KETIK, JAKARTA – Pemerintah menargetkan seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia sudah menjual bahan bakar biodiesel B50 mulai 1 Oktober 2026.
Penerapan penuh tersebut merupakan lanjutan dari program mandatori B50 yang telah resmi diberlakukan sejak 1 Juli 2026 dengan masa transisi selama tiga bulan.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan, saat ini implementasi B50 masih dilakukan secara bertahap untuk memastikan kesiapan dari berbagai aspek, mulai dari pasokan, distribusi, hingga penggunaan pada kendaraan dan mesin diesel.
"Ditargetkan pada 1 Oktober 2026, seluruh SPBU sudah menjual B50," ujar Muhammad Qodari, Senin 13 Juli 2026.
Qodari menjelaskan, program mandatori B50 merupakan kebijakan strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga:
Diduga Jadi 'Raja Minyak' Halmahera Selatan, Pertamina Sebut Ino Cuma Driver Tangki"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional," katanya.
Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Selain itu, juga memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia.
Qodari menyebut pemerintah telah melakukan berbagai persiapan untuk mendukung penerapan penuh B50. Dari sisi teknis, pengujian penggunaan B50 telah dilakukan pada berbagai sektor pengguna mesin diesel guna memastikan kinerja, keamanan, dan kesesuaiannya.
"Dari aspek pasokan dan distribusi, pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran (blending) dan distribusi," kata Qodari.
Baca Juga:
Prabowo Sebut B50 Hemat Devisa Rp170 TriliunPenerapan B50 juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang besar. Pemerintah memperkirakan kebijakan tersebut mampu menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026.
"Program ini diarahkan untuk menghentikan impor solar sepenuhnya. B50 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026," tuturnya. (*)