KETIK, SURABAYA – Air ketuban selama ini dikenal sebagai lingkungan paling aman bagi janin. Namun, temuan terbaru menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Melalui unggahan Instagram @ecoton.id pada 23 Februari 2026, diungkap bahwa air ketuban telah terkontaminasi mikroplastik.
Penelitian yang dilakukan oleh ECOTON bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga serta laboratorium FTIR Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya menemukan bahwa seluruh sampel air ketuban dari 42 ibu melahirkan mengandung mikroplastik. Hasil ini menandakan bahwa paparan mikroplastik telah terjadi secara luas, bahkan sejak fase awal kehidupan manusia di dalam kandungan.
Dari hasil penelitian tersebut, sekitar 40,5 persen partikel mikroplastik yang ditemukan didominasi oleh jenis polyethylene (PE). Material ini umum digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, seperti kantong plastik, botol minuman, kemasan makanan, gelas sekali pakai, hingga wadah berbahan mika.
Tingginya penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu faktor utama masuknya mikroplastik ke dalam tubuh manusia, termasuk pada ibu hamil.
Keberadaan mikroplastik di dalam air ketuban bukan sekadar temuan biasa, melainkan sinyal serius bagi kesehatan janin. Lestari Sudaryanti, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa senyawa kimia yang terkandung dalam plastic, berpotensi mengganggu sistem hormon, khususnya pada perempuan.
Baca Juga:
Terapkan Ilmu Enterpreneurship, Kemenkes Luncurkan Program Transformasi KesehatanGangguan hormonal tersebut dapat berdampak pada proses tumbuh kembang janin, sehingga temuan mikroplastik dalam air ketuban menjadi peringatan penting akan risiko jangka panjang yang mungkin muncul.
“Mikroplastik di air ketuban akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak. Perempuan sangat dipengaruhi oleh hormon, sementara senyawa kimia dalam plastik seperti phthalates, BPA, PAHs dapat mengganggu hormon wanita. Temuan mikroplastik di dalam air ketuban menjadi alarm karena jika dibiarkan akan menemukan banyak masalah gangguan pada tumbuh kembang anak,” ucapnya.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium ecoton. Disebutkan bahwa keberadaan mikroplastik berkaitan erat dengan peningkatan kadar Malondialdehyde (MDA), yaitu indikator peradangan dalam tubuh. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan janin dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan sejak dalam kandungan.
“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban berdampak langsung pada pertumbuhan bayi. Ada kolerasi kuat antara keberadaan partikel plastik dengan peningkatan Malodialdehide (MDA), yaitu penanda peradangan yang bisa mengganggu perkembangan janin,” ucap Rafika Aprilianti, kepala laboratorium ECOTON.
Lebih dari 16.000 bahan kimia telah teridentifikasi dalam produk plastik. Ribuan di antaranya diketahui berbahaya, dan sekitar 4.219 bahan diklasifikasikan berpotensi membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan. Fakta ini semakin memperkuat kekhawatiran terhadap dampak paparan plastik dalam jangka panjang.
Paparan mikroplastik pada janin dapat meningkat seiring intensitas penggunaan plastik sekali pakai oleh ibu hamil. Ketika partikel mikroplastik masuk ke dalam rahim, dampak yang ditimbulkan tidak dapat dianggap ringan. Mikroplastik berpotensi memicu stres pada sel, menyebabkan peradangan, merusak bahkan mematikan sel, serta mengganggu fungsi plasenta.
Plasenta memiliki peran vital sebagai jalur utama penyaluran oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Gangguan pada organ ini dapat menimbulkan berbagai risiko serius, seperti terhambatnya pertumbuhan janin, meningkatnya kemungkinan terjadinya preeklamsia (tekanan darah tinggi pada ibu), hingga kelahiran prematur.
Oleh karena itu, temuan mengenai mikroplastik dalam air ketuban menjadi pengingat penting untuk lebih bijak dalam penggunaan plastik, terutama selama masa kehamilan. (*)