Program Seragam Gratis Jombang Jadi Kontroversi, Siapa yang Diuntungkan?

Jurnalis: Syaiful Arif
Editor: Rahmat Rifadin

3 Jul 2025 11:12

Thumbnail Program Seragam Gratis Jombang Jadi Kontroversi, Siapa yang Diuntungkan?
Ilustrasi seragam sekolah. (Foto: Dibuat menggunakan AI)

KETIK, JOMBANG – Polemik ongkos jahit seragam gratis di Jombang yang dinilai jauh di bawah standar harga wajar, membuat legislatif maupun pemerhati publik berang.

Direktur Lingkar Indonesia untuk Keadilan (LInK) Jombang, Aan Anshori menyebut tarif jahit yang diterima penjahit lokal sangat tidak masuk akal.

“Upah bersih yang diterima penjahit di Jombang lebih rendah dari harga pasaran daerah lain. Idealnya minimal Rp110 ribu hingga Rp125 ribu per stel. Fakta di lapangan jauh di bawah itu,” ungkap Aan, Kamis 3 Juli 2025.

Aan bahkan membandingkan ongkos pengadaan dengan harga seragam jadi di toko.

Baca Juga:
PPPK Paruh Waktu Jombang Belum Terima Tambahan Gaji, RSUD Ploso Buka Penyebabnya

“Kalau dihitung total bahan baku dan ongkos jahit, malah lebih mahal dibanding seragam jadi yang dijual Rp150 ribu–Rp160 ribu. Ini pemborosan yang merugikan rakyat,” cetusnya.

Ia mendesak Pemkab Jombang dan DPRD segera turun tangan memastikan pembiayaan seragam sekolah transparan dan adil.

“Kalau upah jahit tak layak, penjahit tak wajib ambil proyek. Jangan mau ditekan dengan dalih program pemerintah,” ujarnya.

DPRD Jombang Bakal Panggil Disdikbud 

Baca Juga:
Workshop Deep Learning Guru SMP Jombang 2026: Disdikbud Tekankan 6 Kompetensi Global dan Pembelajaran Berpusat pada Siswa

Sementara itu Komisi D DPRD tak tinggal diam dan akan segera memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) Jombang untuk menguak transparansi pengadaan seragam sekolah.

“Kami akan segera klarifikasi ke Dinas P&K. Ini tak bisa dibiarkan kabur begitu saja,” tegas Wakil Ketua Komisi D DPRD Jombang, Erna Kuswati, Kamis 3 Juli 2025.

Erna mengungkapkan, selama ini Komisi D hanya mendapat laporan global soal anggaran pendaftaran Jombang dan pengadaan seragam. Namun angka rinci dan pemotongan di lapangan tak pernah disampaikan secara detail.

“Apakah ada potongan pajak, apakah ada celah lain? Kami belum pernah menerima laporan lengkap,” katanya.

Menurut Erna, proyek seragam sekolah gratis di Jombang ini menggunakan sistem e-catalog yang kemudian disubkontrakkan ke penjahit di kecamatan. Namun mekanisme ini justru membuat ongkos jahit diduga ditekan seenaknya.

“Kalau ternyata sistem e-catalog ini dipakai untuk menekan upah penjahit, harus ada tindakan tegas. Jangan sampai program untuk rakyat malah jadi ajang bancakan,” tandasnya.

Selain menyoal ongkos jahit, Komisi D juga mengingatkan Dinas P&K agar distribusi seragam tidak molor. Berdasarkan rapat sebelumnya, seragam wajib dibagikan maksimal Agustus. Namun informasi terbaru, pembagian justru diundur ke September.

“Kami tidak mau ada alasan lagi. Seragam harus segera dibagikan. Pendaftaran Jombang sudah selesai, siswa butuh kepastian, bukan janji,” tegas politisi PKB tersebut.

Kontroversi ongkos jahit dan pendaftaran Jombang ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Program yang seharusnya membantu justru memicu ketidakpercayaan publik.

Sebelumnya, sejumlah penjahit mengungkapkan, besaran ongkos jahit yang mereka terima jauh di bawah pagu resmi yang tercantum dalam sistem e-katalog pengadaan. Untuk seragam SD, pagu tercatat Rp100 ribu per stel. Namun realitanya, mereka hanya mendapatkan Rp85 ribu per potong setelah dipotong pajak. Belum terpotong biaya atribut (emblem), dasi, kancing dan kebutuhan lainnya.

“Setelah dipotong pajak, kita (penjahit) dapat ongkos jahit per stel seragam Rp85 ribu. Itu belum untuk beli kebutuhan lainnya," kata koordinator penjahit wilayah Utara Brantas Jombang berinisial IP, Rabu 2 Juli 2025.

Ironi serupa juga terjadi pada seragam SMP sederajat. Dalam e-katalog, harga jasa jahit dianggarkan Rp115 ribu per stel. Tapi di lapangan, para penjahit hanya menerima informasi pembayaran Rp95 ribu setelah dipotong pajak, bahkan harus menanggung pembelian emblem, logo, hingga jasa pengukuran ke sekolah.

“Kalau SMP itu dapatnya Rp95 ribu, terus beli atribut dan biaya ukur ke sekolah,” jelasnya.

Para penjahit rata-rata harus mendatangi beberapa sekolah untuk pengukuran massal siswa. Proses ini menyita waktu berhari-hari dan membuat kapasitas produksi harian berkurang drastis.

“Bayangkan, dari Rp85 ribu itu kami sudah harus beli emblem, dasi, jahit, ukur, pasang kancing, resleting, sampai kirim seragam ke sekolah. Ini bukan cuma rugi tenaga, tapi bisa rugi modal,” tambahnya.

Belum lagi risiko kesalahan ukuran yang mengharuskan mereka melakukan penyesuaian atau menjahit ulang tanpa tambahan bayaran. (*)

Baca Sebelumnya

Jual Beli Internet Ilegal Tumbuh Subur di Tuban, Modal Numpang Pasang Kabel di Tiang PJU dan Telkom

Baca Selanjutnya

Senator DPD RI ke Grahadi, Khofifah Blak-blakan Beberkan Keunggulan Jatim

Tags:

Disdikbud Jombang pendidikan jombang seragam sekolah seragam gratis

Berita lainnya oleh Syaiful Arif

MBG di Jombang Belum Merata, Zulhas Ungkap Baru 15 Persen Sekolah Berbasis Agama Terlayani

10 April 2026 14:25

MBG di Jombang Belum Merata, Zulhas Ungkap Baru 15 Persen Sekolah Berbasis Agama Terlayani

Kronologi Kecelakaan Truk Muat Paket Seruduk Truk Pasir di Tol Jombang, Dua Meninggal

10 April 2026 10:53

Kronologi Kecelakaan Truk Muat Paket Seruduk Truk Pasir di Tol Jombang, Dua Meninggal

Penghentian Pembangunan Pabrik Ayam di Jombang, DPRD Nilai Ketaatan Perizinan Perusahaan Lemah

9 April 2026 07:20

Penghentian Pembangunan Pabrik Ayam di Jombang, DPRD Nilai Ketaatan Perizinan Perusahaan Lemah

Izin Belum Lengkap, Pabrik Pemotongan Ayam di Jombang Disetop Satpol PP

6 April 2026 14:21

Izin Belum Lengkap, Pabrik Pemotongan Ayam di Jombang Disetop Satpol PP

7 Nama Muncul dalam Muscab PKB Jombang 2026, Uji Kompetensi Jadi Penentu Kepemimpinan Partai

5 April 2026 14:37

7 Nama Muncul dalam Muscab PKB Jombang 2026, Uji Kompetensi Jadi Penentu Kepemimpinan Partai

Anggota DPR RI Sadarestuwati Sosialisasikan Empat Pilar di Jombang, Tekankan Persatuan dan Ketahanan Bangsa

4 April 2026 06:20

Anggota DPR RI Sadarestuwati Sosialisasikan Empat Pilar di Jombang, Tekankan Persatuan dan Ketahanan Bangsa

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar