KETIK, YOGYAKARTA – Fenomena sandwich generation masih menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga di Indonesia. Tidak sedikit generasi produktif yang harus menanggung kebutuhan ekonomi orang tua sekaligus membiayai kehidupan anak dan keluarganya sendiri.

Perencana keuangan yang juga ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, Ph.D., CFP, menilai salah satu akar persoalan tersebut adalah lemahnya kesiapan finansial sebagian masyarakat dalam menghadapi masa pensiun.

Menurutnya, pekerja informal dan wirausahawan menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak memiliki mekanisme dana pensiun otomatis sebagaimana pekerja formal. Kondisi tersebut membuat mereka harus menyiapkan sendiri tabungan atau investasi untuk kebutuhan hari tua.

Karena itu, Eddy menyarankan kelompok pekerja nonformal mulai menyisihkan sebagian pendapatannya secara rutin sejak usia produktif.

“Sebaiknya wirausaha dan pekerja informal menyisihkan 10-20% untuk tabungan hari tua atau investasi,” ujarnya.

Baca Juga:
41,75 Persen Lansia Masuk Kelompok Rentan Ekonomi, Ekonom Soroti Lemahnya Sistem Pensiun

Ia menilai disiplin finansial menjadi faktor penting untuk memastikan masyarakat tetap memiliki sumber pendapatan saat memasuki usia lanjut. Dengan persiapan yang memadai, ketergantungan kepada anak atau anggota keluarga lain dapat dikurangi.

Menurut Eddy, pembenahan sistem jaminan hari tua dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menabung untuk pensiun akan membantu mengurangi beban ekonomi generasi berikutnya.

“Sandwich generation itu sangat menyiksa. Apabila kebijakan pemerintah dan perusahaan diperbaiki, niscaya itu dapat membantu para pensiunan serta membantu generasi berikutnya,” tuturnya.

Persoalan kesiapan pensiun tersebut tidak terlepas dari tingginya jumlah lansia yang masih berada dalam kelompok ekonomi rentan. Data BPS menunjukkan sebanyak 41,75 persen lansia berada dalam rumah tangga dengan distribusi pengeluaran 40 persen terbawah.

Baca Juga:
OJK Dorong Literasi Keuangan Perempuan, 64,5 Persen Pelaku UMKM Dikelola Kaum Ibu

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak masyarakat belum memiliki perlindungan ekonomi yang memadai ketika memasuki masa tua sehingga masih berisiko mengalami kesulitan finansial.

Di sisi lain, Eddy juga mendorong pemerintah memperbaiki skema dana pensiun nasional. Menurutnya, kontribusi yang berlaku saat ini masih terlalu rendah untuk menghasilkan dana pensiun yang cukup.

Ia mengusulkan agar iuran pekerja ditingkatkan menjadi 5 hingga 6 persen dari gaji, sementara perusahaan menambah kontribusi menjadi 8 hingga 9 persen dari gaji kotor.

“Angka yang memadai sekitar 14-15% dari gaji kotor walau itupun kemungkinan masih pas-pasan di kemudian hari, tetapi tetap lebih baik daripada sistem sekarang,” jelasnya.

Menurut Eddy, kombinasi antara reformasi sistem pensiun dan peningkatan literasi keuangan masyarakat akan menjadi fondasi penting untuk menciptakan masa tua yang lebih sejahtera sekaligus mengurangi beban generasi produktif di masa depan. (*)