KETIK, PEMALANG – Tradisi Ruwat Alam yang diselenggarakan Yayasan Sabda Manunggal Pamalang di Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang kembali digelar meriah pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-16, kegiatan tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur atas hasil bumi sekaligus upaya melestarikan budaya warisan leluhur.
Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya yang melibatkan berbagai simbol dan tokoh berfilosofi, dilanjutkan prosesi larungan buang sengkolo, serta ditutup pagelaran wayang kulit oleh dalang Mangun Yuwono, S.Sn., dari Pemalang.
Ketua Umum Yayasan Sabda Manunggal Pamalang, Erwin Suryadi, mengatakan Ruwat Alam telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2010 sebagai bentuk komitmen dalam menjaga tradisi dan budaya lokal.
"Ini merupakan kegiatan rutin yang kami jalankan sejak tahun 2010 dan sekarang memasuki penyelenggaraan yang ke-16. Arak-arakan budaya menjadi bagian dari prosesi Ruwat Alam, kemudian dilanjutkan dengan larungan buang sengkolo, dan malam harinya ditutup dengan pagelaran wayang kulit," ujar Erwin.
Baca Juga:
Peringati Tahun Baru Islam, Pemdes Kebandungan Pemalang Santuni 26 Anak Yatim dan Gelar Sunat MassalMenurutnya, setiap simbol yang ditampilkan dalam kirab budaya memiliki makna filosofis tentang kehidupan manusia.
Ia menjelaskan, prosesi diawali dengan sosok Among Tani yang melambangkan masyarakat agraris yang bergantung pada hasil pertanian. Selanjutnya ditampilkan figur ratu sebagai simbol kepemimpinan dan kerajaan, hingga berbagai representasi kehidupan, termasuk unsur pemerintahan serta makhluk yang terlihat maupun tidak terlihat.
"Melalui simbol-simbol itu kami ingin menggambarkan bahwa manusia hidup berdampingan dengan seluruh ciptaan Tuhan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat," katanya.
Baca Juga:
Bagus Sutopo Resmi Dilantik Jadi Sekda Pemalang, Bupati Anom Tekankan Transformasi BirokrasiErwin juga menjelaskan filosofi Alif, Lam, Mim yang menjadi salah satu nilai dasar Yayasan Sabda Manunggal. Menurutnya, Alif melambangkan hubungan manusia dengan Allah SWT, Lam melambangkan alam semesta, sedangkan Mim melambangkan masyarakat atau manusia. Ketiga unsur tersebut harus senantiasa dijaga keseimbangannya.
Ia menambahkan, Peguyuban Sabda Manunggal 212 yang berdiri sejak 2007 kini memiliki sekitar 477 anggota yang berasal dari berbagai daerah, di antaranya Brebes, Depok, Lampung, Madura, hingga Bangka.
Erwin berharap masyarakat dapat memahami bahwa Ruwat Alam merupakan bagian dari pelestarian budaya yang sarat nilai filosofi dan tidak sekadar menjadi tradisi tahunan.
"Kami berharap masyarakat bisa melihat bahwa kegiatan ini adalah bentuk nguri-uri budaya agar tidak hilang ditelan zaman. Alhamdulillah, Pemerintah Desa Kelangdepok selalu mendukung kegiatan kami, bahkan Bupati Pemalang juga memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Ruwat Alam ini," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kelangdepok, Samsul Huda, mengapresiasi konsistensi Yayasan Sabda Manunggal dalam menyelenggarakan Ruwat Alam setiap tahun.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat dan hasil bumi yang diberikan Allah SWT, sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal.
"Ini adalah bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Selain sebagai pelestarian budaya, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan masyarakat," ujarnya.
Samsul mengatakan Pemerintah Desa Kelangdepok terus menjalin koordinasi dengan Yayasan Sabda Manunggal agar pelaksanaan kegiatan budaya berjalan selaras dengan program pembangunan desa.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.
"Budaya harus kita jaga bersama. Siapa lagi kalau bukan kita sebagai generasi penerus bangsa. Budaya menjadi salah satu benteng untuk menjaga kerukunan masyarakat, berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan dan sosial," katanya.
Menurut Samsul, kegiatan Ruwat Alam tidak bertentangan dengan ajaran agama karena seluruh rangkaian acara diawali dengan kegiatan sosial berupa santunan kepada anak yatim sebelum ditutup dengan pagelaran wayang kulit.(*)