar di stadion. Namun, sejumlah besar bendera tersebut masih terlihat di dalam stadion beberapa saat sebelum pertandingan dimulai.
Para demonstran di luar stadion berjanji untuk menciptakan "neraka" menjelang pertandingan.
Baca Juga:
Prediksi Piala Dunia 2026: Portugal vs RD Kongo, Duel Tim Beda Kasta!Serangkaian nyanyian anti-rezim terus terdengar di sekitar Stadion SoFi - mengecam para penguasa di Teheran sebagai "teroris"
Namun, banyak juga dari mereka yang hadir tetap ingin membuat perbedaan yang jelas antara tim sepak bola dan pemerintah yang diwakilinya.
"Saya mendukung budaya Persia, warisan dan sejarah kami, dan saya tidak takut untuk mengatakan bahwa saya tidak mendukung rezim Islam, dan apa yang telah mereka lakukan kepada rakyat di negara saya," ucap salah satu supporter Iran, Keyan Jafari, yang mengenakan jubah dan ikat kepala yang menampilkan 'Singa dan Matahari' kepada ESPN.
"Saya ingin mereka tahu bahwa saya masih membela mereka selama mereka adalah warga negara Iran dan mereka berdiri bersama kami," tambahnya.
Marian Rogers, yang meninggalkan Iran menuju Bedford saat masih remaja pada tahun 1977 sebelum kemudian pindah ke AS memilih bersikap lebih tenang. "Sayangnya ada beberapa perpecahan di antara warga Iran yang merasa tim ini mewakili pemerintah atau mendukung pemerintah,” ucapnya.
"Saya tidak percaya itu. Saya percaya ini hanyalah sepak bola, dan saya ingin menjauhkan politik darinya," tambahnya. (*)