"Uang bisa dicari lagi, tapi kalau kita stres sampai sakit, siapa yang tanggung jawab?"

Kalimat ini sering muncul di media sosial, menjadi status WhatsApp yang penuh keluh kesah, atau mungkin kita sendiri yang sering mengucapkannya setiap Jumat sore, ketika badan sudah capek setelah kerja atau kuliah seminggu penuh. 

Kalimat tersebut seolah menjadi mantra pembebas untuk membenarkan tindakan apa pun yang akan kita lakukan selanjutnya demi menyenangkan hati yang sedang gundah. Menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kesehatan mental kita yang mulai rapuh.

Saat otak mentok karena deadline yang mepet atau bos yang cerewet, muncul dorongan instan: "Beli ini aja, buat self-reward. Kan udah kerja keras!" Kita langsung buka aplikasi belanja, pesan barang mahal yang sebenarnya belum terlalu kita butuhkan, atau memesan makanan enak melalui layanan ojek online. 

Setelah menekan tombol transfer, rasanya ada semacam hormon dopamin yang meledak di dalam kepala. Rasa lega dan puas. Kita seakan-akan sudah menghadiahi diri dengan layak, merasa bahwa semua peluh dan air mata selama hari kerja telah terbayar lunas dalam hitungan detik.

Baca Juga:
Mengubah Kesadaran Palsu di Medsos Menjadi Aksi Nyata Pekerja Sosial

Tapi jujur deh, berapa lama kebahagiaan itu bertahan? Mungkin cuma beberapa jam, atau paling lambat sampai kurir barang mengetuk pintu rumah kita. Begitu barang dibuka, sensasi magisnya hilang. Besoknya kita malah panik karena lihat saldo ATM menipis sebelum pertengahan bulan. 

Inilah jebakan self-reward yang sering kali tidak kita sadari. Niatnya baik, menghibur diri supaya nggak stres. Tapi kalau kebablasan, aktivitas ini malah menjadi bumerang yang membuat dompet berteriak kesakitan. 

Menghadiahi diri sendiri itu wajar dan manusiawi. Sebagai makhluk hidup, kita memang membutuhkan apresiasi agar motivasi tetap terjaga. Masalahnya, banyak dari kita yang salah menafsirkan maknanya di era modern ini.

Self-reward bukan lagi tentang apresiasi atas sebuah pencapaian yang nyata setelah melewati proses panjang, melainkan telah bergeser menjadi pelampiasan saat sedang kesal, sedih, kecewa, atau bosan. 

Baca Juga:
Hukum Tajam ke Mana?

Fenomena ini dalam dunia psikologi sering disebut sebagai retail therapy atau emotional spending, di mana seseorang menggunakan uang belanja sebagai alat untuk mengobati emosi negatifnya.

Kita pun menjadi sangat pandai mencari pembenaran untuk kebiasaan boros ini dengan dalih: "Cari duit capek-capek kan buat dinikmati sekarang, belum tentu besok masih hidup." Kedengarannya santai dan terkesan sangat menikmati hidup. 

Namun, jika ditelaah lebih dalam, pola pikir seperti ini sangat berbahaya. Ini adalah bentuk penyangkalan terhadap realitas masa depan, sebuah cara instan untuk menghancurkan finansial yang seharusnya kita persiapkan dengan matang.

Padahal, jika melihatnya dari sudut pandang yang lebih bijak, bahkan dalam ajaran Islam, menghargai diri sendiri itu sangat diperbolehkan sebagai bentuk syukur atau sebagai motivasi untuk berbuat kebaikan yang lebih besar lagi. 

Namun, penghargaan terhadap diri ini berubah menjadi sifat boros yang merugikan di dunia dan akhirat jika dilakukan secara berlebihan hingga mengabaikan fungsi harta yang lain.

Harta dalam pandangan spiritual bukan hanya instrumen pemuas nafsu saat ini, melainkan amanah yang di dalamnya terdapat hak untuk masa depan kita sendiri melalui tabungan, serta hak orang lain melalui zakat, infak, atau sedekah.

Self-reward yang ugal-ugalan seringkali jatuh pada kategori menuruti hawa nafsu semata, sebuah tindakan konsumtif yang dalam istilah agama disebut tabzir (menghambur-hamburkan harta pada hal yang tidak membawa maslahat nyata). 

Perilaku ini digambarkan secara tegas dan nyata sebagaimana yang termaktub dalam Surah Al-Isra' Ayat 26: "...Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros." Ayat ini menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa sifat boros untuk kesenangan ego sesaat adalah bentuk kelalaian yang nyata.

Kalau kita menarik benang merahnya dari fenomena ini, membeli kesenangan sesaat dengan mengorbankan tabungan masa depan bukanlah bentuk sayang pada diri sendiri yang sesungguhnya. Justru, tindakan itu bisa mempersulit hidup kita ke depan. 

Rasa cemas karena tidak punya dana darurat saat ada kebutuhan mendesak—seperti sakit tiba-tiba atau kehilangan pekerjaan—akan jauh lebih mengganggu kesehatan mental dalam jangka panjang dibanding rasa lelah karena lembur kerja di hari biasa.

Rasa aman secara finansial (financial security) ternyata memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap ketenangan pikiran manusia.

Lalu, bagaimana cara kita untuk tetap bisa menikmati hidup tanpa harus jatuh miskin akibat boros? Kuncinya adalah mengenali batas yang tegas antara kebutuhan, keinginan, dan pelarian emosional.

Kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa mahal barang yang kita miliki, melainkan seberapa damai pikiran kita saat menjalani hidup.

Mari kita coba belajar menerapkan prinsip "tahan dulu" saat keinginan belanja itu muncul sebagai pelampiasan stres. Jangan gegabah. Tunggu sampai besok. Setelah tidur yang cukup, pikiran menjadi lebih tenang, biasanya dorongan impulsif untuk membeli barang tersebut akan ikut menguap. 

Sebab seringkali setelah emosi kita stabil, kita baru sadar dan bergumam dalam hati: "Eh, ternyata nggak butuh-butuh amat, cuma pengen beli karena kemarin lagi kesal aja."

Kebahagiaan terbaik untuk tubuh yang lelah sebenarnya bisa didapatkan secara gratis dan jauh lebih efektif untuk memulihkan energi kita, seperti tidur siang berkualitas di akhir pekan tanpa diganggu oleh bunyi chat pekerjaan yang toxic, mandi air hangat setelah seharian beraktivitas sambil mendengarkan musik di Spotify, atau sekadar jalan sore santai di taman sekitar rumah tanpa sibuk memegang HP untuk kepo urusan orang lain. 

Aktivitas sederhana yang berfokus pada ketenangan ini benar-benar memberikan istirahat total pada otak dan fisik. Bukan malah menambah beban pikiran baru di tanggal tua karena melihat saldo ATM yang makin kritis. 

Hidup di zaman sekarang memang penuh dengan tekanan, sangat melelahkan, dan wajar banget kalau kita sesekali pengen rehat, melepaskan penat, serta memanjakan diri sendiri. Namun ingat, bentuk kasih sayang terbaik untuk diri sendiri bukanlah kemewahan semu yang habis dalam sehari, melainkan sebuah rasa aman.

 Dan rasa aman itu hanya akan muncul kalau kita tahu hidup kita ke depannya bakal baik-baik saja karena memiliki perencanaan yang matang. Self-reward yang sehat itu nggak akan bikin kita jatuh miskin atau merasa bersalah setelahnya, karena tugas utamanya adalah menenangkan hati yang lelah, bukan menguras habis isi dompet.

*) Dwiki Anggaeni Prasetya merupakan mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)