KETIK, JEMBER – Nurul Hasanah, kreator konten asal Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memiliki cara tersendiri untuk menarik perhatian pengguna media sosial. Ia memadukan bahasa Madura, Indonesia, dan Inggris dengan gaya bicara lembut yang kini menjadi ciri khasnya.
Di balik aktivitas Nurul di depan kamera, sang suami, Ilham Akbar, turut berperan dalam proses produksi. Ia membantu merekam video, menyiapkan perlengkapan, hingga merealisasikan konsep konten yang dirancang istrinya.
Nurul mengembangkan konten melalui akun Instagram dan TikTok @nurul.hsh. Akunnya diikuti sekitar 33 ribu pengguna Instagram dan 29.700 pengguna TikTok. Sejumlah unggahannya juga meraih ratusan ribu tanda suka.
Ilham mengaku bangga melihat istrinya menemukan karakter yang membedakan kontennya dari kreator lain. Menurut dia, Nurul awalnya lebih banyak mengulas produk dan usaha di bidang kecantikan sebelum mengembangkan gaya konten yang lebih personal.
“Ya, kalau dari saya sih pasti bangga ya. Jadi emang istri ini kan dulu fokusnya di beauty, kan. Cuma ibaratnya kan enggak ada ciri khas, enggak ada keunikan, kan. Akhirnya istri ini ketemu keunikan-keunikan sendiri, akhirnya saya ya saya bangga juga kan ya,” kata Ilham saat diwawancarai bersama Nurul di rumahnya, Selasa malam, 20 Oktober 2026.
Baca Juga:
Profil Kristomei Sianturi, Kepala BNPB yang Baru Dilantik PrabowoDukungan Ilham tidak berhenti pada memberikan semangat. Ia terlibat langsung dalam produksi, mulai dari merekam video hingga menyiapkan berbagai perlengkapan sesuai kebutuhan konten.
“Saya full support. Jadi, istri ngajak misalnya konten apa, konsepnya apa, saya eksekusi. Jadi, saya bantu untuk rekaminnya, terus apa, dan sebagainyalah. Untuk perlengkapannya saya semua udah yang saya siapin,” ungkapnya.
Ilham mengatakan dirinya lebih banyak menangani pekerjaan di belakang kamera, sementara Nurul berfokus tampil di depan kamera.
“Iya, jadi kayak misalnya ada konten di mana, itu saya pasti selalu bawa propertinya. Jadi saya siapin semuanya. Jadi istri tinggal ibaratnya on frame lah, saya yang di belakang layar,” lanjutnya.
Baca Juga:
Tinggalkan Pabrik di Cikarang, Pemuda Subang Ini Bertahan Hidup dari Live Streaming Gim Enam Jam Sehari
Berawal dari Ulasan Kecantikan
Nurul mulai membuat konten pada 2025 dengan mengulas usaha milik orang lain. Ia terutama menyasar bisnis kecantikan, termasuk klinik kecantikan, sebelum akhirnya mengembangkan identitas sebagai kreator konten.
“Eh, sebenarnya mulai ngonten itu dari tahun lalu. Ngontennya itu review-review awalnya. Jadi, enggak ke personal branding, lebih ke review usahanya orang, kayak gitu. Kayak food vlogger, tapi lebih ke kecantikan awalnya, beauty, beauty vlogger berarti ya,” kata Nurul.
Perubahan konsep terjadi ketika ia mulai aktif di TikTok. Nurul memperhatikan banyak pengguna platform tersebut berkomunikasi menggunakan bahasa Madura. Ia kemudian mencoba pendekatan serupa untuk membangun kedekatan dengan penonton.
“Saya pikir itu kayaknya lebih dekat kalau saya berbahasa Madura nih, gitu,” tuturnya.
Bahasa Madura sebenarnya sudah menjadi bagian dari keseharian Nurul sejak kecil. Kedua orang tuanya menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi di rumah. Ia baru semakin lancar berbahasa Indonesia ketika memasuki jenjang SMA di MAN 1 Jember.
Selain penggunaan bahasa daerah, Nurul mempertahankan gaya bicara yang pelan atau soft-spoken. Menariknya, ia dahulu justru kurang percaya diri dengan karakter suaranya sendiri.
Nurul bahkan pernah mempercepat rekaman konten berbahasa Indonesia hingga 1,3 kali karena merasa berbicara terlalu lambat. Namun, gaya yang semula dianggap sebagai kekurangan itu kini menjadi bagian penting dari identitas kontennya.
Promosikan Wisata Lewat Kolaborasi
Popularitas di media sosial membuka kesempatan bagi Nurul untuk berkolaborasi dengan sejumlah tokoh publik. Salah satunya Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Nurul mengapresiasi kesediaan Rio membuat konten berbahasa Madura, Indonesia, dan Inggris di tengah kesibukannya. Dalam kolaborasi tersebut, ia juga menyisipkan promosi wisata Situbondo agar video yang dihasilkan tidak sekadar menjadi hiburan.
“Jadi, terus Bapak Rio ini alhamdulillah baik banget, maksudnya dengan kesibukannya yang seperti itu, mau ngonten Maduraan. Tapi di situ saya juga pengin kontennya itu berbobot gitu ya, makanya di situ saya selipin konten yang mempromosikan wisata Situbondo, seperti itu,” ujarnya.
Nurul melihat kolaborasi sebagai kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas. Ia terbuka bekerja sama dengan berbagai pihak selama kegiatan tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Selama positif, selama bisa membantu mungkin para wisata, mungkin, ya selama positif untuk masyarakat, pasti di, pasti mau berkolaborasi, gitu,” katanya.
Melalui kontennya, Nurul juga ingin menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki karakter yang beragam. Menurut dia, anggapan bahwa orang Madura selalu berbicara keras tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan.
“Jadi macam-macam, Madura itu tidak semuanya keras, jadi kita juga bermacam-macam, tapi semuanya dengan keunikannya sendiri-sendiri,” jelasnya.
Perjalanan Nurul menunjukkan bagaimana karakter personal, penggunaan bahasa daerah, dan konsistensi dalam berkarya dapat menjadi modal untuk mengembangkan konten digital. Dukungan Ilham juga membantunya menjalankan proses produksi sekaligus merealisasikan berbagai gagasan.
Bagi Nurul, aktivitas sebagai kreator bukan semata-mata tentang meraih popularitas. Ia ingin tetap mempertahankan karakter yang sesuai dengan dirinya sembari memanfaatkan jangkauan media sosial untuk memperkenalkan budaya dan potensi daerah serta menghadirkan konten yang bermanfaat bagi masyarakat. (*)