KETIK, JEMBER – Berawal dari pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran, Achmad Hasan Basri berhasil mengembangkan usaha Tape Mayangsari di Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Melalui strategi pemasaran digital dan jaringan reseller, produk olahan singkong tersebut kini menjangkau konsumen hingga Jepang, Hong Kong, dan Mekkah.
Pemilik Tape Mayangsari yang berasal dari Dusun Sumber Pinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang, itu merintis usahanya sendiri pada November 2021. Sebelum membangun bisnis tersebut, Hasan telah mengenal industri tape sejak 2010 ketika bekerja di Toko Sumber Madu, salah satu penjual oleh-oleh khas Jember.
Pengalaman itu menjadi bekal penting bagi Hasan untuk memahami proses produksi, pelayanan konsumen, hingga pemasaran produk. Ia pernah menjalankan berbagai pekerjaan, mulai dari mengurus produksi, menjaga toko, hingga memasarkan tape ke sejumlah daerah.
"Saya diajak marketing mulai di Lumajang, Solo, Jogja. Dulu dipindah-pindah saya. Diproduksi, jaga toko, marketing. Semua saya kerjakan di Toko. Namanya ikut orang kan, ya kita nurut saja," ungkap Hasan, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Hasan kemudian melanjutkan perjalanan bisnisnya pada 2018 dengan bekerja sama bersama saudaranya untuk memproduksi tape di Jember. Setelah mengakhiri kerja sama tersebut, ia memutuskan membangun usaha secara mandiri dari rumahnya pada November 2021.
Baca Juga:
Nasi Goreng Jadi Incaran Anak Kos dan Pekerja di Surabaya, PKL Bisa Jual 100 Porsi SemalamSejak awal merintis usaha, Hasan memilih memanfaatkan media sosial untuk menjangkau calon pembeli dan merekrut reseller. Ia menggunakan Instagram dan Facebook untuk memperluas jaringan pemasaran, baik di dalam maupun di luar Jember.
"Makanya untuk respon para reseller dan customer, terutama reseller-reseller yang dalam kota maupun luar kota. Itu kita bisa cepat rekrut untuk masuk ke manajemennya kita. Ya dari sosmed juga itu, kayak di IG (Instagram, FB (Facebook)," jelasnya.
Memilih Nama Mayangsari untuk Mengangkat Daerah Asal
Baca Juga:
Akademisi UIN KHAS Jember: Program Home Care Wujud Keadilan Sosial, Diharapkan BerkelanjutanDi balik nama Tape Mayangsari, Hasan memiliki keinginan untuk memperkenalkan Kecamatan Mayang kepada masyarakat yang lebih luas. Ia ingin identitas daerah asalnya turut dikenal melalui produk makanan khas yang dipasarkannya.
Selama ini, tape dari kawasan Tapal Kuda kerap dikaitkan dengan Kabupaten Bondowoso. Sejumlah produk menggunakan nama yang disertai angka, seperti Tape 31 dan Tape 32. Sementara itu, sejumlah produk tape dari Jember menggunakan nama yang mengandung kata madu, seperti Sumber Madu dan Sari Madu.
Hasan ingin menghadirkan identitas berbeda melalui nama Mayangsari.
"Saya kan asli kelahiran Mayang. Saya juga ingin mengangkat nama daerah tempat saya dilahirkan, yakni (Kecamatan) Mayang," ucapnya.
Ia mengakui sudah ada produk dengan label Mayang Madu di Jember. Namun, Hasan tetap ingin menggunakan nama Mayang dengan tambahan kata sari agar produknya memiliki ciri khas tersendiri.
"Saya ingin mengangkat nama Mayang juga. Makanya saya buat namanya itu Mayangsari. Biar enggak ada madunya belakangnya. Karena yang lainnya sudah madu-madu semua. Biar cepat dikenal sama orang," ungkapnya.
Mengutamakan Kualitas dengan Tape Tanpa Serat
Selain membangun identitas merek, Hasan menetapkan standar produksi untuk menjaga kualitas Tape Mayangsari. Ia memperhatikan setiap tahapan pengolahan, mulai dari pengupasan singkong, pemasakan, pemberian ragi, hingga pembersihan serat.
Menurut Hasan, proses tersebut membuat Tape Mayangsari memiliki karakteristik berbeda. Ia menyebut produknya sebagai tape premium karena telah melalui proses pembersihan serat yang lebih diperhatikan.
"Mulai dari pengupasan, terus masak, pengolahan kayak peragian dan pembersihan seratnya itu kan beda. Makanya kita bilang tapenya sudah premium, beda dengan Bondowoso. Kita sudah tanpa tulang (serat tape)," tuturnya.
Hasan juga memilih memotong tape menjadi bagian-bagian pendek sebelum mengemasnya. Cara ini bertujuan memudahkan konsumen saat menyantap produk tersebut.
"Kalau Bondowoso kebanyakan kan panjang-panjang. cuma sekarang sudah mengikuti Jember," ucapnya.
Usaha Tape Mayangsari kini berkembang menjadi salah satu UMKM binaan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Jember. Hasan menyebut kapasitas produksinya telah mencapai lebih dari tiga ton tape, dengan pengiriman lebih dari 2.000 kemasan setiap hari.
Pertumbuhan usaha tersebut juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Tape Mayangsari mempekerjakan 31 orang, dengan sekitar 80 persen di antaranya merupakan warga lokal.
Mengandalkan Sistem Pre-Order dan Jaringan Reseller
Pengalaman Hasan sebagai tenaga pemasaran turut membentuk strategi penjualan Tape Mayangsari. Ia tidak ingin mengulangi sistem titip jual yang berisiko membuat produk tidak terjual dan dikembalikan kepada produsen.
"Saya terinspirasi dulu itu waktu saya ikut orang marketing. Kita berangkat bawa tape, pulang bawa tape. Kan sistemnya titip-jual, barang yang enggak laku kan kembali ke kita," ungkapnya.
Hasan melihat peluang untuk mengubah pola penjualan ketika aktivitas masyarakat masih terbatas pada akhir masa pandemi Covid-19. Ia kemudian menerapkan sistem pre-order (PO) agar pengiriman produk berdasarkan pesanan yang telah masuk.
Dengan sistem tersebut, reseller dapat memesan produk sesuai kebutuhan pasar. Barang yang dikirim pun sudah memiliki pembeli sehingga risiko pengembalian produk kepada produsen dapat ditekan.
"Nah, saya enggak begitu. Gimana caranya barang saya ini penjualannya tidak kembali. Tembus ke luar kota, tapi sayanya di sini. Jadi barang yang dikirim ke reseller kan sudah ada yang punya. Kita sebagai produsennya enggak retur, yang jual juga enggak retur," jelasnya.
Hasan juga memilih tidak membuka toko resmi di platform perdagangan elektronik, seperti Shopee dan TikTok Shop. Ia ingin menjaga keberlangsungan jaringan reseller yang selama ini menjadi ujung tombak penjualan produknya.
"Kita tidak melayani langsung penjualan kayak di aplikasi. Ya kasihan resellernya. Nanti yang beli tidak beli ke resellernya langsung, beli ke sini (produsen). Kita bagi-bagi rezeki kan gitu. Anggaplah reseller itu toko onlinenya saya," ungkapnya.
Strategi tersebut membuat Hasan dapat berfokus pada produksi, sementara reseller menangani penjualan dan menjangkau konsumen di berbagai wilayah.
Tape Mayangsari Menjangkau Jepang, Hong Kong, dan Mekkah
Jaringan reseller membuka peluang bagi Tape Mayangsari untuk menjangkau pasar internasional. Hasan menyebut produknya telah dikirim ke sejumlah tujuan di luar negeri, termasuk Jepang, Hong Kong, dan Mekkah.
Untuk pengiriman ke Hong Kong, Hasan mengandalkan reseller dari Kecamatan Ambulu dan Balung, Jember. Ia menjelaskan, salah satu proses pengiriman dilakukan dengan bantuan pihak yang mengatur pengangkutan barang melalui kontainer.
"Resellernya ngirim ke Hongkong. Itu ada 2 orang. Ambulu sama Balung. Kadang yang Balung itu kita tunggu di halte depan Polsek Mayang. Nanti diarahkan ikut kontainer," ucapnya.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Mekkah, Hasan menjalin kerja sama dengan sejumlah biro perjalanan umrah, antara lain PT An Namiroh Travelindo dan PT Shahibuna Sabila Salam atau As Salam Travel.
Melalui kerja sama tersebut, produk Tape Mayangsari dapat dibawa oleh jemaah yang berangkat menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.
Hasan menawarkan dua pilihan ukuran kepada reseller. Tape dengan berat 700 gram dijual seharga Rp17.000 per kemasan, sedangkan kemasan 1.000 gram dibanderol Rp22.000.
Perjalanan Hasan mengembangkan Tape Mayangsari menunjukkan bagaimana pengalaman kerja, inovasi pemasaran, dan kemitraan dengan reseller dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk lokal. Dari usaha rumahan di Kecamatan Mayang, ia membangun bisnis yang mampu menjangkau konsumen lintas daerah hingga pasar internasional. (*)