KETIK, MUARA ENIM – Di tengah aktivitas tambang di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mulai menggeser paradigma pemanfaatan batubara.
Tak lagi sekadar sebagai sumber energi, batubara kini diolah menjadi produk bernilai tambah berupa Kalium Humat, yang dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Bukti implementasi Kalium Humat sempat dipamerkan di Desa Tanjung Karangan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Senin, 9 Maret 2026 lalu.
Lahan sawah seluas 0,8 hektar yang sebelumnya menghasilkan sekitar 3,5 ton gabah, meningkat menjadi 4,5 ton setelah menggunakan produk tersebut.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyebut inovasi ini sebagai bentuk transformasi batubara menjadi sumber kehidupan.
Baca Juga:
Kejar Produksi, Kementan Gebrak Tanam Padi Serempak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi"Batubara bukan hanya sumber energi yang dibakar habis, tetapi sumber kehidupan yang terpendam," ujarnya dalam kegiatan panen raya implementasi Kalium Humat.
Menurut Arsal, peningkatan hasil panen tersebut menjadi indikator keberhasilan riset dan pengembangan dalam menciptakan nilai tambah dari komoditas tambang.
Langkah ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim.
Staf Ahli Kemasyarakatan dan SDM, Ulil Amri, menilai pemanfaatan Kalium Humat dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Baca Juga:
Gelar Halal Bihalal, PPPI Trenggalek Bertekad Jaga Eksistensi Sebagai "Pejuang Ketahanan Pangan"Dalam skala lebih luas, hilirisasi batubara ini merupakan bagian dari sinergi antara MIND ID dan PTBA dalam mendorong industrialisasi nasional berbasis sumber daya alam.
Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Arsal mengungkapkan bahwa PTBA tengah menyiapkan pembangunan pabrik Kalium Humat dengan kapasitas produksi hingga 10.000 ton per tahun.
Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi riset dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan ditargetkan menjadi salah satu pilar baru dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional, cadangan batubara yang besar bukan lagi sekadar angka, melainkan peluang keberlanjutan ekonomi.
Melalui inovasi ini, batubara tidak hanya menopang energi nasional, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi sektor pertanian dan kesejahteraan petani.
Sebagai informasi, inovasi tersebut memanfaatkan batubara kalori rendah sebagai bahan dasar pembenah tanah (soil conditioner).
Produk tersebut diklaim mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan hasil panen hingga 30 persen, menjadikannya salah satu terobosan dalam hilirisasi batubara non-energi.
PTBA tercatat memiliki sumber daya batubara sebesar 5,72 miliar ton dengan cadangan mencapai 2,88 miliar ton.
Dengan potensi tersebut, perusahaan mendorong hilirisasi agar batubara kalori rendah yang sebelumnya bernilai ekonomi terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.(*)