KETIK, JAKARTA – Dua putra Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad Fawwaz, menjadi sorotan setelah nama mereka tercantum sebagai tenaga ahli di Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Keduanya masuk dalam daftar sembilan orang yang diangkat sebagai tenaga ahli berdasarkan Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026. Pengangkatan tersebut menarik perhatian publik karena Barbarossa dan Gibran merupakan anak kandung pejabat yang memimpin kementerian tersebut.

Banyak warganet yang menilai, langkah Menhaj Gus Irfan yang mengangkat dua anaknya sendiri sebagai tenaga ahli Menteri Haji dan Umrah, kental bernuansa nepotisme seperti yang dulu kerap dilakukan di zaman Orde Baru. 

Gus Irfan sebelumnya menjelaskan bahwa anak-anaknya bersama sejumlah santri ikut membantu proses awal pembentukan Badan Penyelenggara Haji (BP Haji).

 

Baca Juga:
Pakar UGM Nilai Pengangkatan Dua Anak Gus Irfan Jadi Tenaga Ahli Kemenhaj Berpotensi KKN

Gus Irfan Sebut Anak dan Santri Membantu Pembentukan BP Haji

Gus Irfan menjelaskan bahwa pada masa awal pembentukan BP Haji, lembaga tersebut belum memiliki dukungan fasilitas dan sumber daya yang memadai. Kondisi itu membuatnya melibatkan orang-orang yang bersedia membantu proses perintisan, termasuk anak-anak dan santrinya.

Menurut penjelasan Gus Irfan, mereka membantu secara sukarela selama tiga hingga empat bulan tanpa menerima gaji. Setelah lembaga berkembang, sebagian orang kembali menjalankan aktivitas sebelumnya, sedangkan beberapa lainnya kemudian masuk ke dalam struktur tenaga ahli.

Penjelasan tersebut menjadi bagian dari latar belakang yang disampaikan Gus Irfan mengenai keterlibatan anak-anaknya dalam lembaga penyelenggara urusan haji.

Baca Juga:
Menteri Haji Gus Irfan Akui Angkat Anak Jadi Tenaga Ahli, Begini Klarifikasi Lengkapnya

 

Barbarossa dan Gibran Memiliki Garis Keturunan Tokoh NU

Selain hubungan mereka dengan Gus Irfan, Barbarossa dan Gibran juga memiliki latar belakang keluarga yang berkaitan dengan sejarah Nahdlatul Ulama (NU).

Keduanya disebut sebagai cicit KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, sekaligus cucu KH Yusuf Hasyim. Keluarga tersebut memiliki hubungan sejarah dengan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, yang menjadi salah satu pusat penting pendidikan Islam dan perkembangan NU.

Latar belakang keluarga tersebut turut menjadi bagian dari profil kedua putra Gus Irfan yang diulas dalam pemberitaan.

Keduanya juga masih keponakan dari Gus Kikin atau KH Abdul Hakim Mahfudz, Ketua Umum PBNU yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. 

 

Tugas dan Kompetensi Keduanya Belum Terurai secara Terperinci

Meski nama Barbarossa dan Gibran tercantum dalam keputusan pengangkatan tenaga ahli, rincian tugas spesifik dan pembagian tanggung jawab keduanya belum dijelaskan secara terperinci dalam pemberitaan tersebut.

Informasi mengenai kualifikasi profesional dan pengalaman kerja masing-masing juga belum diuraikan secara lengkap. (*)