KETIK, YOGYAKARTA – Keputusan Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) memunculkan perhatian besar di pasar keuangan. Pergantian pimpinan bank sentral terjadi ketika ekonomi global masih dipenuhi ketidakpastian, sementara nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk sementara, kepemimpinan Bank Indonesia dipegang oleh Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, sembari menanti pemilihan Gubernur BI definitif. 

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter BI ke depan. Pelaku pasar juga menunggu kepastian mengenai sosok pengganti Perry Warjiyo yang akan memimpin bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Ekonom Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yudhistira Hendra Pramana, menjelaskan bahwa reaksi negatif pasar setelah pengunduran diri Perry Warjiyo merupakan respons yang wajar. Menurutnya, fenomena itu lebih tepat dipahami sebagai rational updating, yakni penyesuaian ekspektasi pelaku pasar setelah muncul informasi baru yang dinilai penting.

"Respons negatif tersebut harus kita pahami sebagai rational updating, bukan kepanikan. Ini ditandai dengan pola yang selalu muncul ketika pengunduran diri pejabat terjadi dan pasar akan menunggu langkah pemerintah selanjutnya, dalam hal ini siapa yang akan menggantikan Perry Warjiyo," ujar Yudhistira dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 6 Agustus 2026. 

Baca Juga:
Formappi Soroti Setahun Kasus CSR BI-OJK Mandek, Desak KPK Tahan Dua Anggota DPR

Ia menilai ketidakjelasan mengenai alasan pengunduran diri gubernur BI membuat investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu keputusan pemerintah mengenai pimpinan baru Bank Indonesia.

Yudhistira menambahkan, kondisi tersebut diperparah oleh volatilitas rupiah yang masih tinggi. Fluktuasi nilai tukar meningkatkan biaya modal (cost of capital) sekaligus biaya lindung nilai (hedging) bagi pelaku usaha, terutama perusahaan yang bergantung pada impor.

Meski demikian, ia menilai perhatian pasar tidak hanya tertuju pada pergantian figur. Investor juga ingin mengetahui arah kebijakan moneter yang akan diambil gubernur BI berikutnya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

"Pasar menunggu pengganti Perry Warjiyo dan arah kebijakan ke depan, baik jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, di antaranya adalah pelaksanaan UU P2SK terbaru," ungkapnya. 

Baca Juga:
Pjs Gubernur BI Beberkan Kunci Hadapi Krisis di Hadapan Siswa SMA Taruna Nala Jatim

 

Pemerintah Diminta Segera Tunjuk Gubernur BI Definitif

Yudhistira menilai langkah paling mendesak saat ini ialah mempercepat penetapan gubernur BI definitif. Sosok tersebut harus memiliki pengalaman, kapasitas, dan kredibilitas tinggi agar mampu menjaga kepercayaan pelaku pasar ketika kondisi ekonomi global masih bergejolak.

Ia juga menegaskan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi mandat utama Bank Indonesia. Namun, pelaksanaannya harus dilakukan melalui bauran kebijakan yang tetap mendukung pertumbuhan ekonomi atau growth-friendly stability, sehingga stabilitas moneter tidak dicapai dengan mengorbankan aktivitas ekonomi nasional.

 

Kepastian Kepemimpinan Jadi Kunci

Menurut Yudhistira, kepastian mengenai pemimpin baru BI menjadi faktor penting untuk meredam ketidakpastian di pasar. Semakin cepat pemerintah memberikan kepastian, semakin besar peluang menjaga stabilitas pasar keuangan dan mempertahankan kepercayaan investor.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kualitas kepemimpinan baru akan sangat menentukan efektivitas kebijakan BI dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.

Sebagai catatan, peran Bank Indonesia setelah berlakunya UU P2SK juga semakin luas. Selain menjaga stabilitas nilai rupiah, BI kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran dan mendukung stabilitas sistem keuangan. Pembahasan mengenai perubahan mandat tersebut menjadi salah satu isu penting yang perlu dicermati.

Selain itu, berbagai tantangan eksternal, mulai dari arah suku bunga global hingga tekanan terhadap independensi Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan moneter, diperkirakan turut memengaruhi langkah bank sentral pada periode kepemimpinan berikutnya. (*)