KETIK, JAKARTA – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing narasi di media sosial yang berpotensi membenturkan rakyat dengan aparat kepolisian.

Imbauan itu disampaikan di tengah bergulirnya kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang tengah menjadi sorotan publik.

Sekretaris Jenderal PB PMII Ahmad Syahrul Fadhil meminta publik tetap tenang dan memberi kesempatan kepada Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto untuk bekerja. Menurut dia, kepercayaan antara polisi dan masyarakat harus dijaga bersama.

"Kami percaya, di bawah kepemimpinan Kapolri Suyudi, Polri bisa semakin solid dan semakin dipercaya. Tugas kita bersama adalah menjaga agar kepercayaan itu terus tumbuh. Polri dan masyarakat harus berjalan beriringan, bukan saling menjauh," ujar Syahrul di Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Dalam kasus tersebut, Bareskrim Polri telah menetapkan sejumlah tersangka, di antaranya mantan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, Irjen Eko Hadi Santoso, dan Irjen Ahrie Sonta.

Baca Juga:
Bahlil Mengaku Ikut Disadap, Minta Polri Usut Tuntas

Penyadapan itu diduga tidak hanya menyasar Presiden, tetapi juga pejabat negara, tokoh politik, media massa, ormas, LSM, dan pengusaha. Kadiv TIK Polri Irjen Slamet Uliandi kemudian turut ditetapkan sebagai tersangka. Polri juga membuka peluang menetapkan tersangka baru.

Syahrul, yang akrab disapa Ruli, menyebut keamanan dan ketertiban sebagai tanggung jawab bersama yang tidak bisa dipikul polisi sendirian. Karena itu, ia berharap Polri di bawah Suyudi makin terbuka terhadap keluhan warga dan mau menggandeng berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa dan kepemudaan.

PMII, kata dia, siap mengambil peran itu dengan tetap menjaga sikap kritis. "Polisi yang kuat adalah polisi yang dekat dengan rakyatnya. PMII siap menjadi mitra kritis sekaligus mitra kerja Polri, baik dalam menjaga kondusivitas di daerah maupun dalam membangun kesadaran hukum di kalangan anak muda," tuturnya.

Ia juga menilai Suyudi, yang baru sekitar sebulan menjabat, menunjukkan sikap tegas dan terbuka dalam menghadapi persoalan internal. Sikap itu dinilainya penting untuk memulihkan kepercayaan publik.

Baca Juga:
Bantah Terlibat Penyadapan Bersama LSP, Bahlil Lahadalia: Jangan Pake Ilmu Abuleke!

"Di masa awal kepemimpinannya, beliau tidak memilih jalan aman, tapi berani menghadapi persoalan. Sikap seperti ini yang dibutuhkan Polri hari ini," katanya.

Syahrul mengingatkan, perbuatan segelintir pihak tidak boleh membuat seluruh institusi kehilangan kepercayaan publik. Menurut dia, masih banyak polisi yang bekerja sungguh-sungguh menjaga keamanan dan melayani warga setiap hari.

"Jangan sampai karena ulah sebagian orang, seluruh institusi ikut dicurigai. Polri harus tetap solid dari pusat sampai ke daerah," ucapnya.(*)