KETIK, SURABAYA – Program revitalisasi Kota Lama yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya untuk menarik wisatawan rupanya belum memberikan dampak ekonomi merata bagi pedagang kecil di sekitarnya.

Salah satunya "Warung Sumur" yang merupakan tempat makan sederhana di belakang hotel sekitar kawasan Kota Lama.

Ini membuktikan bahwa perputaran ekonomi tetap bergantung pada pekerja lokal, bukan dari lonjakan pengunjung yang datang.

Pemilik Warung Sumur mengungkapkan bahwa ramainya anak muda yang datang ke Kota Lama tidak berbanding lurus dengan jumlah pembeli di warungnya.

Baca Juga:
RM Padang Kaki Lima di Emperan Surabaya Ini Tak Kalah dari Restoran Garuda di Jakarta, Wajib Coba!

“Kalau pengunjung (wisatawan) itu jarang. Di jalan-jalan, ada sih yang beli,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa suasana keramian di daerah wisata ini mempunyai masa waktu dan hanya terasa kuat pada bulan awal revitalisasi dan dan even-even tertentu.

“Awal-awalnya satu bulan, tiga bulanan lah, itu ramai. Sekarang tinggal malam Minggu atau malam Senin itu pasti ramai, berdasarkan tren,” ucap dia.

Justru pelanggan setia yang menjaga Warung Sumur tetap ada adalah para kelompok pekerja di sekitar kawasan tersebut, mulai dari pegawai kantoran, petugas kebersihan hingga staf Perbankan.

Baca Juga:
RPH Surabaya Optimalkan Layanan di Tengah Kenaikan Harga Sapi dan BBM

Fakta ini menegaskan bahwa perputaran ekonomi yang ada terjadi bukan dari penikmat tata kota, melainkan dari para pekerja sekitar.

“Mulai dulu zaman belum dibangun ini, ya pembeli dari kantor-kantor ini,” tambahnya.

Warung Sumur berlokasi di sudut bangunan tua yang dulunya berfungsi sebagai tempat transit cukai.

Tempat ini diapit oleh gedung Perbankan dan hote. Depannya terpasang spanduk kuning terang dan menu masakan rumahan.

Meskipun area di sekelilingnya terus bersolek dan dikepung deretan kafe modern, pihak pemilik enggan mengubah atau merelokasi tempatnya. Ia memilih bertahan dengan fungsi aslinya sebagai "ruang hidup" bagi para pekerja di kawasan Kota Lama. (*)