KETIK, SITUBONDO – Dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad saw, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo kembali menggelar tradisi Kirab Ancak Agung sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Situbondo, Sabtu 15 Agustus 2026.
Tradisi Kirab Ancak Agung kali ini berbeda dengan tahun-tahun lalu. Momentum peringatan keagamaan tahun ini terasa istimewa karena bertepatan langsung dengan Harjakasi dan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Acara ini juga diikuti berbagai komunitas mulai dari Tionghoa, Hindu dan Kristen.
Sebanyak 2.400 Ancak Agung diarak dari dua titik utama, yakni dari arah barat (depan Pemda Situbondo) dan arah timur (depan Toko New Delhi).
Kedua rombongan defile tersebut berjalan secara beriringan menuju titik temu di tengah, yaitu depan Pendopo Rakyat Situbondo dan Alun-Alun Kota Situbondo.
Baca Juga:
Bupati Situbondo Kukuhkan Paskibraka, Upacara Dialihkan ke Alun-Alun Besuki“Ancak yang diarak berisi aneka hasil bumi seperti buah-buahan, sayur mayur, telor dan lainnya. Tradisi ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa sukacita dan ungkapan syukur masyarakat dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw,” kata Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Lebih lanjut, Bupati Situbondo mengatakan, penyelenggaraan Kirab Ancak Agung kali ini menghadirkan suasana berbeda dengan melibatkan berbagai elemen dan lintas komunitas, seperti masyarakat Tionghoa, Arab, hingga Bali.
Keterlibatan lintas komunitas ini menjadi gambaran nyata dari semangat moderasi beragama di Kabupaten Situbondo, di mana beragam elemen masyarakat saling menghormati dan bersatu untuk meramaikan warisan budaya lokal.
“Tradisi Ancak Agung merupakan tradisi yang telah berkembang di Situbondo secara turun menurun. Kirab budaya ancak Agung ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat,” tutur Bupati Situbondo.
Baca Juga:
Karnaval Budaya di Situbondo Berlangsung Meriah, Bupati Janjikan Peningkatan KualitasLebih lanjut, Mas Rio mengatakan, beragam hasil bumi yang dibentuk serta dihias kemudian diarak dalam sebuah pawai budaya dan dikumpulkan di Alun-Alun lalu didoakan. Setelah didoakan, ancak-ancak tersebut menjadi rebutan masyarakat yang mengikuti prosesi pengajian.
“Saya berharap tradisi tersebut terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Selain memiliki nilai religius, Kirab Ancak Agung juga menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang memperkuat identitas Kabupaten Situbondo," jelasnya.
"Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diajak menikmati kemeriahan kirab, tetapi juga bersama-sama menjaga warisan budaya dan mempererat tali silaturahmi,” pungkas Mas Rio. (*)