Nahdlatul Ulama (NU) tidak kekurangan sejarah. NU tidak kekurangan ulama. NU tidak kekurangan jemaah. Tetapi NU bisa menghadapi satu tantangan serius: Apakah ia cukup dekat dengan anak muda yang hari ini tumbuh di bawah bayang-bayang algoritma?
Pertanyaan ini penting karena Gen Z tidak hidup dalam ruang sosial yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka memang masih bertemu agama di masjid, pesantren, kampus, majelis, dan organisasi. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga hidup di layar ponsel, media sosial, ruang komentar, konten pendek, ekonomi gig, kecemasan masa depan, dan banjir informasi yang datang tanpa henti.
Data digital Indonesia memperlihatkan betapa besar ruang hidup baru itu. Laporan Digital 2026: Indonesia mencatat ada sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan penetrasi 80,5 persen.
Indonesia juga memiliki sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, setara 62,9 persen populasi. Bahkan, 78.2 persen pengguna internet Indonesia memakai setidaknya satu platform media sosial.
Angka ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan lagi pelengkap kehidupan sosial, melainkan salah satu arena utama pembentukan cara berpikir, selera, identitas, bahkan cara beragama.
Baca Juga:
KH Asep Saifuddin Chalim Didukung PMII Jatim Jadi Rais Aam PBNU di Muktamar 2026Di titik ini, dakwah tidak lagi cukup dipahami sebagai seruan. Tidak cukup hanya mengatakan "ayo ngaji", "ayo ke masjid", atau "jangan ikut arus pergaulan buruk".
Seruan tetap penting, tetapi Gen Z membutuhkan lebih dari itu. Mereka membutuhkan pendampingan, percakapan, keteladanan, literasi digital, ruang berkarya, dan pemberdayaan sosial-ekonomi.
Masalahnya, anak muda tidak selalu menjauh dari agama. Banyak dari mereka justru sedang mencari pegangan.
Mereka ingin memahami hidup, masa depan, pekerjaan, relasi, kesehatan mental, dosa, makna, dan Tuhan.
Baca Juga:
Hasil Muskercab II PCNU Jombang: Muktamar Ke-35 NU Harus Bersih dan Berintegritas!Hanya saja, jawaban tercepat sering kali bukan datang dari komunitas keagamaan yang sabar mendampingi, melainkan dari algoritma yang agresif menyodorkan potongan video, kutipan pendek, dan figur populer.
Di sinilah tantangan NU menjadi sangat penting. NU memiliki modal besar: pesantren, sanad keilmuan, kiai, nyai, tradisi bahtsul masail, amaliah sosial, dan kultur keberagaman yang ramah.
Tetapi modal besar itu perlu diterjemahkan ke dalam bahasa zaman. Sanad tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan internal. Ia harus hadir sebagai jawaban atas kebingungan anak muda yang setiap hari berhadapan dengan otoritas keagamaan instan di media sosial. (*)
*) Tegar Herlambang adalah praktisi teknologi yang menaruh perhatian pada isu publik, transformasi digital, dan perubahan sosial.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)