KETIK, MALANG – Perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) bergerak cepat merespons keluhan mahasiswa terkait fasilitas toilet di lantai 1. Fasilitas yang sebelumnya sempat dijadikan toilet campur kini telah dipisahkan kembali menjadi area khusus laki-laki dan perempuan demi menjaga kenyamanan, keamanan, dan privasi.
Pembaruan ini ditandai dengan pemasangan papan penanda (signage) yang lebih jelas di depan area toilet. Langkah ini diambil setelah sejumlah mahasiswa mengeluhkan hilangnya rasa nyaman dan privasi akibat konsep toilet campur tersebut.
Sebelumnya, pihak perpustakaan sempat melepas penanda gender pada toilet lantai 1. Kebijakan tersebut awalnya diambil untuk mengurai antrean panjang mahasiswi, mengingat toilet di lantai ini menjadi favorit karena lokasinya yang dekat dengan musala dan menyediakan fasilitas air hangat untuk mahasiswa yang ingin mandi setelah berolahraga.
"Mahasiswa jadinya kasihan kalau mau ke kamar mandi harus antre dulu, akhirnya kita putuskan untuk mencopot penanda laki-laki dan perempuan, agar jika yang samping kosong bisa digunakan," jelas Pitoyo Widhi Atmoko, S.Si., M.Si. selaku Sekretaris UPT Perpustakaan UB, Selasa, 19 Mei 2026.
Baca Juga:
Rektor UIN Malang Prof. Ilfi Nur Diana Didapuk Jadi Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026Namun, setelah menerima masukan dari mahasiswa yang merasa kurang nyaman dengan konsep tersebut, pihak perpustakaan langsung mengembalikan fungsi toilet spesifik gender seperti semula.
"Tapi jika dirasa kurang privasi, ya sudah kami tempel lagi khusus laki-laki dan perempuan, tapi agar tidak antre kita kasih banner. Dalam banner bahwa kamar mandi tidak hanya di situ, tapi ada banyak," imbuhnya.
Tak hanya mengembalikan penanda toilet, Perpustakaan UB juga memasang papan pemberitahuan agar mahasiswa bersedia menggunakan toilet di lantai lain jika antrean di lantai 1 mulai mengular. Hal ini diharapkan dapat memangkas waktu tunggu mahasiswa.
"Perpustakaan ini punya banyak kamar mandi, cuman banyak mahasiswa yang suka dengan kamar mandi lantai 1 ini karena dekat dengan musala," ujar Emy Sukartini, S.H. selaku Koordinator Bidang Kerjasama dan Layanan Teknis Perpustakaan UB.
Baca Juga:
Tabrak Pesepeda di Jalan Raya Segaran Malang, Pengendara Motor Pelat Merah Diburu PolisiLangkah ini menunjukkan respons cepat Perpustakaan UB terhadap masukan mahasiswa. Perubahan kebijakan tersebut menjadi upaya pihak perpustakaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas, sekaligus menjaga privasi sivitas akademika yang menggunakan perpustakaan sebagai ruang belajar dan diskusi sehari-hari.(*)