KETIK, BLITAR – Penanganan terhadap 20 siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Blitar terus dilakukan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar mencatat dari 20 siswa tersebut, sebanyak 18 orang sempat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan, sedangkan dua lainnya tidak menjalani perawatan karena kondisinya telah membaik.
Puluhan siswa tersebut berasal dari dua sekolah, yakni SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh.
Keduanya menerima distribusi makanan MBG dari SPPG Cik Ditiro yang diketahui berada di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari Kota Blitar.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Blitar, Endang Purwono, mengatakan 16 dari 18 siswa yang mendapatkan penanganan medis dirawat di Puskesmas Kepanjenkidul.
Baca Juga:
Siswa SLB Blitar Tumbang Usai Santap MBG, Sekolah Sempat Diminta Hentikan KonsumsiSementara satu siswa dibawa ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar dan satu lainnya mendapat penanganan di Klinik Siti Khodijah.
“Total ada 20 siswa yang mengalami keluhan. Sebanyak 18 siswa kami lakukan penanganan di fasilitas kesehatan, sedangkan dua lainnya kondisinya sudah membaik,” ujar Endang saat ditemui di kantor Dinkes Kota Blitar, Kamis 17 September 2026.
Dengan rincian tersebut, tidak seluruh siswa yang mengalami keluhan harus mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.
Dua siswa lainnya disebut telah membaik setelah mendapatkan penanganan awal, termasuk mengonsumsi air kelapa.
Baca Juga:
BGN Terus Pantau Kualitas SPPG, 654 Diusulkan Tutup PermanenSementara siswa yang menjalani pemeriksaan medis juga telah diperbolehkan kembali ke rumah.
Salah satu siswa sempat mengalami kondisi hingga pingsan sehingga dirujuk ke RSUD Mardi Waluyo.
“Bahkan ada yang sampai pingsan dan dirujuk ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar,” kata Endang.
Di tengah penanganan para siswa, Dinkes juga melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi.
Salah satu sampel yang diperiksa adalah rolade telur.
Dari pemeriksaan awal, Dinkes menemukan adanya kandungan logam berat berupa arsen pada sampel tersebut.
Namun, Dinkes menegaskan temuan itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa arsen menjadi penyebab keluhan kesehatan para siswa.
“Dari pemeriksaan awal terhadap sampel makanan, ditemukan adanya kandungan logam berat, yaitu arsen pada rolade telur. Namun ini masih pemeriksaan awal dan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan hasilnya,” jelas Endang.
Artinya, masih terdapat tahapan pemeriksaan yang harus dilakukan sebelum dapat diketahui secara pasti apakah temuan pada sampel makanan memiliki hubungan dengan kondisi kesehatan para siswa.
Pengujian lanjutan juga diperlukan untuk memastikan kadar arsen sekaligus menelusuri sumber kemungkinan kontaminasi pada makanan.
Dari sisi sekolah, makanan MBG yang dibagikan di SLB Negeri 1 Kota Blitar terdiri dari nasi, rolade telur, melon, tahu dan tumis kacang.
Makanan tersebut tiba sekitar pukul 08.30 WIB dan sebagian siswa telah menyantapnya sebelum sekolah menerima informasi agar konsumsi dihentikan.
Waka Sarpras SLB Negeri 1 Kota Blitar, Yulia, mengatakan sekolah kemudian menarik makanan yang masih tersisa dan meminta siswa tidak melanjutkan konsumsi.
“Begitu ada informasi, kami langsung mengambil kembali makanan yang sudah dibagikan. Yang masih tersisa tidak dilanjutkan untuk dikonsumsi,” ujarnya.
Tidak lama berselang, sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut, pusing hingga lemas.
Beberapa siswa bahkan dilaporkan mengalami pingsan sehingga kemudian mendapatkan penanganan medis.
Yulia menyebut seluruh siswa dari sekolahnya yang sempat mendapatkan perawatan kini telah kembali ke rumah.
“Alhamdulillah semuanya sudah bisa pulang. Tidak ada yang meninggal. Jadi informasi yang menyebut ada anak yang masih dirawat atau menunggu pulang itu perlu diluruskan,” tegasnya.
Sementara itu, pihak SPPG Cik Ditiro belum memberikan keterangan mengenai hasil pemeriksaan awal terhadap makanan maupun kejadian yang dialami para siswa.
Saat dikonfirmasi, staf keamanan SPPG mengarahkan wartawan untuk meminta penjelasan kepada pihak yayasan dan Polres Blitar Kota.
“Langsung ke yayasannya ya, langsung Polres aja ya, jangan foto-foto di bagian dalam, boleh foto tapi depan aja,” ungkapnya.
SPPG Cik Ditiro sendiri berada di bawah naungan Yayasan Kemala Bhayangkari Kota Blitar.
Hingga saat ini, Dinkes masih melakukan proses pemeriksaan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kejadian tersebut.
Data mengenai jumlah siswa yang mengalami keluhan, fasilitas kesehatan tempat mereka mendapat penanganan serta hasil pemeriksaan awal terhadap sampel makanan menjadi bagian dari proses penelusuran.
Dinkes juga masih menunggu pemeriksaan laboratorium lanjutan sebelum dapat menentukan hubungan antara temuan arsen pada rolade telur dengan gangguan kesehatan yang dialami para siswa.