KETIK, PACITAN – Pernahkah Anda melihat pertunjukan pagelaran kesenian tayub dan bertanya-tanya dari mana sebenarnya kesenian ini berasal? 

Di balik penampilannya yang sering dipersepsikan miring oleh sebagian orang, ternyata tayub memiliki sejarah dan filosofi mendalam dalam budaya Jawa. 

Sebagai Ritual Kesuburan

Kesenian tayub diyakini telah berkembang sejak masa Sunan Kalijaga. 

Akar sejarah tayub disebut berkaitan dengan budaya Hindu pada masa Kerajaan Singasari dan Majapahit.

Secara etimologis, tayub berasal dari istilah “ditata supaya guyub” yang berarti membangun kebersamaan masyarakat.

Baca Juga:
Kesenian Tayub di Kabupaten Pacitan Kian Lestari, Jadi Benteng Budaya Lokal

Menurut Penulis, penyair, dan pemerhati budaya asal Ngawi, Tjahjono Widijanto, sebelum abad ke-19 tayub digunakan dalam ritual sedekah bumi atau bersih desa yang banyak digelar masyarakat agraris di Jawa.

Tayub dipercaya menjadi simbol harapan agar hasil panen melimpah dan kehidupan masyarakat tetap sejahtera.

“Tayub merupakan bagian dari ritual kesuburan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris,” tulisnya dikutip Ketik.com, Minggu, 10 Mei 2026.

Ia menjelaskan, unsur gerak dalam tayub banyak mengambil simbol relasi manusia dengan alam.

Baca Juga:
Tandai Dimulainya Musim Giling, PG Modjopanggung Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk

Pun karena itu, gerakan dalam tayub sering dikaitkan dengan simbol kesuburan secara seksual.

Konsep tersebut dikenal dalam budaya Jawa sebagai hubungan antara bapa angkasa dan ibu pertiwi yang dipercaya menghadirkan kesuburan bagi kehidupan masyarakat desa.

Simbol kesuburan kala itu diwujudkan melalui lingga dan yoni yang banyak ditemukan di sejumlah candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Salah satunya terdapat di Candi Sukuh yang memiliki relief dan simbol kesuburan.

"Sejatinya unsur seksual dalam tayub bukan semata-mata bermakna erotis, melainkan simbol filosofi tentang hubungan manusia dan alam semesta," jelasnya menegaskan.

Alami Benturan Budaya

Perjalanan tayub kemudian mengalami perubahan ketika budaya kraton berkembang pada masa Pajang dan Mataram Islam.

Budaya kraton menempatkan kesenian istana seperti tari bedhaya sebagai seni yang dianggap halus dan resmi. 

Sementara tayub dipandang miring pun sebagai kesenian rakyat pinggiran.

“Tayub dianggap terlalu bebas dan tidak sesuai dengan budaya kraton,” ungkapnya.

Benturan juga terjadi ketika budaya santri berkembang melalui pesantren. 

Tayub sering dianggap terlalu vulgar dan bertentangan dengan norma agama.

Dari tayub kemudian muncul berbagai kesenian lain seperti ronggeng, ledek, tandak dan janger.

Bergeser Menjadi Hiburan yang Kontroversi

Tjahjono menjelaskan perubahan besar terjadi ketika industrialisasi dan kolonialisme masuk ke Jawa melalui pembangunan rel kereta api dan perkebunan.

Perubahan sosial tersebut membuat tayub bergeser dari ritual sakral menjadi hiburan komersial.

Para penari tayub mulai tampil sebagai pekerja seni profesional yang menerima tanggapan dan bayaran dari penanggap.

Dalam perkembangannya kala itu, unsur hiburan dan erotisme dalam tayub menjadi lebih dominan. 

Gerakan waranggana yang menonjolkan lembehan dan goyangan pinggul memunculkan stigma negatif di masyarakat.

Penari tayub bahkan sering disebut ledhek yang identik dengan sosok penggoda.

"Pandangan negatif itu juga diperkuat dengan kebiasaan konsumsi minuman keras dalam sebagian pertunjukan tayub tradisional di masa lalu," jelasnya.

Pertunjukannya di Tengah Masyarakat Jawa

Sekarang tayub berkembang di sejumlah daerah seperti Ngawi, Nganjuk, Pacitan, Bojonegoro, Tuban, Banyuwangi, Blora hingga Gunung Kidul.

Dalam pertunjukannya, tayub melibatkan waranggana atau penari perempuan, pengibing, pramugari, serta pengrawit yang memainkan gamelan.

Waranggana biasanya mengenakan kebaya, kain panjang, sampur, sanggul dan perhiasan khas Jawa. 

Sedangkan musik pengiring dimainkan menggunakan seperangkat gamelan seperti kendang, bonang, kenong, rebab hingga gong.

Lagu yang dibawakan juga beragam, mulai dari gending tradisional hingga lagu dangdut modern.

Tayub tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Jawa dan hingga kini masih kerap digelar dalam acara dan hajatan masyarakat.(*)