KETIK, LEBAK – Tradisi tahunan Seba Baduy 2026 tidak hanya menjadi peristiwa budaya yang sarat makna, tetapi juga terbukti memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat di Kabupaten Lebak.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, M. Yosep Holis, dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu 26 April 2026.
“Alhamdulillah, pelaksanaan Seba Baduy tahun ini bukan hanya menjaga kelestarian budaya leluhur, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Dari data yang kami himpun, jumlah pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 35 ribu orang, dengan rata-rata belanja sebesar Rp50 ribu per orang,” ujar Yosep.
Ia menjelaskan, dari perhitungan tersebut, perputaran ekonomi langsung selama rangkaian kegiatan diproyeksikan mencapai sekitar Rp1,75 miliar.
Angka ini berasal dari berbagai sektor pengeluaran wisatawan, seperti kuliner, kerajinan khas Baduy, transportasi lokal, hingga jasa lainnya.
Baca Juga:
PPI Lebak Kawal Ketat Kedatangan Warga Baduy di Seba Baduy 2026“Belanja wisatawan itu langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama pelaku UMKM, pedagang, perajin, hingga penyedia jasa transportasi dan penginapan. Ini menjadi bukti bahwa budaya bisa menjadi energi penggerak ekonomi,” katanya.
Lebih lanjut, Yosep menambahkan bahwa dampak ekonomi tidak hanya berhenti pada transaksi langsung. Efek lanjutan atau multiplier effect juga turut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau kita akumulasikan dengan dampak tidak langsung, seperti terbukanya lapangan kerja sementara, meningkatnya promosi produk lokal, serta potensi kunjungan wisata berkelanjutan, total dampak ekonomi Seba Baduy 2026 diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp2,8 miliar,” jelasnya.
Menurutnya, berbagai rangkaian kegiatan dalam Seba Baduy, mulai dari ritual adat, kemah budaya, bazar UMKM, hingga pagelaran seni, menjadi magnet yang kuat dalam menarik wisatawan.
Baca Juga:
Iwan Kurniawan Nilai Ritual Baduy Perkuat Hubungan Pemerintah dan Masyarakat“Ini yang kita dorong, bagaimana budaya tetap terjaga, namun juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. UMKM lokal, perajin tenun Baduy, pengrajin bambu dan rotan, hingga produk unggulan seperti madu hutan dan gula aren semuanya mendapatkan manfaat,” ucap Yosep.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat adat Baduy, serta pelaku usaha lokal.
“Harapannya, Seba Baduy ke depan bisa terus menjadi agenda budaya yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi daerah. Karena pada dasarnya, ketika budaya dijaga, maka kesejahteraan masyarakat juga ikut meningkat,” pungkasnya.(*)