KETIK, JEMBER – Menjadi mahasiswa bukan sekadar perkara mengejar indeks prestasi, menyelesaikan tugas, lalu menggenggam ijazah. Masa perkuliahan harus menjadi ruang untuk menempa ilmu, membangun integritas, sekaligus menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. M. Arskal Salim GP., M.Ag., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Senin, 31 Agustus 2026.
Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Prof. Arskal menawarkan satu kerangka sederhana namun kuat sebagai bekal menjalani kehidupan kampus. Ia menyebutnya sebagai 3I: ilmu, integritas, dan impact.
“Ilmu, integritas, dan impact,” tegas Prof. Arskal saat menyampaikan materi bertema “Muda, Bergerak, Berdampak: Mengubah Potensi Menjadi Aksi dan Prestasi.”
Menurutnya, ilmu merupakan fondasi utama mahasiswa. Namun, keberhasilan akademik tidak semestinya hanya diukur melalui tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Lebih dari itu, mahasiswa harus mampu memahami persoalan di sekitarnya dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menghadirkan solusi.
Baca Juga:
Dari 8.000 Pendaftar, 2.235 Terpilih! Plt Rektor UIN KHAS Jember Titip Pesan Tegas Ini“Jangan hanya mengejar IPK,” katanya.
Ia menilai, perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa harus dibarengi perubahan pola pikir. Mahasiswa tidak lagi cukup bertanya mengenai apa yang harus dipelajari, tetapi mulai dituntut mempertanyakan persoalan apa yang dapat diselesaikan melalui ilmu yang mereka kuasai.
“Mulai hari ini, kalian harus belajar bertanya, masalah apa yang bisa saya pecahkan dengan ilmu saya?” ujarnya.
Pesan Prof. Arskal semakin relevan di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga:
Ubah Sampah Dapur Jadi Pupuk, KKN UPN Veteran Jatim Kenalkan Tong Putar Kompos di Ponpes Kasepuhan AssuniyahIa mengingatkan mahasiswa baru UIN KHAS Jember agar tidak menjadi generasi yang gagap teknologi. Kemampuan memahami dan menggunakan AI, menurutnya, kini menjadi bagian penting dari kapasitas mahasiswa.
Namun, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan integritas dan etika akademik.
“Mahasiswa yang tidak mengenal AI pada hari ini akan tertinggal. Tetapi mahasiswa yang menggunakan AI tanpa etika juga akan kehilangan masa depannya,” tegasnya.
AI, lanjut dia, dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran, penelitian, kreativitas hingga pemecahan masalah. Akan tetapi, teknologi tersebut tidak boleh dijadikan alat untuk menyontek, melakukan plagiarisme, ataupun menggantikan proses berpikir.
“AI boleh membantu otak kita, tapi jangan sampai AI menggantikan otak kita,” katanya.
Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya dengan kemampuan mengoperasikan aplikasi atau perangkat teknologi. Mahasiswa harus mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan menghasilkan karya yang memiliki nilai serta manfaat.
Prof. Arskal juga mengingatkan mahasiswa baru agar tidak menghabiskan empat tahun masa kuliah hanya dengan rutinitas mengerjakan tugas dan mengejar kelulusan.
Menurutnya, mahasiswa harus meninggalkan jejak selama berada di kampus. Jejak itu bisa berupa karya, prestasi, pengalaman organisasi, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kemampuan digital maupun penguasaan bahasa asing.
“Saudara harus punya karya, bukan hanya tugas kuliah. Saudara harus punya prestasi. Saudara harus punya pengalaman organisasi, punya pengalaman pengabdian,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa memperkuat kemampuan bahasa asing, termasuk bahasa Arab, Inggris, maupun Mandarin. Kemampuan tersebut dinilai akan menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk memperluas jejaring sekaligus menghadapi persaingan yang semakin terbuka.
Bagi Prof. Arskal, perguruan tinggi tidak boleh dipandang hanya sebagai tempat mendapatkan gelar akademik. Kampus merupakan ruang pembentukan kapasitas, karakter, pengalaman, dan kepemimpinan sebelum mahasiswa benar-benar terjun ke tengah masyarakat.
Lebih jauh, Prof. Arskal mengajak mahasiswa membangun orientasi kebermanfaatan sejak hari pertama menjalani perkuliahan.
Ia berharap empat tahun mendatang mahasiswa baru UIN KHAS Jember tidak sekadar keluar sebagai sarjana dengan gelar di belakang nama, tetapi menjadi pribadi yang mampu membawa solusi bagi persoalan masyarakat.
“Jadilah sarjana yang membawa solusi. Jangan hanya mencari pekerjaan, tetapi yang menciptakan pekerjaan,” pesannya.
Menurutnya, perkembangan AI dan bisnis berbasis digital justru membuka ruang luas bagi generasi muda untuk melahirkan inovasi dan menciptakan peluang ekonomi baru.
Mahasiswa, kata dia, jangan berhenti sebagai konsumen teknologi. Mereka harus naik kelas menjadi pencipta inovasi dan penggerak perubahan.
“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta inovasi. Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah pemimpin perubahan,” katanya.
Ia kemudian menitipkan sebuah visi besar kepada mahasiswa baru UIN KHAS Jember.
“Dari Jember untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia, dari UIN KHAS Jember untuk peradaban.”
Menjelang akhir sesi, Prof. Arskal kembali mengajak mahasiswa mengingat empat karakter yang harus dibangun selama menempuh pendidikan, yakni cerdas, berakhlak, inovatif, dan berdampak.
“Cerdas, berakhlak, inovatif, berdampak,” ujarnya, yang kemudian disambut antusias mahasiswa baru.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Arskal juga mengajak seluruh peserta mendoakan para pendahulu yang telah berkontribusi dalam pembangunan UIN KHAS Jember, termasuk almarhum Prof. Dr. H. Hepni, serta keluarga besar sivitas akademika UIN KHAS Jember yang tengah mengalami sakit.
Ia berharap proses pendidikan yang dijalani mahasiswa baru tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi melahirkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, kreativitas, serta kepedulian sosial.
“Selamat belajar, selamat berproses, selamat menjadi generasi yang dedikatif, inovatif, visioner, dan adaptif,” pungkas Prof. Arskal. (*)