KETIK, BATU – Pengembangan kawasan Smart Integrated Farming di Desa Giripurno menjadi salah satu program strategis jangka panjang Pemerintah Kota Batu.
Proyek multiyears ini dirancang untuk menciptakan sistem pertanian modern, berkelanjutan, dan terintegrasi hingga 2029.
Smart Integrated Farming diproyeksikan menjadi langkah strategis dalam memodernisasi sektor pertanian, memperluas akses pasar, serta menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan pentingnya perubahan pola bertani agar lebih berorientasi pada kebutuhan pasar. Ia menilai, selama ini produk pertanian lokal masih menghadapi kendala dalam memenuhi standar kualitas untuk menembus pasar modern.
Baca Juga:
Pemkot Batu Terima PSU 13 Perumahan, Nilai Aset Tembus Rp741 Miliar“Ke depan, petani harus mulai berproduksi berdasarkan kebutuhan pasar. Pengendalian kualitas perlu ditingkatkan agar hasil pertanian tidak hanya terserap di pasar tradisional, tetapi juga mampu masuk ke ritel modern dengan nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Selain persoalan kualitas dan pemasaran, rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian juga menjadi perhatian.
Melalui konsep Integrated Farming System (IFS), kawasan Giripurno akan dikembangkan sebagai pusat pembelajaran pertanian berbasis teknologi yang lebih menarik bagi kalangan milenial.
“Kami ingin pertanian tampil lebih modern dan diminati anak muda. Jika model ini berhasil, nantinya bisa diterapkan oleh kelompok tani di lahan masing-masing,” tambahnya.
Baca Juga:
Penguatan Data Desa Digeber, Pemkot Batu Targetkan Kebijakan Lebih AkuratSebagai tahap awal, Pemkot Batu telah menyusun roadmap pengembangan kawasan yang diawali dengan penetapan lokasi serta peningkatan akses infrastruktur, termasuk jalan menuju area pertanian.
Konsep pembangunan juga mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan sistem zero waste, di mana limbah pertanian dan peternakan akan diolah kembali menjadi pupuk organik.
“Seluruh limbah akan dikelola kembali ke lahan sehingga tercipta ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan begitu, manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, turut mengajak masyarakat untuk mendukung program tersebut agar berjalan optimal.
Ia memastikan pengembangan kawasan tetap memperhatikan aspek lingkungan, termasuk ketersediaan sumber daya air bagi warga sekitar.
Program ini direncanakan berjalan secara bertahap mulai 2026 hingga 2029. Kawasan seluas sekitar 2,3 hektare tersebut akan dibagi menjadi empat zona utama, yakni zona wisata dan inovasi, smart farming, peternakan dan perikanan, serta pengolahan limbah.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun grand design sebagai dasar pengembangan kawasan.
“Perencanaan detail sedang kami siapkan pada 2026 ini. Nantinya akan melibatkan sejumlah perangkat daerah untuk mendukung infrastruktur seperti jalan, penerangan, hingga fasilitas pengolahan sampah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan fisik direncanakan mulai 2027 dan dilaksanakan secara bertahap hingga 2028, dengan target kawasan dapat beroperasi penuh pada 2029.