KETIK, JAKARTA – Staf Ahli Menteri Perhubungan (Menhub) Bidang Kawasan dan Lingkungan, Dr. H. Robby Kurniawan, mengungkap fakta terkait sumber emisi terbesar dari sektor transportasi di Indonesia.

Ia menyebut, kendaraan yang paling banyak menyumbang emisi bukanlah mobil, melainkan sepeda motor yang jumlahnya kini telah mencapai kurang lebih 140 juta unit.

"Kalau kita lihat data, emitor terbesar itu bukan mobil, tetapi sepeda motor. Jumlahnya kurang lebih 140 juta. Yang nomor dua adalah kendaraan logistik, trucking. Nomor tiga baru mobil," ujar Robby, Senin, 24 Agustus 2026.

Oleh karena itu, tingginya jumlah sepeda motor tersebut membuat kendaraan roda dua menjadi perhatian utama dalam upaya pemerintah menekan emisi karbon di sektor transportasi.

Karena secara keseluruhan, Robby mengatakan sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar dengan kontribusi sekitar 157 juta ton CO2 ekuivalen per tahun.

Baca Juga:
Rapat Karhutla di Palembang, Prabowo Siap Terjunkan 1.000 Perwira TNI-Polri

"Kalau kita lihat sektor transportasi ini memang salah satu emitor terbesar. Kurang lebih setahun itu bisa 157 juta CO2 ekuivalen. Jadi memang kontributornya sangat besar," katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah terus mendorong transformasi transportasi menuju penggunaan energi bersih sebagai bagian dari komitmen Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.

Komitmen tersebut, kata Robby, telah dituangkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai implementasi Paris Agreement.

"Bagaimana kita bisa mengurangi energi berbasis karbon, sehingga kita bisa berorientasi kepada transportasi yang lebih ramah lingkungan, transportasi cerdas yang tentunya akan berkelanjutan," jelasnya.

Baca Juga:
Kabut Asap Makin Memburuk, Prabowo Turun Langsung ke Palembang Tangani Karhutla

Untuk mengatasi tingginya emisi dari kendaraan bermotor, pemerintah mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV), termasuk program konversi sepeda motor berbahan bakar fosil atau Internal Combustion Engine (ICE) menuju kendaraan listrik.

"Jadi pemerintah sudah membuat target berapa jumlah sepeda motor yang perlu dikonversi, yang perlu menjadi berbasiskan EV," ujarnya.

Selain kendaraan pribadi, pemerintah juga mengembangkan konsep Green Logistics Corridor untuk mendorong peremajaan kendaraan angkutan barang agar menggunakan energi yang lebih bersih.

Robby menilai pengurangan emisi transportasi juga tidak hanya bergantung pada elektrifikasi kendaraan, tetapi membutuhkan penguatan transportasi massal.

Menurutnya, masyarakat akan lebih mudah beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik apabila tersedia layanan yang nyaman, aman, terjangkau, ekonomis, dan terintegrasi.

"Sebelum kita melarang, kita harus siapkan dulu fasilitasnya. Kita buat transportasi massal yang nyaman, aman, terjangkau, ekonomis, dan terintegrasi, sehingga masyarakat itu mau berpindah dari penggunaan kendaraan pribadi menuju kendaraan publik," tuturnya.

Robby optimistis target transportasi rendah emisi dapat tercapai melalui kerja sama pemerintah, industri, dan masyarakat.

"Memang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Saya yakin dan percaya dengan kolaborasi bersama semua stakeholder, ini bisa diimplementasikan di Indonesia," pungkasnya. (*)