KETIK, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing mulai memberikan tekanan kepada sejumlah pelaku usaha kecil yang masih mengandalkan bahan baku impor.

Salah satu sektor yang merasakan dampaknya adalah usaha tahu dan tempe yang bergantung pada pasokan kedelai dari luar negeri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat pelaku usaha rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Ketika rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku meningkat sehingga berdampak langsung pada struktur biaya produksi.

"Penjual tahu dan penjual tempe sudah tergerus. Akhirnya, keuntungannya hanya bisa dipertahankan dengan menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor," kata Purbaya belum lama ini.

Baca Juga:
Menkeu Purbaya Ungkap Penyebab Melemahnya Nilai Tukar Rupiah hingga Anjloknya IHSG

Meski demikian, pemerintah menilai dampak pelemahan rupiah belum sampai menyebabkan penurunan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Hingga saat ini, indikator konsumsi rumah tangga dinilai masih relatif terjaga meskipun sejumlah pelaku usaha menghadapi tekanan dari sisi biaya.

"Jadi, ke depan kita akan fokus memastikan kebijakan fiskal berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan ekonomi kita semakin cepat," jelasnya.

Purbaya menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar menjadi salah satu langkah penting untuk menekan biaya impor bahan baku.

Baca Juga:
Rupiah Terpuruk Tembus Rp18.049, Akademisi UM Bongkar Dampaknya bagi Ekonomi RI

Dengan kurs yang lebih stabil, beban yang ditanggung pelaku usaha kecil dapat dikurangi sehingga aktivitas produksi tetap berjalan dengan baik.

"Tentu kami juga meningkatkan koordinasi dengan bank sentral, memperkuat koordinasi agar kebijakan semakin sinkron," jelasnya. (*)