KETIK, YOGYAKARTA – Perburuan burung kicau masih menjadi persoalan serius di Indonesia, terutama di wilayah Sumatra. Tingginya permintaan pasar menjadikan burung sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi, namun di sisi lain mengancam kelestarian ekosistem.
Data dari Flight Protection Indonesia’s Birds mencatat, sepanjang 2023 hingga 2025, jumlah penyitaan burung kicau mencapai 134.515 ekor. Dari total tersebut, sekitar 70,21 persen berasal dari Pulau Sumatra.
Pemerhati satwa sekaligus dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Donan Satria Yudha, menilai maraknya perburuan burung dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari budaya, ekonomi, hingga lemahnya pengawasan di kawasan konservasi.
Ia menjelaskan, praktik perburuan burung telah lama mengakar di masyarakat dengan beragam tujuan. Mulai dari hobi memelihara, berburu, konsumsi, hingga pembasmian karena dianggap sebagai hama. Namun, persoalan muncul ketika spesies yang diburu termasuk kategori langka dan memiliki peran penting dalam ekosistem.
“Perburuan legal sebenarnya bisa menguntungkan apabila diatur dengan baik. Melalui sistem perizinan dan pengelolaan yang tepat, aktivitas tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian habitat. Namun, perburuan ilegal yang tidak terkontrol justru akan merusak keseimbangan ekosistem,” jelasnya, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 2 Mei 2026.
Baca Juga:
Ikan Sapu-Sapu Jadi Ancaman Ekosistem, Pakar UGM Dorong Pengendalian Berkelanjutan dan Larang KonsumsiDonan menambahkan, faktor ekonomi menjadi pendorong utama tingginya perburuan liar. Tingginya permintaan pasar, terutama dari Pulau Jawa, membuat rantai pasok burung hasil tangkapan dari Sumatra terus berlangsung.
“Burung kicau memiliki nilai jual yang tinggi. Permintaan pasar, terutama di wilayah Jawa juga tinggi, alhasil rantai pasok burung hasil buruan terus berjalan,” jelasnya.
Selain itu, ia menyoroti perubahan fungsi hutan yang mempersempit habitat alami burung. Kondisi tersebut membuat burung lebih mudah keluar dari habitatnya dan rentan ditangkap manusia.
Dalam ekosistem, burung memiliki peran penting, seperti membantu penyerbukan, menyebarkan biji, serta mengendalikan populasi hama. Penurunan populasi burung dapat berdampak luas, tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan manusia.
Baca Juga:
Ini 4 Fitur WhatsApp di 2026! Integrasikan Kecerdasan Buatan dan Kenyamanan Pengguna“Jika populasi burung menurun tajam, maka regenerasi hutan akan terhambat, yang pada akhirnya berdampak pada meningkatnya suhu bumi dan ancaman ledakan jumlah hama yang akan mengganggu sektor pertanian,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Donan mendorong pendekatan konservasi yang melibatkan masyarakat secara aktif. Ia menilai, pelibatan masyarakat lokal menjadi kunci dalam menjaga kawasan habitat dari aktivitas perburuan liar.
“Biasanya, pemburu itu datang dari luar daerah dan justru masyarakat lokal yang benar-benar menjaga suatu kawasan. Untuk itu, mereka perlu dilibatkan sejak awal, misal melalui peraturan desa. Jika masyarakat sudah memiliki sudut pandang lingkungan, bisa saja akan ada potensi ekowisata sebagai alternatif sumber penghasilan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada generasi muda serta penguatan patroli rutin untuk memastikan upaya konservasi berjalan berkelanjutan.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak cukup hanya dengan pelarangan, tetapi juga harus disertai upaya pemberdayaan masyarakat agar tercipta keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. (*)