KETIK, BATU – Sejumlah isu dunia usaha menjadi bahasan dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Provinsi (Rakerkonprov) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur 2026 di Senyum World Hotel, Kota Batu.

Mulai dari tingginya UMK hingga tantangan investasi dibahas sebagai langkah menjaga daya saing ekonomi daerah.

Forum yang berlangsung pada 21-23 April 2026, menjadi ajang konsolidasi organisasi, sekaligus dimanfaatkan untuk merumuskan langkah menghadapi tantangan ekonomi nasional maupun global.

Ketua DPP Apindo Jawa Timur, Eddy Widjanarko, menegaskan pentingnya penguatan internal organisasi sebagai fondasi menghadapi dinamika ekonomi ke depan.

“Kami terus memperkuat organisasi. Tahun lalu kegiatan digelar di Banyuwangi, tahun ini di Kota Batu. Kepemimpinan di daerah harus diperkuat karena akan memberi dampak besar bagi perkembangan ekonomi wilayah,” ujarnya.

Baca Juga:
Kejari Batu Musnahkan Barang Bukti 28 Perkara, Didominasi Narkotika dan Obat Terlarang

Dalam forum tersebut, Apindo juga menyoroti tingginya upah minimum kabupaten/kota (UMK) di sejumlah daerah, khususnya di kawasan ring 1 Jawa Timur.

Kondisi itu dinilai perlu dikaji agar tetap menjaga keseimbangan antara kesejahteraan pekerja dan keberlangsungan dunia usaha.

“UMK di beberapa daerah bahkan sejajar atau lebih tinggi dibanding kawasan industri di Jawa Barat seperti Bekasi dan Karawang. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini berpotensi membuat industri kesulitan bertahan,” katanya.

Ia menambahkan, solusi terbaik adalah membangun dialog terbuka antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja guna menemukan titik temu yang proporsional.

Baca Juga:
Pendaftaran Sekda Kota Batu Ditutup, 9 Pejabat Ikut Seleksi Terbuka

“Persaingan ekonomi saat ini bukan lagi antarnegara, tetapi antarprovinsi yang sama-sama berlomba menarik investasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum DPN Apindo, Sani Iskandar, menekankan pentingnya kolaborasi antara tiga pilar utama, yakni pengusaha, pemerintah, dan pekerja, dalam menjaga daya saing nasional.

“Kolaborasi tersebut menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kesejahteraan tenaga kerja,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan dampak tekanan global terhadap dunia usaha, seperti kenaikan harga energi dan terganggunya pasokan bahan baku industri.

“Kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya logistik dan produksi. Sejumlah sektor seperti plastik, makanan dan minuman, hingga nikel mulai merasakan tekanan,” jelasnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Batu, Heli Suyanto, menilai Apindo memiliki peran strategis dalam mendorong investasi, khususnya di sektor jasa dan pariwisata yang menjadi unggulan daerah.

“Para pengusaha memiliki wadah melalui Apindo. Ini bisa menjadi motor penggerak untuk membuka peluang investasi yang lebih luas di Kota Batu,” katanya.

Ia menyebut, meski kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya stabil, realisasi investasi di Kota Batu justru menunjukkan tren peningkatan signifikan.

“Di tengah situasi saat ini, investasi di Kota Batu justru meningkat hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Dengan keterbatasan lahan, Pemerintah Kota Batu memfokuskan pengembangan pada sektor jasa, perhotelan, pariwisata, serta penguatan UMKM sebagai penopang ekonomi lokal.

“Kami juga mendorong UMKM melalui pelatihan dan workshop, terutama dalam hal branding dan pengembangan usaha, agar mereka bisa naik kelas dan lebih mandiri,” tambahnya.

Ketua Panitia Rakerkonprov Apindo Jatim 2026, Suryo Widodo, menyampaikan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antar pelaku usaha dan pemangku kepentingan.

“Melalui forum ini, kami menegaskan komitmen untuk menjaga produktivitas, memperkuat investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, baik di Kota Batu, Jawa Timur, maupun secara nasional,” pungkasnya.(*)