KETIK, SURABAYA – Prestasi membanggakan ditorehkan putri muda asal Kota Surabaya. Namanya Ghifara Denok Prameswari atau akrab disapa Ghia. Ia berhasil meraih gelar Winner Puteri Kebaya Indonesia 2026 pada ajang Pemilihan Puteri Kebaya Indonesia 2026 yang digelar di Merbabu Merapi Hotel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2-4 Juli 2026.

Di balik senyum anggunnya, Ghia membawa semangat besar untuk memperkenalkan kebaya kepada generasi muda Indonesia. Keberhasilan pelajar kelas VIII SMP Negeri 3 Surabaya itu menjadi bukti bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berprestasi sekaligus mengambil peran dalam pelestarian budaya bangsa.

Remaja berusia 13 tahun kelahiran Surabaya tersebut mengaku telah mengenal kebaya sejak usia dini. Kedekatannya dengan dunia seni, khususnya menari, lalu menjadi sinden hingga mengoleksi berbagai jenis kebaya sejak kecil, membuat kecintaannya terhadap busana tradisional Indonesia tumbuh secara alami.

"Bagi saya, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi simbol keanggunan, kekuatan perempuan, sekaligus jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan," ungkap Ghia saat diwawancarai usai menerima gelar Winner Puteri Kebaya Indonesia 2026.

Kecintaannya terhadap seni budaya juga terlihat dari berbagai aktivitas di sekolah maupun di luar sekolah. Ghia aktif sebagai anggota OSIS SPEGA, Scout SPEGA, Karawitan Spega Laras, Spega Voice, Talenta Spega, Band Spega serta menjadi bagian dari Jaranan Cilik Atmojo Satrio Prameswari dan Ludruk Arboyo.

Baca Juga:
Wagub Jatim Emil Bongkar Masalah Anjloknya Harga Telur, Fokuskan Produksi Peternak hingga Distribusi

Ia berpendapat pelestarian kebaya harus dimulai sejak usia anak-anak dan remaja. Ghia ingin menghapus anggapan bahwa kebaya merupakan busana kuno yang hanya dikenakan pada acara tertentu. Sebaliknya, kebaya dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan dengan tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budayanya.

Denok Preswari setelah dinobatkan sebagai Putri Kebaya 2026 bersama para juara lainya. (Foto : Lilik for ketik.com)

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Ghia telah menyiapkan program advokasi bertajuk WIDAYA (Wicara Berdaya dan Berbudaya). Program ini berfokus pada workshop filosofi kebaya, kampanye digital serta kolaborasi dengan berbagai komunitas budaya agar semakin banyak generasi muda mengenal dan mencintai kebaya.

"Melalui WIDAYA saya ingin mengajak anak-anak dan remaja agar bangga memakai kebaya. Kebaya harus terus hidup dan menjadi bagian dari keseharian generasi muda Indonesia," ujarnya.

Baca Juga:
Konser Denny Caknan di Surabaya Expo Center Makan Korban! 11 Penonton Dirujuk ke RSUD Soewandhie

Dalam perjalanan menuju gelar juara, Ghia mengaku menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Ia harus mengikuti sejumlah tahapan kompetisi yang menguji kemampuan, pengetahuan hingga mental para finalis.

Salah satu tantangan terberat adalah saat harus menampilkan berbagai jenis kebaya dengan pembawaan yang anggun dalam catwalk challenge. Selain itu, ia juga dituntut menampilkan kolaborasi bakat berupa menyinden, bermain gamelan dan pertunjukan jaranan dalam satu penampilan yang memikat para dewan juri.

Tak hanya itu, tantangan berbicara di depan publik juga menjadi pengalaman berharga bagi Ghia. Ia harus menyampaikan pidato dalam sesi speech challenge sekaligus menjawab pertanyaan para juri pada sesi tanya jawab di atas panggung di hadapan ratusan penonton.

Meski demikian, Ghia mengaku selalu berpegang pada prinsip hidup "Beauty, Brain, Behavior". Baginya, kecantikan harus diiringi dengan kecerdasan, sikap yang baik, serta kepedulian terhadap lingkungan dan budaya.

Sementara itu, sosok inspirasinya adalah Firsta Yufi Amarta Putri, yang dinilainya mampu menunjukkan bahwa perempuan Indonesia dapat tampil berprestasi sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

Ajang Puteri Kebaya Indonesia 2026 diselenggarakan PT Putra Anta Gemilang dengan diikuti finalis dari berbagai provinsi di Indonesia. Sebanyak 17 finalis kategori cilik, 25 finalis kategori remaja, dan 17 finalis kategori dewasa mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari arrival, sashing ceremony, deep interview, koreografi, penampilan bakat, preliminary hingga grand final

Para peserta juga diuji melalui berbagai tahapan, yaitu performa bakat Top 5, urban kebaya catwalk challenge, speech challenge, glamour kebaya challenge, sesi Q & A hingga last standing Top 2 sebelum akhirnya diumumkan para pemenang.

Dewan juri berasal dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari desainer, praktisi pariwisata, public speaking, hingga koreografer nasional.

Kegiatan ini turut mendapat apresiasi dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon yang menyampaikan ucapan selamat atas terselenggaranya Puteri Kebaya Indonesia 2026. Ia berharap kegiatan tersebut terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan menghargai budaya bangsa.

Apresiasi juga disampaikan Wakil Menteri Pariwisata Niluh Enik Ermawati yang berharap lahir duta-duta budaya berwawasan luas dan berkomitmen mempromosikan kebaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Setelah dinobatkan sebagai Putri Kebaya 2026 Denok Preswari banyak menerima ucapan selamat. (Foto : Lilik for ketik.com)

Di sis lain, dukungan terbesar dalam perjalanan Ghia datang dari kedua orang tuanya, Sulsatiyo, S.Pd., Gr. dan Lilik Anani, S.Pd., yang selama ini selalu mendampingi serta memberikan motivasi untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Indonesia melalui berbagai kegiatan seni.

Kini, setelah menyandang gelar Winner Puteri Kebaya Indonesia 2026, Ghia berharap amanah yang diterimanya dapat menjadi langkah awal untuk menggerakkan semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan Indonesia, agar bangga mengenakan kebaya dalam berbagai kesempatan.

"Sebagai perempuan, mari kita jaga marwah keanggunan dan saling menginspirasi untuk terus menebar kebaikan tanpa pamrih. Bersama-sama kita lestarikan kebaya sebagai warisan budaya yang menjadi kebanggaan Indonesia," pungkasnya saat ditemui ketik.com. (*)