KETIK, SURABAYA – Warga Surabaya sudah pasti tidak asing dengan nama Eri Cahyadi.
Ia adalah wali kota di Kota Pahlawan yang menjabat selama dua periode, yaitu mulai 2021-2024 dan periode kedua 2025-2030 mendatang.
Sebelum menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, pria kelahiran 27 Mei 1977 ini diketahui merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN), sekaligus seorang birokrat ulung.
Awal kariernya sebagai ASN, Eri Cahyadi diketahui sekitar tahun 2001.
Dimana sebelumnya ia merantau ke Jakarta untuk bekerja sebagai konsultan.
Baca Juga:
Persiapan Super League 2026/2027, Persebaya Gelar TC Tertutup di ThailandSebagai ASN, ia tidak mendapatkan previlage.
Sama seperti lainnya, ia memulai karier sebagai pegawai pemerintahan negara dari bawah.
Eri menjadi staf biasa hingga akhirnya menduduki posisi strategis di Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang.
Seiring berjalannya waktu, karier anak kedua dari tiga bersaudara ini semakin moncer.
Baca Juga:
Dari Perang Bantal hingga Hadiah Ayam, Jamaluddin Idham Hadirkan Keceriaan HUT RI di AbdyaTerlebih ketika Surabaya dipimpin oleh Wali Kota Tri Rismaharini. Ketika itu, Eri ditunjuk menjadi kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh alumnus pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) 2005.
Dari tangannya, banyak inovasi dan terobosan, salah satunya pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB). Ia membuat aturan, IMB dapat diselesaikan di kecamatan
Berkat inovasi dan terobosan itulah karier Eri semakin naik. Tri Rismaharini kemudian menunjuknya sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya.
Posisi Bappeko ini sangat penting dan vital, sebab di tempat inilah perencanaan kota dimulai. Ia juga dikenal sebagai penggagas e-procurement barang dan jasa.
Eri merupakan seorang ahli di Bappenas dan telah menjadi penghubung bagi banyak kota di Indonesia. Saat itu, e-procurement merupakan sarana pertama untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi di Indonesia.
Perjalanan Politik
Setelah moncer berkarier di pemerintah, Eri Cahyadi lantas mencoba peruntungan di dunia politik.
Pada 2020, ia memutuskan mundur sebagai Kepala Bappeko pada 2020.
Setelah mundur, ia mendaftarkan diri sebagai kader PDI Perjuangan, mengikuti Tri Rismaharini yang juga merupakan mentor bagi Eri Cahyadi.
Ia bertanding dalam Pilkada Kota Surabaya didampingi Armuji yang saat itu menjabat sebagai anggota DPRD Jawa Timur.
Pasangan ini diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pasangan ini lantas menang.
Kemudian di periode kedua, mereka tetap berpasangan untuk maju sebagai Calon Wali Kota Surabaya dan Calon Wakil Wali Kota Surabaya melawan kotak kosong.
Pasangan ini pun kembali menang, sehingga berhak memimpin Kota Pahlawan untuk periode kedua.
Hak kekayaan intelektual aplikasi e-procurement dipegang oleh Eri Cahyadi.
Oleh karena itu, pada tahun 2006, Eri diangkat sebagai Direktur Eksekutif Layanan Pengadaan Secara Elektronik untuk memastikan APBD tidak melakukan praktik korupsi untuk kepentingan masyarakat.
ramai dicari setelah pemilihan calon walikota Surabaya pada Pilkada 2020. Pasalnya, Eri Cahyadi merupakan birkokrat muda yang terpilih menjadi Wali Kota Surabaya.
Riwayat Pendidikan
Eri Cahyadi lulus pendidikan vokasional di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) pada tahun 1999 jurusan Teknik Sipil. Lalu, melanjutkan pendidikan tingkat sarjana di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya dan lulus pada tahun 2001 jurusan Teknik Sipil.
Kemudian dia melanjutkan kuliah pascasarjana di Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan lulus pada tahun 2005 pada jurusan Manajemen Proyek. Selain itu dia mengambil Magister Teknik Sipil di UNTAG Surabaya, lulus tahun 2008. (*)