KETIK, MALANG – Sosok Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K), atau yang akrab disapa Prof BUS, kembali menjadi perhatian publik setelah kini memimpin Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA).
Prof BUS dikenal sebagai mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang sempat viral secara nasional karena memimpin aksi penolakan impor dokter di Indonesia. Kini, bersama FK UNUSA, ia membawa visi penguatan pendidikan kedokteran berbasis pencegahan, komunitas, dan pengembangan karakter.
Dalam pemaparannya, Prof BUS menegaskan bahwa FK UNUSA tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun lulusan yang mampu berkontribusi langsung di tengah masyarakat.
“Lulusan FK UNUSA dipersiapkan menjadi care provider, decision maker, community leader, pendakwah, researcher, sekaligus lifelong learner,” terang Prof BUS, 20 Mei 2026.
FK UNUSA mengusung konsep pendidikan kedokteran berbasis preventive medicine atau kedokteran pencegahan. Kampus ini juga menargetkan diri menjadi pusat kedokteran pencegahan tingkat ASEAN melalui penguatan riset berbasis pesantren serta integrasi nilai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dan kewirausahaan dalam sistem pembelajaran.
Baca Juga:
Kwarda Pramuka Jatim-Unusa Kolaborasi Siapkan Gen Z Tangguh, Soroti Mental hingga LingkunganDari sisi akademik, FK UNUSA telah mengantongi status Akreditasi UNGGUL dari LAM-PTKes untuk Program Studi Pendidikan Dokter dan Profesi Dokter. Tingkat kelulusan first taker Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) periode 2020–2025 juga disebut mencapai lebih dari 80 persen.
Selain itu, FK UNUSA kini telah membuka dua Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), yakni PPDS Obstetri dan Ginekologi serta PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.
Program PPDS Obstetri dan Ginekologi difokuskan pada tata kelola antenatal berbasis nutrisi janin sebagai strategi preventif untuk menekan angka stunting. Sementara PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi diarahkan pada penanganan Tuberkulosis (TBC) dan penyakit pernapasan melalui sistem pembinaan intensif dengan kuota residen terbatas.
FK UNUSA juga menonjolkan keunggulan ekosistem pendidikan klinik tanpa antrean koas. Kampus ini mengklaim menjadi satu-satunya fakultas kedokteran di Indonesia yang memiliki tiga rumah sakit pendidikan milik sendiri, yakni RSI Jemursari, RSIA Nyai Ageng Pinatih Gresik, dan RSI A. Yani Surabaya.
Baca Juga:
Gandeng Kwarda Jatim, Fakultas Kedokteran Unusa Buka Jalur Khusus KepramukaanDengan sistem tersebut, mahasiswa disebut dapat menjalani kepaniteraan klinik secara lebih terintegrasi tanpa harus menghadapi waiting list praktik sebagaimana yang umum terjadi di sejumlah fakultas kedokteran lain.
Selain rumah sakit pendidikan milik sendiri, FK UNUSA juga memiliki jejaring kerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan di Jawa Timur, seperti RSU Haji Provinsi Jawa Timur, RS Bhayangkara Surabaya H.S. Samsoeri Mertojoso, RS Menur Provinsi Jawa Timur, hingga RSUD dr. Soedono Madiun.
Melalui penguatan kurikulum, pembukaan program spesialis, serta dukungan jejaring rumah sakit pendidikan, FK UNUSA menegaskan ambisinya menjadi pusat pendidikan kedokteran berbasis pencegahan dan komunitas yang berdaya saing nasional maupun internasional.(*)