KETIK, SURABAYA – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengubah tumpukan sampah plastik menjadi monumen identitas Desa Begal, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Inovasi yang diwujudkan pada Jumat, 17 Juli 2026 itu memadukan konsep pelestarian lingkungan dengan edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Program tersebut berangkat dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan sampah plastik yang masih banyak mencemari lingkungan desa. Melalui pendekatan ecobrick, mahasiswa mengolah limbah plastik menjadi media yang memiliki nilai guna sekaligus mempercantik kawasan desa.
Teknik ecobrick dilakukan dengan memadatkan sampah plastik ke dalam botol bekas hingga menjadi padat dan kokoh. Selain mengurangi volume sampah anorganik, metode ini juga menghasilkan material yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pembangunan monumen desa.
Baca Juga:
Atasi Rasa Pahit, Mahasiswa KKN UINSA Sulap Kentang Hitam Desa Begal Jadi 5 Menu Bergizi
Pembuatan monumen diawali dengan mengumpulkan sampah plastik dari warga. Selama sepekan, mahasiswa bersama masyarakat bergotong royong memilah dan memasukkan sampah plastik ke dalam botol bekas hingga padat. Dari kegiatan tersebut, terkumpul 247 botol plastik yang kemudian disusun membentuk tulisan besar "BEGAL" sebagai identitas desa.
Setelah proses penyusunan selesai, seluruh botol dicat merah agar tampak lebih menarik dan mudah dikenali. Mahasiswa kemudian bekerja sama dengan warga merancang kerangka besi sebagai penyangga huruf-huruf ecobrick sebelum memasangnya di pertigaan depan lapangan Desa Begal.
Kepala Desa Begal, Yusuf Setiyono, mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN UINSA. Menurutnya, monumen berbahan ecobrick memiliki nilai edukatif sekaligus daya tahan yang lebih baik dibandingkan hiasan desa yang bersifat sementara.
Baca Juga:
KKN Kelompok 13 PSDKU UB Kediri Perkenalkan HydroPlast, Inovasi Ramah Lingkungan untuk Warga Desa Cengkok"Saya dan warga sangat senang atas inovasi tersebut. Sampah yang biasanya dianggap tidak berguna kini dapat dimanfaatkan dengan baik. Jika membuat hiasan lain, mungkin bisa hilang atau rusak dalam jangka waktu pendek, sedangkan ecobrick ini sangat memorable dan tahan lama," ungkap Yusuf.
Melalui program ini, mahasiswa berharap masyarakat semakin terdorong untuk mengelola sampah plastik secara mandiri. Selain meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemilahan sampah, inovasi tersebut juga menunjukkan bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi karya yang bernilai estetis, edukatif, dan bermanfaat bagi lingkungan. (*)