KETIK, BOJONEGORO – Sejumlah elemen masyarakat dan organisasi menggelar aksi damai di depan Gedung DPRD Kabupaten Bojonegoro, Jalan Veteran, untuk menyuarakan keprihatinan serta harapan bagi kemajuan kaum perempuan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Kartini, pada hari ini  Selasa, 21 April 2026.

Aksi yang mengusung tema “Kartini dan Surat Suara Perempuan Bojonegoro” ini diikuti oleh perwakilan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Cabang Bojonegoro, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro, serta Dewan Pengurus Komisariat (DPK) GMNI Universitas Bojonegoro dan Unugiri.

Dalam orasinya, Yana, salah satu juru bicara massa, menegaskan bahwa sosok Kartini bukan sekadar simbol sejarah, melainkan representasi perjuangan membuka ruang kesempatan bagi perempuan.

“Kartini adalah tentang kesempatan. Kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, akses kesehatan, dan terbebas dari kekerasan, baik fisik maupun psikis,” tegasnya.

Baca Juga:
Peringati Hari Kartini, Puskesmas Jatirokeh Sambangi Warga Berkebutuhan Khusus di Dawuhan

Ia menyoroti bahwa perjuangan Kartini dilakukan melalui gagasan dan tulisan. Surat-surat yang dikirimkan ke Eropa menjadi bukti diplomasi cerdas yang berbeda dengan perjuangan fisik para pahlawan lain seperti Cut Nyak Dien atau Martha Christina Tiahahu.

Menurutnya Kartini meletakkan dasar kemajuan melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah agar perempuan bisa mandiri dan berwawasan luas.

Namun, perjuangan itu dinilai belum usai. Data menunjukkan tantangan masih nyata di hadapan perempuan Indonesia dan Bojonegoro khususnya.

“Angka pernikahan dini di Indonesia pada 2025 masih mencapai sekitar 19 persen. Di Bojonegoro sendiri, meski pengajuan dispensasi kawin terus menurun dari 448 kasus (2023), 394 kasus (2024), menjadi 325 kasus (2025), penurunannya belum signifikan,” paparnya.

Baca Juga:
Bojonegoro Kini Miliki 16 Desa Cantik, Tiga Desa Resmi Terima Penghargaan di 2026

Selain isu pendidikan dan pernikahan dini, peserta aksi juga menyoroti fenomena perundungan (bullying) dan sikap saling menjatuhkan antar perempuan.

Mereka berharap peringatan Hari Kartini tidak hanya terjebak pada simbolisme pemakaian kebaya, tetapi kembali pada esensi utama: mendorong perempuan berdaya, setara, dan bebas dari diskriminasi.

“Ini adalah surat untuk seluruh perempuan Indonesia. Kamu mampu, jika kamu berpikir mampu,” tutup Yana.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, fraksi Demokrat  Drs. Sujono, MM, yang menerima aspirasi tersebut memberikan sambutan dan apresiasi. Menurutnya, cita-cita Kartini kini mulai terwujud dengan nyata.

“Semoga kaum perempuan sekarang bisa melanjutkan cita-cita Ibu Kartini. Kini keberadaan perempuan sudah sejajar dengan laki-laki, mulai dari jabatan Presiden hingga Kepala Desa, dari jenjang pangkat Jenderal hingga Kopral sudah ada perwakilannya,” ujar Sujono.

Kemudian Politisi Fraksi Gerindra, Sally Atyasasmi menambahkan, ia menyampaikan  pemerintah juga telah mengatur kebijakan terkait kesetaraan gender.

Perempuan menempati posisi strategis dalam pencapaian tujuan nasional maupun keharmonisan keluarga. Peringati Hari Kartini, Massa di Bojonegoro Soroti Isu Kesetaraan dan Stop Kekerasan.

Sally Atyasasmi, Partai Gerindra mengapresiasi keberanian peserta aksi dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, perjuangan kesetaraan perempuan masih harus terus  diperjuangkan  hari ini semakin berani menyuarakan haknya, dan itu perlu didukung semua pihak,” ujarnya.

Aksi damai yang berlangsung di halaman Gedung DPRD tersebut berjalan tertib, aman, dan lancar hingga acara selesai, menjadi pengingat bahwa semangat Kartini tetap hidup dalam langkah nyata menuju kesetaraan.(*)